Bertempur dengan ISIS, Pembom Bunuh Diri dari Indonesia Tewas

Seorang perempuan melepaskan burung merpati simbol perdamaian dalam demonstrasi menolak kelompok Negara Islam (ISIS) di Jakarta, September 2014. (AP/Tatan Syuflana)

Kelompok pemantau SITE dan sebuah laman jihadis mengatakan seorang warga Indonesia mengemudikan mobil berisi bahan peledak menuju markas militer di luar kota Tikrit.

Seorang pembom bunuh diri dari Indonesia tewas saat bertempur dengan organisasi Negara Islam (ISIS) di Irak, menurut sebuah kelompok pemantauan Selasa (14/10), yang memicu kekhawatiran baru dari pemerintah yang takut ISIS melahirkan generasi baru radikal.

Pembom tersebut diyakini telah tewas dalam sebuah serangan akhir pekan di Irak, dan polisi menduga lima orang Indonesia telah tewas tahun ini karena berperang bersama kelompok-kelompok jihadis.

Laporan-laporan mengenai warga asing dari berbagai negara yang pergi berperang dengan ISIS, yang menguasai sejumlah besar wilayah di Irak dan Suriah, telah memunculkan ketakutan bahwa mereka dapat kembali ke negara asal dan meluncurkan serangan.

Pihak berwenang di Indonesia memperkirakan bahwa sekitar 60 warga Indonesia telah pergi ke Timur Tengah untuk berperang dengan ISIS namun analis mengatakan jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi, mencapai 200 orang.

Dalam dugaan kematian yang terbaru, kelompok pemantau SITE dan sebuah laman jihadis di Indonesia mengatakan seorang warga Indonesia mengemudikan mobil berisi bahan peledak menuju markas militer di luar kota Tikrit, sebelah utara Baghdad, Sabtu (11/10).

Laman tersebut mengidentifikasinya sebagai Hanzhalah Al-Indunisi, meski para analis mengatakan itu nama palsu.

Foto-foto yang dikirim SITE, yang diunggah oleh laman terkait ISIS, menunjukkan terduga penyerang membaca Quran dan gumpalan asap setelah mobil itu dikendarai menuju markas militer.

Ini merupakan kasus dugaan kedua orang Indonesia menjadi pembom bunuh diri saat berperang dengan militan-militan ISIS di Irak tahun ini. Media lokal melaporkan kasus pertama Februari.

Juru bicara Kepolisian Republik Indonesia, Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan pihak berwenang masih mencoba mengukuhkan rincian insiden tersebut dan melakukan verifikasi keterlibatan seorang warga Indonesia. Namun jika dikukuhkan, ia mengatakan hal itu "serius."

"Kami telah melarang orang-orang untuk pergi ke sana berperang, namun mereka bersikeras pergi," ujarnya, memicu pada larangan resmi untuk mendukung jihadis ISIS yang diumumkan beberapa bulan lalu. (AFP)