Tautan-tautan Akses

Khawatir Peretasan China, Australia Pindahkan Informasi Rahasia di Sydney


China sejajar dengan Rusia, Iran, dan Korea Utara sebagai negara paling aktif dalam kegiatan spionase siber (foto: ilustrasi).
China sejajar dengan Rusia, Iran, dan Korea Utara sebagai negara paling aktif dalam kegiatan spionase siber (foto: ilustrasi).

Australia mengatakan akan memindah informasi rahasia pemerintah dari sebuah pusat data swasta di Sydney setelah sebuah konsorsium China membeli saham mayoritas perusahaan itu. Langkah itu diambil meskipun perusahaan tadi, Global Switch, telah memberikan jaminan keamanan data yang disimpan perusahaan itu.

Global Switch memiliki dua fasilitas data aman di tengah kota Sydney, dan menyimpan arsip rahasia pertahanan dan intelijen pemerintah Australia.

Kepemilikannya berubah bulan Desember setelah perusahaan induknya yang berbasis di Inggris menerima tawaran 3 miliar dolar dari para investor China untuk 49 persen saham perusahaan yang berbasis di Sydney itu. Diantara investor China itu terdapat seorang pengusaha yang memiliki bagian dari perusahaan data terkemuka China, Daily Tech.

Menanggapi perkembangan itu, direktur eksekutif Lembaga Kebijakan Strategis Australia, sebuah think tank bergengsi, Peter Jennings mengatakan sudah selayaknya jika pemerintah Australia merasa khawatir mengenai kapabilitas siber China.

"China sejajar dengan Rusia, Iran, dan Korea Utara sebagai negara paling aktif dalam kegiatan spionase siber. Mereka selalu berusaha mencuri informasi. Saya semakin berpikir bahwa China membangun kapabilitas untuk masuk dan merusak insfrastruktur menggunakan cara-cara siber,” ungkap Peter Jennings.

Pemerintah Australia mengatakan negara itu semakin menjadi target kejahatan dan spionase siber, dan telah memperingatkan bahwa dunia maya selalu menghadapi ancaman.

Sebelumnya tahun ini, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengatakan keamanan siber merupakan garis depan peperangan baru dan ia mengumumkan langkah-langkah baru untuk melindungi demokrasi Australia dari campur tangan negara lain.

Oktober tahun lalu, Canberra mengungkapkan bahwa sebuah negara telah berhasil memasukkan virus ke dalam sistem komputer Biro Meteorologi Australia untuk mencuri dokumen sensitif dan menembus jejaring-jejaring komputer pemerintah lain. Para pejabat tidak mengidentifikasi negara yang dicurigai, tetapi para analis keamanan siber menuding China. [ds]

Recommended

XS
SM
MD
LG