FAO: Harga Pangan di Asia Masih Tinggi Meski Ada Penurunan

  • Daniel Schearf

Di kawasan Asia-Pasifik meskipun kenaikan produksi beras dan gandum mendorong penurunan harga, FAO mengatakan harga pangan di Asia tetap tinggi.

Harga pangan dunia mencapai titik tertinggi dalam bulan Februari ketika harga minyak mentah naik akibat ketidakstabilan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara.

FAO mengatakan harga eceran gandum dan beras di Asia turun sedikit dalam bulan April, penurunan pertama dalam sembilan bulan. Menurut FAO, harga beras, makanan pokok di Asia, turun dua persen di Kamboja dan Sri Lanka, dan sekitar setengah persen di Bangladesh. Sementara di India, harga gandum turun tujuh persen.

Tetapi, FAO mengaitkan turunnya harga pangan dengan sedikit turunnya harga minyak mentah.

Meskipun harga turun di sebagian tempat, harga beras dari tahun lalu masih lebih tinggi 29 persen di Bangladesh, 25 persen di Tiongkok, dan 40 persen di Vietnam dan Laos.

Wakil FAO untuk kawasan Asia-Pasifik, Hiroyuki Konuma, mengatakan kepada wartawan hari Rabu bahwa harga pangan di seluruh kawasan itu tetap tinggi dan kelompok miskin yang paling terkena dampaknya.

“Kenaikan harga eceran komoditi pangan, khususnya makanan pokok seperti beras dan gandum, berdampak buruk terhadap kelompok miskin yang membelanjakan 70 persen pendapatan mereka untuk pangan,” ujarnya.

Harga pangan dunia mencapai titik tertinggi dalam bulan Februari ketika harga minyak mentah naik akibat ketidakstabilan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Harga minyak sangat terkait erat dengan harga pangan karena faktor transportasi dan biaya produksi.

Konuma mengatakan negara-negara perlu segera mengambil kebijakan untuk mencegah terulangnya krisis harga pangan tahun 2008 ketika harga sebagian makanan pokok dua kali lipat dalam beberapa bulan. Ia menyarankan negara-negara agar membentuk jarring keamanan sosial bagi kelompok miskin dan cadangan pangan darurat.

Ia mengatakan, “Memperbaiki ketersediaan pangan dan informasi pasar, karena kedua hal itu adalah faktor-faktor yang menciptakan spekulasi yang tidak perlu dan juga mendorong pembelian secara borongan karena panik.”

FAO memperkirakan ada sekitar dua persen kenaikan produksi beras tahun 2011, dan sedikit penurunan dalam produksi gandum.

Bank Dunia mengatakan sejak Oktober kenaikan harga pangan mendorong lebih dari 40 juta orang masuk ke dalam kategori miskin parah.