Aktor Keturunan Asia Jarang Tampil di Film Top Hollywood

Seorang pria berjalan melewati poster film "Mulan" di Beijing, 11 September 2020. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Hasil penelitian baru mendapati bahwa jarang sekali aktor keturunan Asia atau Kepulauan Pasifik yang mendapat peran utama di film layar lebar.

Di luar film-film hit yang dibintangi aktor Dwayne Johnson, ternyata film-film paling populer di Hollywood jarang sekali menampilkan aktor keturunan Asia atau dari Kepulauan Pasifik (API) sebagai pemeran utama di film layar lebar. Ini merupakan hasil penelitian akademik yang dirilis Selasa (18/5).

Temuan itu menunjukkan “epidemi limunan atau ketidaktampakan” aktor API dalam film-film yang dirilis dari tahun 2007 hingga 2019. Kajian ini dilakukan oleh Annenberg Inclusion Initiative di University of Southern California, pendirinya, Stacy L. Smith dan pakar sosiologi Nancy Wang Yuen.

Mereka juga mengatakan bahwa penggambaran yang tidak memadai dan stereotipikal mungkin telah turut menyebabkan beberapa insiden kekerasan dan pelecehan belakangan ini terhadap warga keturunan Asia di Amerika Serikat.

Sekitar 7,1 persen populasi Amerika mengidentifikasi diri sebagai keturunan Asia atau Kepulauan Pasifik. Di 1.300 film berpendapatan tertinggi selama periode kajian, hanya 3,4 persen pemeran utama dimainkan oleh para aktor API, kata para peneliti.

Dwayne Johnson menghadiri pemutaran perdana film "Jumanji: The Next Level" di Grand Rex di Paris, Perancis, 3 Desember 2019. (REUTERS / Benoit Tessier / File Photo)

Dari 44 film dengan para aktor API yang menjadi pemeran utama, 14 di antaranya dibintangi oleh Dwayne Johnson, mantan pegulat yang dikenal berkat film-filmnya, "Fast & Furious" dan "Jumanji". Ibu Johnson adalah orang Samoa Amerika.

Enam film menampilkan sosok perempuan API yang memainkan peran utama, kata penelitian itu.

Laporan baru tersebut menambah hasil penelitian lainnya yang mendapati kurang terwakilinya sosok perempuan, warga kulit berwarna dan LGBTQ dalam tayangan film dan televisi. Merespons hal tersebut, studio-studio Hollywood telah berjanji akan meningkatkan keberagaman orang-orang di depan dan di belakang kamera.

Film-film terkenal belakangan ini yang menerapkan hal itu di antaranya film komedi romantis produksi tahun 2018, "Crazy Rich Asians" dan film aksi "Mulan". Kedua film ini menggunakan banyak sekali pemeran keturunan Asia.

Pemeran dan kru "Crazy Rich Asians" berpose di belakang panggung dengan penghargaan mereka sebagai pemenang "Film Komedi Terbaik", Penghargaan Pilihan Kritikus ke-24 di Santa Monica, California, AS, 13 Januari 2019. (REUTERS / Danny Moloshok)

Meskipun penelitian terbaru mendapati kurangnya sosok keturunan API, para peneliti juga mengkritik cara penggambaran sebagian besar peran mereka.

Enam puluh tujuh persen sosok API ditampilkan “terus menerus sebagai orang asing,” ditonjolkan seksualitasnya secara berlebih-lebihan, menjadi sasaran cercaan atau hinaan rasial, atau dimasukkan ke stereotip lainnya, kata para peneliti.

“Media massa merupakan satu faktor yang dapat berkontribusi pada penyerangan terhadap komunitas ini,” kata Smith. “Sewaktu penggambaran ini menghapus, merendahkan, atau menghina komunitas API, konsekuensinya akan buruk sekali. Tanpa ada niat dan intervensi, kecenderungan ini kami amati akan berlanjut.”

Penelitian ini didanai oleh Amazon Studios dan UTA Foundation. [uh/ab]