AS, NATO Prihatin Peningkatan Militer Rusia di Suriah

Menlu AS John Kerry (kiri) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov (foto: dok). Kerry membahas isu kehadiran militer Rusia di Suriah melalui telepon dengan Menlu Rusia Lavrov.

Amerika Serikat dan NATO menyatakan keprihatinan terkait laporan mengenai meningkatnya kehadiran militer Rusia di Suriah.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan Amerika Kamis (10/9) menyatakan kepada VOA bahwa Rusia telah mengirim pasokan militer ke Suriah, dan menyebut kegiatan semacam itu “tidak membantu.”

Jurubicara Departemen Luar Negeri Amerika John Kirby mengatakan kepada wartawan bahwa ia tidak bisa mengukuhkan laporan penambahan kekuatan militer Rusia itu, tetapi ia menyatakan niat Rusia di sana tidak jelas. Ia mengatakan Menteri Luar Negeri John Kerry membahas isu tersebut melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Kirby mengatakan, Kerry menegaskan kembali keprihatinan Amerika mengenai laporan aktivitas militer Rusia di Suriah dan menjelaskan pandangan Amerika bahwa jika laporan itu benar, hal tersebut akan mendorong kekerasan yang lebih besar dan instabilitas di Suriah.

Juru bicara Gedung Putih Eric Schultz menyatakan keprihatinan serupa dalam pernyataannya kepada wartawan hari Rabu.

“Kami jelaskan bahwa tidak sepatutnya ada pihak, termasuk Rusia, yang memberikan dukungan apapun untuk rezim Assad,” kata Schultz.

Di Praha, Sekjen NATO Jens Stoltenberg menyatakan keprihatinan serupa mengenai laporan pengerahan personel militer dan pesawat Rusia di Suriah.

“Ini tidak akan membantu menyelesaikan konflik,” kata Stoltenberg. "Menurut saya sekarang ini penting sekali untuk mendukung semua upaya mencari solusi politik bagi konflik di Suriah.”

Jurubicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengemukakan dalam suatu pernyataan hari Rabu bahwa “para pakar militer Rusia” berada di Suriah untuk membantu militer negara itu menguasai penggunaan senjata Rusia dan peralatan lainnya.