Tautan-tautan Akses

Mantan Jihadis Minta Pemerintah Tingkatkan Pendidikan Keagamaan

  • Muliarta

Para pelajar di Bali membubuhkan tanda tangan dalam peringatan pengeboman Bali 2005.(VOA/Muliarta)

Para pelajar di Bali membubuhkan tanda tangan dalam peringatan pengeboman Bali 2005.(VOA/Muliarta)

Pemerintah diminta supaya lebih fokus dalam mengembangkan proses pendidikan keagamaan dalam program deradikalisasi terhadap para pelaku teror.

Mantan jihadis dan ketua Mantiqi 3 Jemaah Islamiah, Nasir Abas, meminta pemerintah Indonesia supaya lebih fokus dalam mengembangkan proses pendidikan keagamaan dalam program deradikalisasi terhadap para pelaku teror.

Menurut Abas, selama ini para pelaku terorisme mendapat pemahaman ajaran agama yang salah dan menyimpang selama bertahun-tahun.

“Ketika seseorang itu sudah diberi doktrin atau pemahaman yang keliru, lalu dia meyakini, mau dia orang miskin, atau kaya, seorang yang berpendidikan, tidak berpendidikan, semua bisa terlibat ketika dia menerima pemahaman atau keyakinan tersebut,” ujarnya pada peringatan Bom Bali 2005 di Bali Senin (1/10).

Abas terlibat dalam beberapa serangan mematikan yang dilakukan kelompok militant Islam di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk pengeboman di Bali pada 2002 yang menewaskan paling tidak 202 orang. Abas kemudian menjadi informan polisi mengenai jaringan teror Jemaah Islamiyah.

Ia juga bergabung dengan program pemerintah untuk meyakinkan tersangka teroris bahwa pembunuhan warga sipil yang tidak bersenjata atas nama agama itu tidak benar.

Sementara itu, keluarga korban bom Bali yang tergabung dalam Yayasan Isana Dewata menggelar peringatan bom Bali 1 Oktober 2005 di Café Nyoman Jimbaran Bali. Peringatan terhadap tragedi kemanusiaan itu juga melibatkan pelajar SMP dan SMU di kabupaten Badung Bali.

Acara peringatan termasuk pembacaan puisi, dan pembubuhan tandatangan pada kain putih sepanjang 20 meter sebagai betuk perlawanan terhadap aksi terorisme.

Tragedi kemanusian bom Bali 1 Oktober 2005 telah menyebabkan 23 orang meninggal dunia dan 196 orang lainnya mengalami luka-luka.

Ketua Yayasan Isana Dewata Ni Luh Erniati mengatakan siswa dilibatkan dalam peringatan ini untuk memberi pengarahan mengenai bahaya aksi terorisme, mengingat perekrutan anggota oleh jaringan terorisme saat ini mengarah ke generasi muda

“Kami berharap anak-anak sekolah, usia remaja akan bisa bagaimana caranya untuk membentengi diri agar tidak mudah terpengaruh oleh radikalisme. Acara ini sudah kami lakukan setahun yang lalu, kami datang ke sekolah-sekolah dengan tujuan menyiarkan perdamaian,” ujar Erniati.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG