Tautan-tautan Akses

Pemimpin Hezbollah di Lebanon Akan Dukung Kabinet Baru


Pemimpin Hezbollah di Lebanon, Sayyed Hassan Nasrallah, tampak di layar saat perayaan hari Ashura di Beirut, Lebanon 10 September 2019. (Foto: Aziz Taher/Reuters)
Pemimpin Hezbollah di Lebanon, Sayyed Hassan Nasrallah, tampak di layar saat perayaan hari Ashura di Beirut, Lebanon 10 September 2019. (Foto: Aziz Taher/Reuters)

Pemimpin Hezbollah Sayyed Hassan Nasrallah, Kamis (18/3), menyatakan akan mendukung kabinet Lebanon yang baru jika diumumkan pada Senin mendatang (22/3). Namun, ia menambahkan pemerintah yang hanya terdiri dari teknokrat itu tidak akan berlangsung lama.

Presiden Michel Aoun dijadwalkan bertemu dengan calon Perdana Menteri Saad al-Hariri minggu depan.

Kedua politisi ini telah bertikai selama berbulan-bulan sementara negara itu semakin terperosok ke dalam krisis finansial.

Aoun, sekutu Hezbollah yang digolongkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika.

“Kalau calon perdana menteri setuju dengan presiden hari Senin, sebuah pemerintahan terdiri dari sejumlah pakar, maka kami akan setuju juga,” kata Nasrallah dalam pidato di televisi.

“Saya kini menyampaikan kepada semua bahwa sebuah pemerintah terdiri dari teknokrat dan politisi yang tidak mengijinkan siapa saja melepaskan tanggung jawab, adalah lebih baik,” katanya.

Kehancuran ekonomi Lebanon menjadi tantangan terbesar terhadap stabilitas negara itu sejak perang saudara dari 1975 hingga 1990.

Para politisi Lebanon sejak akhir 2019 gagal menyepakati sebuah rencana penyelamatan untuk mencairkan dana di luar negeri, yang sangat dibutuhkan Lebanon.

Hariri bertemu dengan Aoun sebelumnya pada Kamis (18/3) setelah terjadi pertikaian politik yang memanas pada Rabu lalu kemudian menyatakan, sebuah kabinet baru yang akan melibatkan kembali Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) satu-satunya solusi untuk Lebanon.

Nasrallah menegaskan sebuah pemerintahan yang berusaha melakukan reformasi yang disyaratkan oleh IMF akan sulit mengatasi isu-isu seperti pencabutan subsidi.

Krisis finansial di negara Timur Tengah itu telah mengakibatkan pound Lebanon anjlok 90 persen sehingga banyak warganya jatuh dalam kemiskinan dan membahayakan impor karena semakin langkanya dolar. [jm/mg]

XS
SM
MD
LG