Rabu, 01 Oktober 2014 Waktu UTC: 03:59

Berita / Indonesia

Peretas "Anonymous Indonesia" Serang Sejumlah Situs Web Pemerintah

Peretas atau hacker telah merusak lebih dari 12 situs web pemerintah di Indonesia menyusul penangkapan seorang tertuduh hacker di Jawa Timur bulan ini.

Sejumlah situs pemerintah Indonesia termasuk milik Kepolisian RI diserang peretas dengan memasang  gambar dan kalimat "No Army Can Stop an Idea".(foto: Ilustrasi).
Sejumlah situs pemerintah Indonesia termasuk milik Kepolisian RI diserang peretas dengan memasang gambar dan kalimat "No Army Can Stop an Idea".(foto: Ilustrasi).
Kate Lamb
Analis mengatakan lemahnya keamanan dan solidaritas yang kuat di antara jaringan hacker bawah tanah merupakan inti permasalahannya.
 
Di salah satu negara yang paling melek media sosial, kelompok  online 'Anonymous Indonesia'  telah menarik perhatian beberapa hari terakhir ini.
 
Dalam hitungan jam, kelompok itu merusak situs web dari tujuh departemen pemerintah dan Kepolisian Republik Indonesia.  
 
Alih-alih masuk ke laman resmi, pengguna situs web disambut oleh tokoh berjubah dengan kata-kata tertulis disampingnya  "No Army Can Stop an Idea.”
 
Peretasan yang terkoordinasi itu dipandang sebagai pembalasan atas penangkapan Wildan Yani Ashari, 22 tahun, yang sebelumnya meretas website presiden pada bulan Januari.
 
Seorang dosen media sosial yang memusatkan pada gerakan online bawah tanah, Donny Bu mengatakan solidaritas di antara hacker Indonesia adalah kuat.
 
"Bahkan jika Anda tidak tahu peretas yang lainnya, jika salah satunya dari komunitas bawah tanah, atau hacker bawah tanah itu ditangkap dan menjadi 'terkenal' di media, maka komunitas bawah tanah lainnya akan menggunakan isu itu untuk menyuarakan pernyataan mereka,” papar Donny Bu.
 
Kelompok Anonymous Indonesia dan para pendukungnya melakukan protes menentang  penangkapan Wildan melalui  twitter dan jaringan media sosial lainnya.
 
Mereka mengatakan adalah tidak adil bahwa Wildan diancam hukuman  hingga lima tahun penjara sementara para pejabat yang korupsi selalu bisa seenaknya melenggang  dengan hukuman yang jauh lebih ringan.
 
Karyawan sebuah kafe internet di Jawa Timur, Wildan  yang berumur 22 tahun itu dikenai tuduhan berdasarkan Undang-Undang Transaksi Elektronik dan Informasi tahun 2008.
 
Meskipun para pengecam mengatakan hukuman pada apa yang sebenarnya adalah sebuah  lelucon itu  terlalu berat, Menteri Komunikasi Indonesia Tifatul Sembiring mengatakan kepada VOA bahwa Wildan harus dihukum sepantasnya.
 
"Komunitas online Indonesia  mencoba membandingkan antara hukuman bagi koruptor dan hukuman bagi hacker. Ini adalah masalah serius karena, Anda tahu, jika polisi atau pengadilan tidak menghukum orang ini mungkin hacker lain akan mencoba untuk melakukan sesuatu yang akan mengganggu jaringan internet kita,” kata Tiffatul.
 
Tiffatul mengatakan ada 36,6 juta kejadian peretasan terhadap website pemerintah pada tahun 2012.
 
Namun, analis keamanan dunia maya mengatakan bahwa sebagian besar insiden ini merupakan kasus 'online graffiti', atau tulisan-tullisan online, lelucon yang dilakukan   remaja. Hanya sedikit yang terlibat dalam kejahatan yang lebih serius seperti penipuan keuangan online, kata analis dunia maya Budi Rahardjo.
 
"Hacking di Indonesia adalah umum, seperti di tempat lain di dunia, sebagian besar dilakukan oleh anak-anak muda yang mencoba untuk membangun jati diri mereka. Kebanyakan dari mereka meretas website hanya untuk menunjukkan jati diri mereka, selain itu mereka tidak melakukan hal yang merugikan lainnya,” ungkap Budi.
 
Budi mengakui bahwa website pemerintah banyak yang tidak aman dan menjadi sasaran empuk bagi hacker yang berketerampilan rendah.
 
Namun, ia mengatakan, saat ini  kita  tidak perlu menjadi seorang programmer canggih atau hacker terampil untuk melumpuhkan situs web pemerintah.
 
Menteri Komunikasi Tifatul Sembiring mengatakan ia memiliki tim yang bekerja 24 jam sehari untuk mengamankan firewall situs pemerintah.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Amri
13.02.2013 06:38
"jika polisi atau pengadilan tidak menghukum orang ini (hacker) mungkin hacker lain akan mencoba untuk melakukan sesuatu yang akan mengganggu jaringan internet kita"

#JUSTRU DISAAT KALIAN MELAKUKAN ITU LAH, YANG MEMBUAT YANG LAINNYA MARAH.

OTAK KALIAN DI DENGKUL, KALIAN NGAK AKAN PERNAH MERASAKAN SOLIDARITAS ANTARA HACKER DI INDONESIA INI.

WHY ??

KARENA KALIAN HANYA TIKUS.
MEMANG OTAK TIKUS BUKAN OTAK UDANG, TAPI TETAP TIDAK BERGUNA. YANG KALIAN TAU MALING DAN MALING TAPI RINGAN HUKUMAN BUAT KALIAN.

SEKALI LAGI, KATA-KATA "jika polisi atau pengadilan tidak menghukum orang ini (hacker) mungkin hacker lain akan mencoba untuk melakukan sesuatu yang akan mengganggu jaringan internet kita", KALIAN MEREMEHKAN HACKER, MEREKA TIDAK AKAN BERHENTI JIKA KALIAN MELAKUKAN INI, SEMUA INI HANYA AKAN MEMBUAT MEREKA MARAH.

#KALIAN MUNGKIN BISA MENANGKAP 1,2,3 ATAU BEBERAPA, TAPI KALIAN TIDAK AKAN BISA MENGHENTIKAN MEREKA SEMUA.


oleh: jenius.com dari: Medan
05.02.2013 23:14
Serba Salah !!!.... kalau Bodoh, kita di akal2 in nya, kalau kita Pinter, Eh... malah di tangkepin... bukannya di Bina eh malah di binasakan.... gimana Negara ini mau Maju ??? kalau sisanya cuma orang2 Bodoh..........sementara jlh kasus 36,6 juta itu tidaklah sebanding dengan KORUPTOR yang telah merugikan Masyarakat Indonesia yang jumlahnya jauh lebih banyak....


oleh: zzz dari: solo
05.02.2013 12:18
wah pemerintah terlalu meremehkan hacker Indonesia, kalau udah kejadian apa2 baru kelabakan pemerintahnya, hadeeh. benar juga, hacker aja cuman berbuat segitu dihukum 5 tahun, lah kalo yg korupsi miliaran rupiah cuman dihukum berapa? seharusnya kalo cuman ngehack kurang cukup, ,hoho. semangat buat hacker-hacker,


oleh: HAMZAH ADI dari: Surabaya
05.02.2013 06:53
Hidup kok aneh-aneh jadi begitu akibatnya!!


oleh: iwan dari: Banjarmasin
04.02.2013 12:20
aneh,... org yg memiliki kemajuan IT lebih bisa di hukum ,... mesti nya pemerintah bisa belajar dari hacker tersebut biar sistem keamanan nggak bisa di bobol lagi ,.. dan kalau dihukum mungkin hacker lain lebih akan menggangu lagi ,,....


oleh: newbi dari: hatimu
04.02.2013 08:54
menghukum hecker merupakan hal yang salah. dan tidak menyelesaikan masalah. menghukum hecker yang tertangkap tidak menjamin untuk menghentikan hecker lain nya. akan lebih baik lagi jika dididik menjadi orang yang lebih baik dan mengerti akan etika komputer, bukankan hecker itu manusia yang memiliki kelebihan tersendiri yang mampu mencari sisi kelemahan Sistem? jika TNI di didik untuk menjaga keamanan negara indonesia lewat senjata api dari musuh mengapa Hecker tidak dididik menjadi Tentara Indonesia DUnia maya??

jaman sekarang jaman IT, Perang yang lebih mengerikan saja lewat IT, Apakah indonesia tidak takut jika suatu saat indonesia diperangi lewat IT?

sebagai saran Rudal Diluncurkan lewat tehnologi jaringan system, dan hacker adalah orang orang yang tepat untuk dikembangkan untuk mencegah hal demikian.

sebagai saran, jika situs pemerintah ingin aman Bangunlah system Operasi Jaringan sendiri (MADE INDONESIA ONLY) yang tidak di pasarkan dimana mana. jika indonesia sendiri bisa membobol situs penting pemerintah bagai mana dengan negara moderen IT?? pastilah mereka telah mengetahui semua data data indonesia.

salam.


oleh: Mr ahmad jaenudin dari: round the world
01.02.2013 00:10
Yah..itu satu kemajuan bahwa masyarakat Indonesia melek IT, yg di kembangkan dinegaranya sendiri sekarang, karena fakar-fakar IT sebelumnya banyak yg kerja diluar negeri lebih leluasa pengembangan idea dan menjanjikan ,yah.....Roy Sur....jdi Mempo...payah dech....,

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook