Sabtu, 25 Oktober 2014 Waktu UTC: 17:29

Berita / Indonesia

Warga Tionghoa Indonesia Nikmati Kebebasan Jalankan Tradisi Budaya Leluhur

Bagi warga Tionghoa di Indonesia, kebebasan untuk menjalankan tradisi budaya masih relatif baru. Namun di kota-kota besar, tampak banyak gedung dicat merah untuk memperingati Tahun Baru Imlek.

Anak-anak etnis Tionghoa Indonesia  berdoa di sebuah Klenteng di Jakarta (7/1).
Anak-anak etnis Tionghoa Indonesia berdoa di sebuah Klenteng di Jakarta (7/1).
Kate Lamb
Tidak semua warga Tionghoa mengatakan bisa mempraktekkan kepercayaan mereka secara terbuka.

Adzan, misalnya, tidak identik dengan Tahun Baru Imlek. Tetapi bagi sekelompok kecil warga Tionghoa, adzan jadi identik dengan perayaan “Tahun Ular” ketika dirayakan ala Islam di masjid ini.

“Saya baru pertama kali merayakan Tahun Baru Imlek di sebuah masjid karena saya baru menjadi mualaf bulan September lalu,” ujar Cung.

Itulah pendapat Cung Li Ha yang berusia 27 tahun. Sebagai bagian dari kelompok minoritas Tionghoa, pilihan agama menjadikannya seperti orang aneh di negara mayoritas berpenduduk Muslim ini.

Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, sekitar 9 juta terdiri dari warga Tionghoa – yang kebanyakan beragama Budha, Kristen dan Konghucu. Sedikit sekali yang beralih ke agama Islam.

Cung Li Ha mengatakan masih ada beberapa tantangan besar. Pagi ini misalnya, ia harus berbohong pada keluarganya tentang kemana ia akan pergi.

“Ini sangat sulit karena keluarga Tionghoa umumnya tidak dapat menerima jika anak-anak atau keluarganya beralih menjadi Muslim. Mereka umumnya lebih terbuka terhadap agama Kristen,” ungkap Cung.

Semasa masa kediktatoran Soeharto selama tiga puluh tahun, bahasa dan tradisi budaya Tionghoa ditekan.

Tapi sepuluh tahun terakhir ini warga Tionghoa bisa bebas merayakan Imlek – atau “Tahun Baru Cina” – dengan perayaan yang lebih rinci.

Di Jakarta, hiasan naga Cina berukuran besar digantung di beberapa pusat perbelanjaan dan di kuil-kuil, sementara ribuan jemaat berdoa sambil menyalakan dupa.

Tetapi warga Muslim-Tionghoa tidak suka pamer.

Warga etnis Tionghoa melakukan tarian Naga di Ancol, Jakarta untuk memperingati Tahun Baru Imlek (23/1).Warga etnis Tionghoa melakukan tarian Naga di Ancol, Jakarta untuk memperingati Tahun Baru Imlek (23/1).
x
Warga etnis Tionghoa melakukan tarian Naga di Ancol, Jakarta untuk memperingati Tahun Baru Imlek (23/1).
Warga etnis Tionghoa melakukan tarian Naga di Ancol, Jakarta untuk memperingati Tahun Baru Imlek (23/1).
Dalam komunitas warga Tionghoa ada persepsi bahwa Muslim-Tionghoa telah kehilangan warisan budaya mereka dan bukan lagi warga Tionghoa. Namun, warga Tionghoa yang berada di Masjid Lautze berbeda pendapat.

Ali Karim yang dibesarkan sebagai warga Muslim-Tionghoa mengatakan, penting untuk membedakan tradisi dan agama.

Masjid Lautze adalah satu-satunya masjid yang Jakarta yang punya ciri-ciri khas Tiongkok. Bukannya dihiasi dengan kubah tradisional dan menara, pintu masuk masjid ini dihiasi lampion merah.

Di dalam masjid ada kaligrafi Tiongkok kuno – yang bertuliskan kata-kata “Nabi Muhammad” – tergantung di dinding-dinding, dan sajadah sholat bergambar Mekkah berwarna merah cerah.

Mudhi Astuti yang berusia 46 tahun mengatakan di masjid Lautze ia merasa seperti berada di rumah, meskipun ia bukan warga Tionghoa. Ia mengatakan sekitar seribu warga Tionghoa yang beralih ke agama Islam di masjid Lautze, kebanyakan ditolak oleh keluarga mereka.

Sebagian di antara mereka bahkan meninggalkan pasangan dan anak-anaknya dan beralih ke agama Islam. Tetapi, waktu akan menyembuhkan semua ini – ujarnya – dan kadangkala setelah beberapa tahun mereka kembali membangun hubungan baik dengan keluarga mereka.

Ini merupakan tantangan rumit bagi Cung Li – yang baru saja masuk Islam – dan masih mencoba berhubungan dengan keluarganya. Ia mengatakan khawatir keluarganya tidak bisa menerima agama barunya, tetapi sejauh ini menurutnya perayaan Tahun Baru tidak terlalu berbeda.

“Saya kira ini sama saja. Hanya saja saya tidak pergi ke kuil, dan berdoa di depan meja yang dipenuhi nama-nama nenek moyang. Saya tidak melakukan itu dan saya mencoba untuk tidak makan babi, tetapi saya masih makan kue yang dibuat ibu saya, dan mie. Tetapi selain itu saya berupaya untuk tidak menyentuh makanan yang haram,” ujarnya.

Pada tahun baru ular ini, Cung Li Ha berharap bisa berani memberitahu kedua orang tuanya bahwa ia sudah masuk Islam. Meskipun tambahnya, mereka mungkin sudah tahu.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook