Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 15:49

Berita / Dunia / Eropa

Studi: Orangutan Alami Krisis Paruh Baya

Sebuah studi menunjukkan bahwa seperti halnya manusia, simpanse dan orangutan pun mengalami krisis paruh baya.

Simpanse dan orangutan mengalami krisis paruh baya seperti manusia, ditandai dengan emosi yang labil. (Foto: Dok)
Simpanse dan orangutan mengalami krisis paruh baya seperti manusia, ditandai dengan emosi yang labil. (Foto: Dok)
UKURAN HURUF - +
Sebuah studi menunjukkan bahwa tidak hanya manusia, primata yang lain seperti simpanse dan orangutan juga mengalami krisis separuh baya, ditandai dengan situasi emosi yang labil.

“Kami terkejut ketika data pada hewan-hewan tersebut menunjukkan kurva kebahagiaan yang berbentuk huruf U,” ujar ekonom Andrew Oswald dari Universitas Warwick di Inggris, yang juga salah satu penulis makalah ilmiah yang diterbitkan Senin (19/11) oleh Akademi Sains Nasional AS.

Kurva kebahagiaan berbentuk U dan aspek-aspek kesejahteraan lainnya terdokumentasikan secara lengkap dengan alasan-alasan yang dianggap kontroversial. Sejak 2002, penelitian-penelitian di sekitar 50 negara telah menemukan bahwa tingkat kebahagiaan tinggi pada masa muda, turun di periode paruh baya, dan naik kembali pada usia tua.

Euforia masa muda datang dari harapan-harapan tak terbatas dan kesehatan yang baik, sementara ketenangan dan kepasrahan orang tua mencerminkan “kebijaksanaan yang terakumulasi dan kesaksian terhadap kematian teman dan kerabat, yang membuat Anda lebih menghargai apa yang Anda miliki,” ujar Oswald.

Alasan-alasan turunnya kebahagiaan pada usia paruh baya, di mana tingkat bunuh diri dan penggunaan obat anti depresi memuncak, tidak begitu jelas. Pada tahun-tahun terakhir, para peneliti telah menekankan pada faktor-faktor sosiologi dan ekonomi, mulai dari kesadaran seorang akuntan bahwa mimpinya sebagai penyanyi Broadway tidak akan terwujud sampai ketakutan akan dipecat, belum lagi kegagalan perkawinan dan kesulitan keuangan.

Oswald, 58, menyebut periode itu “ledakan kemarahan.” Karena belum ada studi mengenai itu sebelumnya, ia dan para koleganya memutuskan untuk melihat apakah makhluk-makhluk yang tidak memiliki penyesalan dalam karir atau cicilan rumah bisa menderita krisis paruh baya.

Mereka pun meneliti kebahagiaan 155 simpanse di kebun binatang Jepang, 181 di AS dan Australia dan 172 orangutan di AS, Kanada, Australia dan Singapura. Hasilnya, ketiga kelompok primata ini mengalami ketidaknyamanan paruh baya: Kurva ketenangan U dengan titik nadir pada, masing-masing, usia 28, 27 dan 35, dibandingkan dengan manusia yang mengalaminya pada usia 45 sampai 50.

Mengapa hewan-hewan tersebut mengalami krisis paruh baya? Mungkin karena tatanan masyarakat mereka mirip dengan manusia, yang dipengaruhi faktor sosial, tak hanya biologi, ujar Oswald. Barangkali kera mengalami masalah eksistensial juga, saat mereka menyadari mereka tidak akan pernah menjadi pria atau perempuan alfa.
Ia menambahkan bahwa krisis paruh baya sepertinya diturunkan lewat evolusi, bukannya dampak kehidupan modern.

“Barangkali alam tidak ingin kita nyaman pada usia paruh baya, hanya duduk-duduk tenang di atas pohon,” ujar Oswald.

“Mungkin ketidaknyamanan membakar gairah di dalam diri, mendorong kita ingin membuat pencapaian lebih untuk diri kita atau keluarga.” (AP/Reuters)
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang nelayan Palestina melemparkan jaringnya di sebuah pantai di kota Gaza, Palestina.
  • Gedung Parlemen Eropa saat para anggota parlemen menghadiri sesi voting di Strasbourg, Prancis.
  • Mobil-mobil yang rusak terlihat di tempat parkir sebuah Rumah Sakit setelah tornado menghantam kota Moore, negara bagian Oklahoma, 20 Mei 2013.
  • Mantan Presiden AS Bill Clinton mendengarkan Menteri Federal Jerman untuk Tenaga Kerja dan Sosial Ursula von der Leyen, kedua dari kanan, dalam sebuah forum yang membahas solusi bagi masalah pengangguran kaum muda Eropa di Universitas Madrid, Spanyol.
  • Seorang anggota geng jalanan Mara 18 yang dipenjarakan, berpose untuk foto di penjara Izalco, sekitar 65 km dari San Salvador, El Salvador.
  • Seorang pekerja berjalan di sebuah jalan kereta api baru di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China.
  • Penyelam mendekati Leopard Ray pada sebuah pameran di Marine Life Park, Resorts World, salah satu atraksi wisata terbaru di Singapura.
  • Dua mahasiswa pegulat sumo membawa bayi yang menangis di samping wasit (tengah) dalam acara Kompetisi 'Bayi Menangis' di kuil Sensoji di Tokyo, Jepang.
  • Seorang anak laki-laki duduk di bawah kereta sambil menunggu koin jatuh dari kereta selama festival kereta 'Rato Machhindranath' di kota Lalitpur, Nepal.
Lainnya