Selasa, 02 September 2014 Waktu UTC: 16:40

Berita / Indonesia

Orangtua Pertanyakan Rencana Penghapusan Bahasa Inggris dari SD

Sebagian orangtua mempertanyakan rencana penghapusan pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah dasar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Beban pelajaran di sekolah dasar dianggap terlalu membebani murid sehingga pemerintah berencana menghapuskan pelajaran Bahasa Inggris. (Foto: Dok)
Beban pelajaran di sekolah dasar dianggap terlalu membebani murid sehingga pemerintah berencana menghapuskan pelajaran Bahasa Inggris. (Foto: Dok)
Fathiyah Wardah
Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk menghapuskan pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah dasar mulai tahun ajaran 2013-2014 dipertanyakan oleh para orangtua yang menganggap bahasa asing semakin mudah diajarkan pada anak-anak jika dilakukan sejak dini.

“Sayang jika Bahasa Inggris dihapuskan. Sekarang [anak-anak] sudah pada bisa, tiba-tiba dihapuskan. Kasian mereka, mengapa jadi mundur ya,” ujar Lita Anggraeni, seorang pegawai negeri sipil di Jakarta.

“Biar bagaimana juga pengetahuan umum itu sumbernya bahasa asing, terutama Bahasa Inggris,” tambahnya.

Pendapat serupa disuarakan seorang pegawai bank bernama Inggrid yang mengatakan, “Bahasa Inggris sebenarnya dasar ya. Ke depan nanti Bahasa Inggris banyak dipakai, jadi menurut saya lebih baik dikenalkan sejak dini.”

Kementerian Pendidikan berencana menghapus pelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar karena dianggap terlalu membebani siswa. Rancangan kurikulum sekolah dasar yang baru nanti akan mengutamakan pendidikan karakter atau perilaku bagi para murid.
Rencana tersebut, menurut juru bicara kementerian, Ibnu Hamad, merupakan bagian dari perubahan dan pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang tengah dilakukan lembaganya.

Hasil sementara dari kajian itu menyimpulkan jumlah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar terlalu banyak sehingga  membebani siswa. Untuk itu, Kementerian Pendidikan akan menjadikan jumlah pelajaran di tingkat sekolah dasar dari 11 mata pelajaran menjadi enam subyek, yakni Agama, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, Seni dan Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Kajian ini sendiri, menurut Ibnu Hamad, belum final dan masih terus digodok. Namun salah satu pertimbangan perlunya dihapuskan sejumlah mata pelajaran termasuk Bahasa Inggris karena dianggap tidak sesuai dengan arah dan orientasi kurikulum sekolah dasar, terutama kelas satu, dua dan tiga. 

“Selain itu penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris juga bertujuan untuk memberi waktu kepada siswa sekolah dasar untuk  memperkuat kemampuan Bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing. Dalam rangka itu mungkin Bahasa Inggris masih dipertimbangkan untuk ditiadakan dulu,” ujar Ibnu.
 
Pakar sosio-linguistik dari Universitas Gajah Mada, Kunjana Rahardi, menyetujui rencana pemerintah itu karena menurutnya, pengenalan bahasa asing yang terlalu dini berdampak buruk pada penguasaan bahasa anak.

“Sudah selayaknya anak di usia kelas satu sampai kelas 3 sekolah dasar memang tidak dikenalkan dengan bahasa asing lebih dahulu. Sebaliknya harus difokuskan pada bahasa ibu baik Bahasa Indonesia ataupun  bahasa daerah terlebih dahulu,” ujarnya.

Penguasaan bahasa ibu yang bagus akan membantu ketika anak belajar bahasa kedua dan ketiga, kata Kunjana.

“Jadi belajar bahasa kedua itu dasarnya adalah pengembangan dari penguasaan bahasa pertama. Jadi sebelum bahasa pertamanya sampai pada tahapan yang cukup bagus, tidak mungkin seorang anak bisa belajar bahasa kedua dan ketiga,” tegasnya.

“Yang ada di anak-anak Indonesia, karena terlalu prematur dikenalkan bahasa asing dan bahasa kedua di usia sebelum waktunya, penguasaan bahasa mereka tidak matang sepenuhnya. Bahasa Indonesianya kacau balau, bahasa daerahnya tidak menguasai apa-apa, Bahasa Inggris setengah matang.”
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: milayanti dari: medan
03.11.2012 03:53
wahhh ,klau bahasa inggris dihapuskan di sd jadi nasib guru bahasa inggrisnya gimana yaa.... di letakkan dimana tuh guru guru sd.
lag
iannya kita kakn udah di era globalisasi, sekarang apa - apa aja udah pakai bahasa inggris, ehh kok malah jadi mundur


oleh: Muhamad Arief dari: Banjarnegara
28.10.2012 01:20
Saatnya Bahasa Indonesia BANGKIT....!!!!!!
menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama yang digunakan dalam Kependidikan. Mengenalkan kepada anak-anak untuk menghargai bahasanya, membangun bangsanya melalui bahasa, bahasa pemersatu. Cermin dari budaya yang baik tak lepas dari penggunaan bahasa yang baik pula. Semua sumber keilmuan semuanya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pemberian bahasa asing hanya diperkenalkan saja kepada anak didik, yang mutlak dibutuhkan adalah kemahiran bahasa ibu, ibu pertiwi.


oleh: norman dari: kalimantan timur, berau
19.10.2012 05:12
menurut saya sih, ada atau tidaknya bahasa inggris di SD tidak terlalu berpengaruh bagi pendidikan. mengapa mesti bahasa asing yang ditekankan? bahasa ibu pertiwi aja tidak becus, penggunaan bahasa indonesia sendiri. bahasa inggris itu kan cuma perkenalan aja buat siswa/i SD, jadi ga rugi lah kalau bahasa inggris di SD tidak ada, jgn terlalu di besar2kan......masih ada bahasa inggris di tingkat sekolah menegah dan atas.


oleh: Winandi dari: Bandung
19.10.2012 01:43
Segeralah tuntaskan masalah kurikulum,,kasihan anak-anak kurikulum terus berganti,,jadi sebenarnya yang mau ditekankan apa?moral bangsa?anak-anak itu berkata mengikuti apa yang mereka dengar, dan berkelakuan mengikuti apa yang dilihat,,sementara sekarang media visual yang paling sering mereka temui adalah televisi dan internet kalau yang ada,,sementara apa yang ditayangkan ditelevisi?sinetron tidak berguna,berita pun menampilkan kekerasan,padahal alangkah baiknya kalau televisi menampilkan yang berbau pendidikan,,berita pun jangan menampilkan masalah kekerasan saja, tapi akan lebih baik kalau yang ditampilkan diberita yaitu berita yang lebih bermutu dan bermanfaat, contoh seperti pada bidang pertanian, kehutanan, dll, atau bisa juga menampilkan tentang kekayaan alam di Indonesia,,ehehehe,,tapi itu cuma masukan saya,,hehehe


oleh: bunbun dari: Bandung
17.10.2012 13:02
Bahasa Asing sangat baik bila dikenalkan pada anak sejak usia dini, termasuk pada anak usia TK ataupun SD. Karena pada usia tersebut otak anak seperti spons yang siap menyerap berbagai informasi termasuk bahasa asing. Permasalahannya adalah apakah anak diajak MENGENAL bahasa asing atau dituntut untuk BISA ?. Yang menjadi realita saat ini adalah anak diajarkan tanpa suasana yang "fun" dengan banyak tuntutan dan tekanan, kemudian pada saat ujian harus membaca dan menulis soal bahasa inggris dengan ejaan yang "unik" sedangkan membaca dan menulis dengan ejaan Bahasa Indonesia saja mereka masih "berjuang". Saya sangat menghargai keputusan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di mana pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar tidak diikutsertakan dalam Ujian. Namun kenapa tidak bila guru bahasa Inggris tetap ada di sekolah dasar dan menjadi mata pelajaran yang mengajak anak mengenal bahasa inggris dengan lebih "happy" lewat berbagai permainan, instruksi-instruksi ataupun percakapan sederhana.
Semoga Allah swt memberikan hidayah kepada guru-guru yang sudah mengajar dan mendidik anak-anak dengan hati dan kasih sayang. Hanya dengan cinta dan kasih sayang insya allah anak-anak kita akan menjadi anak yang cerdas dan berkarakter baik. amin


oleh: Gea dari: jakarta
17.10.2012 03:40
menurut saya, sebaiknya memang bahasa inggris di perkenalkan pada saat anak sudah lebih siap... dan itu akan mengurangi beban anak yang baru mulai belajar di tingkat dasar.. tidak dipungkiri banyak anak yang belum bisa baca ketika masuk di kelas 1 SD.


oleh: linda dari: malang
13.10.2012 08:10
kaget juga ya...padahal udah berjalan sekian tahun. padahal penguasaan bahasa itu sepertinya lebih mudah pada waktu kecil. Ada benarnya juga, bahasa daerah memang sulit dikuasai, kok bahasa asing malah sudah pada cas cis cus. Itu hanya masalah pembiasaan saja, termasuk bahasa daerah! Sebenarnya dikembalikan saja pada fokus tujuan kependidikan usia SD itu: karena bukan cuma bahasa saja kok, matematika saja kelas 2 sudah "berbobot" daripada tahun tahun silam. Yang kelabakan ya para ibu-ibunya di rumah! Jadi menurutku inti permasalahannya ada pada targetan materinya: sejauh apakah tingkat kesulitan yang sewajarnya harus dihadapi oleh anak usia 6/7-9 tahun itu?? Sebaik apakah susunan tahapan materi untuk usia sekian itu?? bukan terletak pada mapel yang diganti atau dihapus. Soal bahasa adalah pembiasaan, apa anak2 kecil harus tahu tata bahasanya sampai sedemikian? tidak tokh. kadang membingungkan lho antara yang dipelajari dengan susunan kalimat yang panjang atau kosakata yang banyak. Bahkan bahasa PKN atau IPS pun untuk kelas 1 sudah kalimat yang cukup kompleks sehingga jawabannya pun masih sangat "kreatif" dari anak2 ini!! Padahal dalam bahasa Indonesia! Terutama untuk SD negeri yang jumlahnya tersebar di seluruh nusantara, masih banyak kendala kompetensi gurunya. Tidak perlu dihapus, tapi materinya dan targetnya jangan terus "memadat" dari tahun ke tahun. Bahasa itu pembiasaan untuk komunikasi. Masih banyak hal2 yang "memaksa" kita untuk melek bahasa asing, karena nara sumber dari negeri sendiri kurang mencukupi. Sebaiknya pemerintah fokus saja pada bobot materi pembelajaran dan kompetensi guru. Bagaimanapun guru yang jadi ujung tombaknya, mereka harus menguasi berbagai metode ajar di kelas (terutama di SD negeri yang notabene sebegitu banyak anaknya!)


oleh: asep dari: tegal indonesia
13.10.2012 03:17
kalau bahasa inggris ditiadakan kapan ya bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lain yang bisa menyerap pengetahuan global internasional,yah cuma melongo mendengar ngga tahu artinya membaca juga ngga tahu artinya jadi telat menerima informasi up date,,,,,,,,,????????????


oleh: wanda dari: surabaya
12.10.2012 13:55
ini adalah suatu bentuk keprihatinan pemerintah terhadap menurunnya ketertarikan pelajar terhadap bahasa nasional kita yang menurut saya tidak pada tempatnya. jika ada standart toefl untuk bahasa inggris lalu kenapa bahasa indonesia tidak di terapkan standart nilai yang sama untuk bisa dikatakan lulus??dengan begini siswa akan belajar lebih keras bukan...#neh menteri serius prihatin apa cuma cari kerjaan untuk bisa dapet duit lebih banyak sih??

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook