Menlu Tillerson Bela Upayanya untuk Rombak Deplu AS

  • Cindy Saine

Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson (foto: dok).

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson membela upayanya untuk "merombak" Departemen Luar Negeri, dengan mengatakan ini adalah proses yang dipimpin oleh karyawan untuk membuat angkatan kerja lebih efektif, tanpa tujuan akhir yang telah ditentukan sebelumnya.

Mantan pejabat dan pakar kebijakan luar negeri mengungkapkan kekhawatiran bahwa pemerintahan Trump berencana mengikis pentingnya demokrasi dan hak asasi manusia dalam kebijakan luar negeri AS.

Rex Tillerson mendapat sambutan hangat ketika tiba di Departemen Luar Negeri enam bulan lalu. Namun proposal pemotongan anggaran, kosongnya sejumlah jabatan tinggi dan pembicaraan tentang "perombakan" telah membuat banyak dari 36.000 pegawai Departemen Luar Negeri tersebut merasa cemas. Tillerson membela rencana restrukturisasinya.

"Orang-orang yang berhubungan dengan saya bersemangat dengan perombakan ini, mereka sangat gembira karena berharap mendapatkan bantuan dalam beberapa bidang yang menyulitkan mereka sejak lama, dan saya pikir mereka mulai mengerti bahwa misi Departemen Luar Negeri adalah untuk memimpin kebijakan luar negeri Amerika, menciptakan kondisi untuk AS yang lebih baik dan lebih aman, AS yang lebih makmur, dan kita melakukannya di dalam negeri, kita melakukannya di luar negeri. Misi itu tidak berubah."

Namun, laporan sebuah pernyataan misi baru yang beredar telah memicu kekhawatiran sebagian kalangan karena tidak menyebut Departemen Luar Negeri berupaya mempromosikan demokrasi dan keadilan di seluruh dunia.

Mantan Duta Besar Laura Kennedy yang bertugas di Departemen Luar Negeri selama hampir 40 tahun mengatakan, "Tidak mungkin untuk memisahkan kebijakan luar negeri kita dengan demokrasi dan keadilan. Ini adalah inti dari siapa kita sebagai bangsa. Prinsip-prinsip ini bermula pada berdirinya negara kita, pembentukan Departemen Luar Negeri sebagai kementerian kabinet pertama. Jadi saya tidak bisa memahami bahwa kita mempertimbangkan untuk menghapusnya."

Laporan lain menuduh Tillerson tidak memanfaatkan uang yang telah disetujui oleh Kongres untuk Global Engagement Center atau Pusat Keterlibatan Global untuk melawan propaganda ISIS dan Rusia.

"Melawan propaganda ISIS? Maksud saya, yang benar saja! Ini paling utama, atau seharusnya berada di urutan teratas daftar prioritas kita. Dan disinformasi Rusia bukanlah hal yang baru, demikian juga usaha kita untuk memproyeksikan pesan kita sendiri dan melawan hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan kita sendiri, kita selalu melakukannya," tambah Laura.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert mengatakan Global Engagement Center masih giat beroperasi, namun sebagai mantan pengusaha, Menlu Tillerson sedang mencari cara-cara menggunakan uang seefektif mungkin. [as/al]