Tautan-tautan Akses

Guru di India Ubah Jalan Jadi Ruang Kelas untuk Anak-Anak Desa


Anak-anak India belajar di ruang terbuka di tengah pandemi COVID-19 di pinggiran New Delhi, India. (foto: ilustrasi - Anjana Pasricha/VOA)

Seorang guru India mengubah sebuah desa terpencil di India Timur dengan mengecat tembok-tembok dan menjadikannya sebagai papan tulis serta memberi pelajaran kepada murid-murid di jalan-jalan. Ini ia maksudkan untuk membantu mengatasi berbagai tantangan penerapan social distancing serta kurangnya internet dan gawai elektronik.

Mengajarkan lagu anak-anak, hingga mengajar tentang penyakit melalui mikroskop. Itulah yang dilakukan Deep Narayan Nayak dalam membantu murid-murid di desa itu yang terpaksa putus sekolah karena lockdown terkait pandemi COVID-19, untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam pendidikan.

Nayak, guru SD Tilka Majhi Adibasi, mengatakan, “Kami mengajari anak-anak itu semuanya, bagaimana menjaga jarak sosial, bagaimana mengenakan masker, apa pentingnya masker dan mencuci tangan. Anak-anak tampil ke depan dan berpartisipasi dalam prakarsa ini dan mereka juga mendidik orang-orang lain.”

Deep Narayan Nayak, mengajar anak-anak di alam terbuka di tengah keterbatasan teknologi dan fasilitas, selama pandemi COVID-19 di Desa Joba Attpara, Benggala barat, India (13/9).
Deep Narayan Nayak, mengajar anak-anak di alam terbuka di tengah keterbatasan teknologi dan fasilitas, selama pandemi COVID-19 di Desa Joba Attpara, Benggala barat, India (13/9).

India memerintahkan sekolah-sekolah ditutup pada Maret tahun lalu untuk mengatasi penyebaran virus corona. Sementara banyak anak di kota-kota mampu belajar melalui kelas-kelas online, sebagian seperti anak-anak di desa Paschim Bardhaman ini melewati waktu berbulan-bulan tanpa sekalipun membuka buku pelajaran sekolah.

Suatu survei terhadap hampir 1.400 murid yang dilakukan pada Agustus lalu oleh sekelompok ilmuwan mendapati bahwa di kawasan perdesaan, hanya 8 persen yang belajar online dengan rutin, 37 persen tidak belajar sama sekali, dan sekitar separuhnya tidak dapat membaca lebih dari beberapa kata saja. Menurut survei itu, sebagian besar orang tua murid menginginkan sekolah-sekolah dibuka kembali sesegera mungkin.

Seorang gadis, yang tidak memiliki akses ke fasilitas internet dan gadget, menggunakan mikroskop saat menghadiri kelas terbuka di luar rumah dengan dindingnya diubah menjadi papan tulis, pasca penutupan sekolah akibat pembatasan terkait COVID-19 di desa Joba Attpara, distrik Paschim Bardhaman, Bengala Barat, India (foto: Reuters).
Seorang gadis, yang tidak memiliki akses ke fasilitas internet dan gadget, menggunakan mikroskop saat menghadiri kelas terbuka di luar rumah dengan dindingnya diubah menjadi papan tulis, pasca penutupan sekolah akibat pembatasan terkait COVID-19 di desa Joba Attpara, distrik Paschim Bardhaman, Bengala Barat, India (foto: Reuters).

Salah satu orang tua murid, Kiran Turi, mengatakan, “Pendidikan bagi anak-anak kami terhenti sejak lockdown diberlakukan. Anak-anak jadi terbiasa keluyuran saja. Guru datang dan mulai mengajar mereka. Sudah dua tahun sejak guru terakhir kalinya mengajar. Guru mengajar murid-murid dan bahkan orang tua murid.”

Alasan bagi tidak belajarnya anak-anak itu beragam, mulai dari mereka tidak memiliki ponsel pintar, konektivitas internet yang buruk, tidak memiliki uang untuk membayar koneksi internet.

Salah seorang murid yang belajar di jalan, Himanti Gauda, mengatakan, “Kami semua datang ke sini untuk belajar. Di sini, kami sangat gembira dapat belajar. Pak guru memberi kami buku, salinan pelajaran, tas, dan buah-buahan.”

Seorang pelajar lainnya, Maundiya Ora, mengemukakan, “Murid-murid yang meninggalkan sekolah karena lockdown telah kembali untuk belajar bersama kami. Rasanya menyenangkan!.”

India bulan lalu menyetujui pemberian vaksin COVID-19 pertama untuk orang-orang berusia 18 tahun ke bawah, meskipun sekarang ini hanya orang-orang dewasa yang diimunisasi. Sementara infeksi baru telah stabil pada angka sekitar 30 ribu per hari dalam beberapa pekan ini, beberapa negara bagian di India telah memulai kelas belajar tatap muka, meskipun kebanyakan adalah untuk kelas-kelas SMP ke atas. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG