Kamis, 23 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 11:02

Berita / Dunia / Timur Tengah

Warga Gaza Merasa Lega Pada Gencatan Senjata Hari Pertama

Penduduk Jalur Gaza untuk pertama kali dalam minggu ini menikmati berlalunya malam dengan damai setelah gencatan senjata Israel-Hamas.

Pemimpin senior Hamas Ismael Haniyeh mencium anak kepala militer Hamas yang tewas dalam serangan udara Israel. (Foto: AP)
Pemimpin senior Hamas Ismael Haniyeh mencium anak kepala militer Hamas yang tewas dalam serangan udara Israel. (Foto: AP)
UKURAN HURUF - +
Scott Bobb
Kehidupan di Gaza mulai kembali normal Kamis (22/11), hari pertama gencatan senjata antara Israel dan militan Palestina pimpinan Hamas di wilayah itu.

Lebih dari 150 warga Palestina dan lima warga Israel tewas dalam konflik selama delapan hari. Ratusan lainnya luka-luka.

Konflik mengganggu kehidupan sehari-hari di kedua sisi karena sekolah, kantor-kantor dan toko-toko tutup dan orang-orang diperintahkan diam dalam rumah demi keselamatan mereka.

Di pelabuhan kecil, desa nelayan, beberapa kilometer dari kota Gaza, Mifleh Abu Riallah, 34, sedang membongkar tangkapannya berupa ikan-ikan kecil seukuran sarden. Untuk pertama kali ia bisa kembali melaut, meskipun hasilnya sedikit. Ia mengungkapkan, angkatan laut Israel masih belum mengizinkan nelayan Gaza melewati garis batas 2,5 mil laut, atau enam kilometer, dari garis pantai.

Riallah mengatakan, 2,5 mil adalah jarak untuk berenang, bukan untuk menangkap ikan. Jarak yang begitu dekat dengan pantai tidak memungkinkan nelayan menangkap ikan besar. Ia berharap berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, jarak untuk menangkap akan diperpanjang menjadi 20 kilometer seperti dulu.

Israel memberlakukan blokade terhadap Gaza setelah Hamas merebut kekuasaan lima tahun lalu. Blokade itu melumpuhkan perekonomian Gaza dan menghancurkan industri perikanan. Dua-pertiga nelayan berhenti melaut.

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, Israel dan Hamas akan merundingkan pengakhiran blokade itu. Penduduk Gaza berharap itu akan mengakhiri semua pembatasan melaut dan membuka kembali penyeberangan perbatasan darat.

Blokade juga merugikan pertanian. Petani Gaza dilarang bekerja di lahan dalam jarak dua kilometer dari perbatasan. Larangan itu praktis menutup lebih dari seperempat lahan wilayah pertanian.

Israel mengatakan blokade itu untuk melindungi rakyat Israel di dekat perbatasan dari serangan dan mencegah penyelundupan senjata. Menurut rakyat Palestina, blokade untuk menghukum Hamas, yang tidak mengakui Israel dan menyerukan kehancuran negara itu.

Seorang profesor sosiologi pada Islamic University of Gaza, Waleed Shabeir, mengatakan akan butuh waktu lama bagi rakyat Gaza untuk pulih, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis.

Menurut Shabeir, mereka harus mengupayakan jalan keluar dari pengrusakan dan pembunuhan. Mereka harus membangun kembali karena semuanya hancur akibat konflik itu.

Kebanyakan penduduk Gaza ingin kembali ke kehidupan normal, seperti orang lain. Itu akan membutuhkan langkah lebih lanjut, yang mungkin lebih sulit bagi Israel dan Hamas, untuk mengakhiri isolasi ekonomis dan politik terhadap Gaza.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Ofensif Militer Suriah sebagai Alat Negosiasi - Liputan Berita VOA

Amerika Serikat terus mendesak perwakilan pemerintah dan oposisi Suriah untuk bertemu di Jenewa pada Juni mendatang guna mengakhiri perang saudara yang telah dua tahun lebih berkecamuk. Konflik antara kedua pihak diperkirakan telah menewaskan setidaknya delapan puluh ribu warga Suriah dan mengancam stabilitas negara-negara tetangga seperti Lebanon dan Yordania. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Tanda bertuliskan "Tuhan Memberkati Moore" dipasang di gedung teater Warren di Moore, Oklahoma, saat para pekerja memperbaiki bangunan yang rusak karena tornado itu (22/5). (Reuters/Adrees Latif)
  • Bendera Amerika terkulai di jendela yang hancur di rumah keluarga Wayne Osmus di Moore, Oklahoma. Keluarga Osmus bersembunyi di lemari Senin (20/5) setelah angin membuat mereka tidak dapat masuk ke tempat perlindungan badai. (AP/Allen Breed)
  • Charles Taber membuka bungker yang baru dibangun dua minggu lalu, yang menyelamatkan nyawanya dari tornado di Oklahoma City. (Reuters/Rick Wilking)
  • Pegawai perusahaan asuransi Farmers Insurance, Paul Gaipo, melihat mobil-mobil yang rusak karena tornado di sebuah mal yang hancur di Moore, Oklahoma (22/5).
  • Tim pencarian dan penyelamatan dari Tennessee melakukan pencarian di Moore, Oklahoma (22/5).(AP/Charlie Riedel)
  • Susan Kates menyelamatkan barang-barang dari rumah temannya yang hancur karena tornado di Moore, Oklahoma (22/5). (AP/Charlie Riedel)
  • Claudia Clark membersihkan tempat pemakaman di Moore, Oklahoma (22/5).
  • Sisa kamar tidur dari rumah yang hancur karena tornado di Moore, Oklahoma (22/5). (Reuters/Rick Wilking)
  • Rumah-rumah yang hancur karena tornado di Moore, Oklahoma, dilihat dari udara (21/5). (AP/Tony Guiterrez)
Galeri Foto

Galeri Foto Oklahoma Mulai Pemulihan Pasca Bencana

Moore di pinggiran Oklahoma City, negara bagian Oklahoma, memulai tugas berat pemulihan pasca tornado dahsyat yang menyapu kota itu pada 20 Mei.
Lainnya