Senin, 20 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 23:04

Berita / Olahraga

Paralimpik Menginspirasi Pasien di Negara Asalnya

Paralimpik menginspirasi kaum difabel untuk berolahraga dan berlatih untuk bertanding dalam kompetisi selanjutnya di Rio De Janeiro 2016.

Para pasien berolahraga dan melakukan terapi fisik di Pusat Cedera Tulang Belakang Nasional, Inggris. (VOA)
Para pasien berolahraga dan melakukan terapi fisik di Pusat Cedera Tulang Belakang Nasional, Inggris. (VOA)
UKURAN HURUF - +
Al Pessin
Pesta olahraga Paralimpik, yang berakhir Minggu (9/9) di London, merupakan yang terbesar yang pernah diadakan dalam sejarah, melibatkan hampir 4.300 atlet dari 160 negara dalam acara yang berlangsung 12 hari itu. Konsep kompetisi olahraga untuk kaum difabel diawali 60 tahun yang lalu, di rumah sakit di Stoke Mandeville, Inggris, hanya 75 kilometer dari Taman Olimpiade di London.

Pusat Cedera Tulang Belakang Nasional di Rumah Sakit Stoke Mandeville bangga atas hubungannya dengan Paralimpik. Sementara para pasien sekarang belajar hidup dengan trauma yang melumpuhkan, dengan bantuan terus menerus dari terapis fisik, kompetisi olahraga tersebut selalu ada di benak mereka.

“Kami mengenal beberapa orang yang bertanding, dan kami tahu bahwa perjalanan mereka dimulai di sini, jadi kami selalu ada di belakang mereka,” ujar Dott Tussler, kepala terapi fisik. Ia mengatakan rumah sakit tersebu menggunakan olahraga sebagai bagian penting dalam program rehabilitasi.

“Kami menggunakan olahraga sebagai kendaraan untuk meningkatkan keseimbangan, kekuatan, koordinasi, keterampilan di atas kursi roda dan mobilitas kursi roda,” kata Tussler. “Selain atribut fisik tadi, Anda lalu dapat terus membangun elemen menyenangkan dari aktivitas bersama dalam kelompok.”

Aktivitas tersebut berlangsung di fasilitas olahraga sebelah rumah sakit, yang didedikasikan untuk dokter pengungsi yang datang ke Inggris dari Jerman pada periode Nazi, dan dikenalkan pada konsep olahraga untuk kaum difabel.

Dr. Ludwig Guttmann yakin olahraga akan membantu menyembuhkan para pasiennya, baik secara fisik maupun emosional, dan bahwa pertandingan skala internasional untuk kaum difabel akan membantu mengobati luka karena perang.

Saat ini, ide tersebut telah berkembang menjadi acara selama dua minggu yang berlangsung tak lama setelah Olimpiade, dan diikuti di seluruh dunia. Kompetisi tersebut mengirimkan pesan pada para pasien baru di rumah sakit lama Guttman, bahwa mereka dapat kembali menjalani hidup secara penuh meski dengan cedera.

Christopher Haynes, 24, adalah salah satu kisah sukses terbaru di Stoke Mandeville. Setelah mengalami cedera karena menyelam setahun yang lalu, ia melalui operasi dan proses rehabilitasi selama berbulan-bulan, termasuk program olahraga.

“Olahraga yang dilakukan adalah yang sesuai dengan Anda. Karena rumah sakit ini telah melakukan program ini untuk waktu yang lama, mereka benar-benar tahu olahraga seperti apa [yang sesuai]. Karena saya tinggi, dan saya masih muda, maka saya cocok bermain rugby dengan kursi roda,” ujar Haynes, yang dipanggil Chris.

Chris siap keluar dari rumah sakit. Ia mengatakan bahwa olahraga memainkan peran lebih besar dalam hidupnya daripada sebelum ia cedera, berkat program rehabilitasi dan Kompetisi Paralimpik.

“[Paralimpik] sangat inspiratif, memberikan bayangan apa yang bisa dilakukan dalam tiga atau empat tahun. Saya harus mulai berolahraga,” ujar Haynes.

“Tidak ada alasan mengapa saya tidak [berolahraga]. Saya akan kembali bekerja, kembali ke kehidupan sosial, mencari pacar. Dan jika semuanya berjalan lancar, saya mencoba untuk bisa bertanding di Rio.”

Rio adalah Paralimpik berikutnya di Rio de Janeiro, Brazil, pada 2016. Ini adalah target yang tinggi bagi Chris dan para pasien di rumah sakit. Namun Guttman percaya bahwa target yang tinggi atau luhur adalah yang mereka butuhkan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA 21 Mei 2013

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang wanita mempersiapkan upacara tradisional Gwan-Rye di Seoul, Korea Selatan. Upacara ini diadakan bagi anak laki-laki dan perempuan yang menginjak usia 20 tahun, sebagai individu yang independen.
  • Sebuah balon udara jatuh ke tanah setelah bertabrakan dengan yang lain selama perjalanan di Cappadocia, Turki. Dua wisatawan Brazil tewas dan 23 orang lainnya terluka akibat tabrakan dua balon udara tersebut.
  • Perempuan dan anak-anak antri untuk mengambil air dari keran di sebuah kamp bagi para pengungsi di kota al-Mazraq, provinsi Hajja, Yaman barat laut.
  • Badai tornado (puting beliung) hampir menyentuh tanah di dekat South Haven, di negara bagian Kansas, AS.
  • Para fotografer bekerja selama sesi pemotretan untuk film "Blood Ties" di Festival Film Cannes ke-66 di Cannes, Prancis.
  • Seorang wanita mengenakan gaun dari bunga segar yang dirancang oleh desainer Zita Elze, berpose untuk difoto di sebuah taman pada pameran bunga Chelsea, di London, Inggris.
  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (tengah) dan isterinya Ri Sol-ju saat berkunjung ke kamp anak-anak 'Pyongyang Myohyangsan' yang terletak di kaki Gunung Myohyang di Provinsi Phyongan Utara (foto courtesy: KCNA).
  • Pekerja mendorong sebuah rakit bambu besar, sementara yang lain mencoba membongkar bagian-bagian rakit bambu itu di Sittwe, negara bagian Rakhine, Burma.
  • Para pebalap sepeda naik tanjakan dalam etape ke-15 sepanjang 146 km, lomba balap sepeda Giro d'Italia di perbatasan Italia-Perancis.
  • Para anggota kelompok Castellers "Vila de Gracia" mulai membentuk menara manusia yang disebut "castell" di lingkungan Barcelona Gracia, di Catalonia, Spanyol.
Lainnya