Sabtu, 01 Nopember 2014 Waktu UTC: 02:29

Berita / Indonesia

Penghasilan Indonesia dari Ekspor Minyak Merosot

Penghasilan negara dari ekspor minyak merosot akibat produksi minyak yang turun ke titik terendah dalam 40 tahun terakhir.

Produksi minyak yang terus merosot menekan pemerintah untuk mengatasi defisit perdagangan yang meluas akibat subsidi energi. (Foto: Dok)
Produksi minyak yang terus merosot menekan pemerintah untuk mengatasi defisit perdagangan yang meluas akibat subsidi energi. (Foto: Dok)
Pendapatan Indonesia dari ekspor minyak merosot jauh di bawah ekspektasi pemerintah dengan menurunnya hasil minyak ke titik terendah dalam 40 tahun terakhir, membuat tekanan terhadap pihak berwenang meningkat untuk mengatasi defisit perdagangan yang meluas akibat subsidi energi yang mendorong konsumsi.

Lapangan tua dan kurangnya penemuan lapangan baru selama bertahun-tahun membuat Indonesia mengekspor lebih sedikit minyak mentah. Pendapatan dari ekspor minyak mentah dan produk minyak untuk dua bulan pertama tahun ini turun 23 persen menjadi US$2,2 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara nilai impor minyak naik 16 persen, menurut data dari Biro Pusat Statistik (BPS).

Dengan demikian, defisit perdagangan minyak mencapai $4,9 miliar tahun ini, lebih tinggi dari $3,2 miliar setahun yang lalu.

Anggaran negara untuk 2013 memasukkan target produksi minyak 900.000 barrel per hari, namun badan regulator energi SKKMigas mengatakan produksinya sepertinya hanya akan mencapai rata-rata 830.000 barrel per hari, atau terendah sejak 1969.

Pemerintah mengharapkan penghasilan dari minyak dan gas mencapai sekitar $30 miliar atau 20 persen dari anggaran tahun ini, menurut SKKMigas, jauh lebih rendah dari sepertiga penjualan yang disumbangkan BUMN setiap tahun ketika Indonesia masih menjadi eksportir dan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak OPEC.

Kecuali jika harga dapat mengkompensasi penurunan produksi atau Indonesia dapat mengatasi penurunan produksi, kontribusi minyak dan gas akan terus jatuh. (Reuters/Florence Tan dan Randy Fabi)
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Pengamat
16.04.2013 03:56
Ekspor Minyak ? Kebutuhan Indonesia akan minyak melebihi kapasitas produksi. Apanya yg mau diekspor ?


oleh: Rakean Agung dari: Tangerang
11.04.2013 21:54
Adakah,kemauan dan keberanian untuk mendayagunakan SDA, dinegeri sendiri.Ekspor merosot dan Impor meningkat,bahkan ketergantungan pula.Lantas.Subsidi BBM atau apapun namanya, itu adalah hak seluruh warga negara,untuk mendapatkannya.Opsipun ditebarkan,Kenaikan BBM Bersubsidipun,diusiknya pula.Itu.sudah diusulkan lama lewat tim yang dimotori ekonom Anggito Abimanyu,untuk dinaikan secara bertahap.Itu,gampangnya,paling gampang dan instan!. dimana puncaknya,subsidi dicabut total,itu sesuai dg poin dari IMF.Masalahnya,rakyat dinegri ini sudah semakmur itu. Opsi,kedua Konversi dari BBM ke BBG,ini paling realistik dan masuk akal sehat,tapi memerlukan kerja keras,tapi apa yang terjadi tidak ada realisainya.Lebih dari itu gasnya pun sudah tergadaikan bahkan terjual lebih dulu,diantaranya ke RRC,dg harga murah semurah2nya dan utk sekian puluh tahun kedepan!.Jadilah,PLN menggunakan BBM mahal dan brakibat ke TDL naik terus,tanpa audit yang jelas. Bnayak,opsimlainnya semisal program efisiensi dg membatasi produksi dan penjualan otomotif,tidak berani bahkan tidak ada kemauan dalam kebijakan yang menguntungkan ini banyak pihak ini.Jadilah,negeri kaya SDA ini tidak mandiri dan jauh dari berdaulat sebatas pemenuh an BBMpun!.Boro2 pula,meniru Venezuela,dibawah Hugo Chaves.BBM dengan program nasionalisasinya itu,suka tidak suka.BBM melimpah murah,rakyatnyapun senang,bahkan matipun dikenang pula.Jadi adakah,kemauan itu.Supaya,tidak ada tudingan negeri ini negeri kaya yang salah urus,dan rakyatnya hanya di jadikan sebatas konsumen saja.Jadilah,ban cakan banyak pihak.

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook