DPR Setujui Keanggotaan Indonesia di Kemitraan Ekonomi yang Didukung China

Pelantikan anggota DPR RI pada 2019 sebagai ilustrasi. DPR pada Selasa (30/8) menyetujui RUU yang memperkokoh keanggotaan Indonesia dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang didukung China. (Foto: AFP)

DPR pada hari Selasa (30/8) menyetujui RUU yang memperkokoh keanggotaan Indonesia dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang didukung China, dan menjadikannya negara Asia Tenggara terbaru yang bergabung dengan blok perdagangan terbesar di dunia.

DPR juga meratifikasi pakta perdagangan bilateral dengan Korea Selatan, dengan harapan dapat menarik investasi untuk mengembangkan industri kendaraan listrik dan baterai di negara Asia Tenggara.

Zulkifli Hasan (Foto: Reuters).

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan RCEP akan meningkatkan perdagangan, investasi langsung dan meningkatkan pertumbuhan PDB negara sebesar 0,07 persen.

"Kami menggambarkan perjanjian ini sebagai jalan tol untuk memasuki pasar global, dan sudah saatnya Indonesia menyerbu pasar internasional," katanya di hadapan para anggota DPR.

RCEP, yang dipandang sebagai alternatif dari Perjanjian Komprehensif dan Progresif yang dipimpin AS untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP), mencakup hampir sepertiga populasi dunia dan sekitar 30% dari produk domestik brutonya. Kemitraan itu awalnya disepakati oleh para pemimpin 15 negara Asia-Pasifik pada November 2020.

BACA JUGA: Tingkatkan Pengaruh Ekonomi, China Melamar Kemitraan Trans-Pasifik

Perjanjian itu, yang tidak termasuk Amerika Serikat, mulai berlaku pada 1 Januari tahun ini setelah tujuh negara di Asia Tenggara, serta Australia, China, Jepang, dan Selandia Baru meratifikasi pakta tersebut tahun lalu.

Sementara itu di bawah perjanjian dengan Korea Selatan, Jakarta dan Seoul masing-masing akan menghapus tarif lebih dari 92% dan 95% komoditas yang diperdagangkan. Dalam sebuah pernyataan setelah penandatanganan kesepakatan pada tahun 2020, Kementerian Perdagangan Indonesia mengatakan Indonesia akan memberikan tarif preferensial untuk mendukung investasi Korea di berbagai bidang mulai dari automotif hingga pakaian jadi.

Perusahaan-perusahaan Korea Selatan seperti Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution saat ini merupakan dua investor utama di industri kendaraan listrik dan baterai di Tanah Air karena ingin memanfaatkan cadangan nikel Indonesia yang kaya. [ab/uh]