Tautan-tautan Akses

Latihan Militer China Jawab Tekanan AL yang Meningkat dari Barat


Latihan militer Angkatan Laut China di Laut Cina Selatan, 2 Januari 2017. (Foto: dok).

China menyelenggarakan satu bulan latihan militer di laut yang disengketakan untuk menunjukkan kepada negara-negara kuat Barat bahwa mereka tidak dapat mengontrol wilayah laut itu, dan bahwa negara-negara Asia lainnya yang mengklaim wilayah tersebut harus menghindar dari mengandalkan bantuan AS dalam sengketa kedaulatan di sana, kata para analis di kawasan tersebut.

Badan Keselamatan Maritim di Beijing bulan lalu mengumumkan bahwa latihan itu akan berlangsung pada 1 hingga 31 Maret di Laut China Selatan. Latihan akan berlangsung di “zona melingkar” dengan radius lima kilometer di sebelah barat Semenanjung Leizhou, China, antara Hong Kong dan Vietnam, sebut pemerintah dalam situsnya di Internet.

Para pakar meyakini bahwa latihan yang berlangsung lama tidak seperti biasanya itu merupakan tanggapan atas 10 pelayaran kapal-kapal Angkatan Laut AS dalam “Operasi Kebebasan Navigasi” yang melalui laut seluas 3,5 juta kilometer persegi tersebut tahun lalu dan satu lainnya pada bulan lalu.

Mereka menyatakan para pejabat China merasakan latihan itu sangat mendesak karena Perancis, Inggris dan kemungkinan sekutu-sekutu Barat lainnya juga mengirim kapal. Pemerintah negara-negara Barat tidak mengklaim wilayah laut itu tetapi khawatir China telah bertindak terlalu jauh dalam meluaskan jangkauan maritimnya, yang membuat khawatir warga negara mereka sendiri. .

“Tindakan saling balas antara kedua pihak dan pihak lain agak semakin sering sekarang ini,” kata Oh Ei Sun, peneliti senior khusus Asia Tenggara di Singapore Institute of International Affairs. Menurut Oh, akan turut campurnya negara-negara Eropa bukanlah hal biasa.

Kapal fregat rudal China Yuncheng meluncurkan rudal anti-kapal saat latihan militer di perairan dekat Pulau Hainan dan Kepulauan Paracel China selatan, 8 Juli 2016. (Foto: Kantor Berita Xinhua).
Kapal fregat rudal China Yuncheng meluncurkan rudal anti-kapal saat latihan militer di perairan dekat Pulau Hainan dan Kepulauan Paracel China selatan, 8 Juli 2016. (Foto: Kantor Berita Xinhua).

Laut yang kaya ikan dan cadangan bahan bakar fosil bawah laut ini membentang dari Hong Kong hingga Kalimantan. Brunei, China, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam mengklaim sebagian atau seluruh wilayah itu. China memimpin dalam sengketa tersebut dengan membuat pulau-pulau buatan kecil dan menempatkan peralatan militer di beberapa pulau itu.

China mengklaim sekitar 90 persen wilayah laut itu berdasarkan catatan sejarah penggunaannya. Kapal-kapal penjaga pantai, kapal-kapal survei dan nelayan China telah membuat khawatir Malaysia, Filipina dan Vietnam karena berlayar mendekati wilayah pantai negara-negara tersebut. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG