Tautan-tautan Akses

Presiden Terpilih Zambia Hadapi Tantangan Ekonomi 


Presiden Zambia yang baru terpilih, Hakainde Hichilema memberikan keterangan pers di rumahnya di Lusaka (16/8).

Presiden Zambia yang baru terpilih, Hakainde Hichilema, berencana untuk memaparkan serangkaian kebijakan ekonomi guna mengatasi masalah berat ekonomi negara kaya mineral itu setelah menjabat minggu depan.

Hichilema, salah satu pengusaha paling sukses Zambia dan pemimpin partai oposisi, Persatuan Untuk Pembangunan Nasional, menyampaikan pengumuman itu dalam jumpa pers Selasa (17/8), di rumahnya di distrik Kanyama di ibu kota, Lusaka.

Kandidat presiden selama enam kali itu, Senin lalu (16/8) dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden, mengakhiri enam tahun kekuasaan Presiden Edgar Lungu.

Hichilema menang telak, mengumpulkan 2,8 juta suara — melewati ambang batas 50% lebih suara yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilu. Lungu, yang berada di urutan kedua, meraih 1,8 juta suara.

Lungu, Senin mengaku kalah dan mengatakan akan mengupayakan transisi kekuasaan yang damai. Beberapa hari sebelumnya, ia mengatakan pemilihan itu tidak bebas dan adil, dengan alasan adanya kecurangan dan kekerasan yang menargetkan perwakilannya di beberapa tempat pemungutan suara.

Hichilema mengatakan setelah dilantik, ia ingin fokus untuk menggerakkan ekonomi, mengatasi utang luar negeri, mengatasi inflasi, menciptakan lapangan kerja bagi kaum muda dan menumbuhkan kepercayaan investor internasional.

"Begitu kita memulihkan supremasi hukum dan ketertiban, itu merupakan bahan untuk pembangunan ekonomi. Begitu kita memulihkan supremasi hukum, kita akan menyaksikan lebih banyak investasi, dan lebih banyak aktivitas ekonomi. Kita akan memulainya dari sana."

Zambia sebagai salah satu negara yang paling banyak berhutang di dunia menghadapi tantangan ekonomi sangat besar setelah tahun lalu gagal membayar utang negaranya, ditambah pandemi COVID-19 yang memperburuk dampaknya.

Laporan Bank Pembangunan Afrika menunjukkan ekonomi negara itu terjerumus ke dalam resesi parah karena pandemi virus corona global, berkontraksi hampir 5%. Lembaga ini juga memperingatkan pemerintah untuk berhenti menambah utang luar negeri dan mengekang pengeluaran publik yang meningkat tajam untuk mendorong ekonominya yang tersungkur. [my/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG