Minggu, 26 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 03:30

Berita / Gaya Hidup / Kesehatan

Tim Peneliti Inggris Sibak Mekanisme Penularan Kusta

Tim peneliti Inggris telah mengetahui kemungkinan mekanisme penularan kusta yang bisa mengarah ke diagnosis dini dan pengobatan.

Mycobacterium leprae, bakteri penyebab penyakit kusta, menulari sel-sel saraf khusus di lengan dan kaki yang melindungi sinyal listrik dari otak yang dikenal sebagai sel-sel Schwann (foto: dok).
Mycobacterium leprae, bakteri penyebab penyakit kusta, menulari sel-sel saraf khusus di lengan dan kaki yang melindungi sinyal listrik dari otak yang dikenal sebagai sel-sel Schwann (foto: dok).
UKURAN HURUF - +
Jessica Berman
Kusta sudah lama ada, tetapi belum banyak diketahui bagaimana penyakit itu menyebar ke otot-otot dan jaringan lain, hingga menyebabkan kecacatan dan kerusakan.
 
Sejak abad pertengahan sampai abad ke-20, mereka yang tertular kusta diasingkan ke koloni-koloni terpencil, di mana mereka dikucilkan dari penduduk lain karena khawatir penyakit yang menimbulkan cacat pada tubuh itu akan menyebar. Pada tahun 1873 diketahui penyakit itu disebabkan bakteri dan tidak sangat menular. Dengan ditemukannya antibiotik dalam abad ke-20, banyak pasien kusta sembuh sehingga koloni-koloni penderita kusta mulai ditutup.

Namun, sekitar dua hingga tiga juta orang di seluruh dunia tetap cacat akibat otot lemah dan gejala-gejala neurologis meskipun telah diobati. Menurut Anura Rambukkana, pakar biologi sel dan neurobiologi pada Universitas Edinburgh, Skotlandia, sistem kekebalan tubuh terus bereaksi terhadap penularan itu.

Rambukkana memaparkan, "Bakteri itu bisa menyerang, terus menyerang, sejumlah pasien. Sebagian pasien bisa sepenuhnya diobati secara bakteriologis. Tetapi, mereka masih bermasalah, masalah kerusakan saraf, akibat komplikasi."

Tahun 2002, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) melancarkan kampanye global untuk memberantas kusta, yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen. Namun, menurut WHO, lebih dari 228.000 kasus baru kusta terdeteksi di seluruh dunia tahun 2010. Prevalensi global orang yang hidup dengan penyakit itu, menurut pejabat-pejabat kesehatan masyarakat internasional, lebih dari 192.000 orang.

Peneliti tidak tahu persis bagaimana pasien tertular kusta. Menurut Rambukkana, bakteri 'mycobacterium leprae' menulari sel-sel saraf khusus di lengan dan kaki yang melindungi sinyal listrik dari otak yang dikenal sebagai sel-sel Schwann.

Rambukkana mengatakan tampaknya mikroba itu mengubah sebagian gen dalam sel-sel Schwann menjadi sel-sel induk, semacam sel utama yang mampu berubah menjadi berbagai jenis sel khusus.

Peneliti menyuntikkan sel-sel induk itu ke otot-otot tikus percobaan, mengamati cara sel-sel yang dipicu adanya mikroba kusta itu berubah menjadi berbagai jenis sel otot.
"Bakteri-bakteri ini kini dalam otot polos dan otot rangka. Itu benar-benar fenomena yang juga bisa kita lihat pada pasien kusta dalam tahap lebih lanjut. Kita akan melihat bakteri itu tidak hanya menulari saraf, tetapi juga otot-otot," paparnya lagi.

Rambukkana tidak tahu apakah sel-sel utama yang tertular kusta juga berubah menjadi sel-sel kulit, sehingga menyebabkan kecacatan yang menjadi ciri khas penyakit itu. Ia berharap temuan itu memicu dilakukannya tes darah supaya penderita kusta bisa didiagnosis dan diobati dini.

Artikel oleh Anura Rambukkana dan kolega yang memaparkan penelitian mereka tentang kusta diterbitkan dalam jurnal Cell.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Google Glass Picu Kontroversi - VOA untuk Dunia Tekno

Tak ada yang menandingi kecanggihan kacamata Google, yang menghadirkan fungsi ponsel pintar langsung di depan mata Anda. Google Glass, nama kacamata baru Google tersebut, memang belum tersedia luas, tapi sudah menimbulkan berbagai isu seputar etika dan hak privasi. Selengkapnya berikut liputan reporter VOA Ade Astuti.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang laki-laki Irak memakai topeng logam yang biasa digunakan sebagai perangkat penyiksaan pada masa kepemimpinan rezim terguling Saddam Hussein di monumen Shaheed di Baghdad, Irak.
  • Umat Budha membawa lilin-lilin, membentuk lautan api, mengelilingi sebuah patung Budha besar pada hari Raya Waisak, untuk memperangati kelahiran, pencerahan dan wafatnya Sang Budha di kuil di Provinsi Nakhon Pathom di pinggiran kota Bangkok.
  • Dua anak laki-laki bermain kriket di pantai Marina di kota selatan India, Chennai.
  • Sebagian runtuhan jembatan Interstate 5 di Sungai Skagit di Mount Vernon, Washington.
  • Salju menutupi sebuah bangku di Brocken, di pegunungan Harz dekat Schierke, Jerman.
  • Para tentara memberikan penghormatan saat terdengar bunyi alunan terompet mengiringi sebuah pemakaman militer di dekatnya, saat mereka menaruh bendera di makam-makam di Taman Makam Pahlawan Nasional di Arlington, Virginia, 24 Mei 2013.
  • Seorang pengemudi rickshaw, semacam becak di India, tidur di rickshawnya pada suatu siang yang terik di New Delhi, India.
  • Para murid sekolah menengah yang baru lulus melepaskan kegembiraan mereka di air mancur seraya merayakan hari terakhir sekolah di Kiev.
Lainnya