Selasa, 23 Desember 2014 Waktu: 01:26

Berita / AS

Museum Terbaru di New York Buat Matematika Menyenangkan

Museum Matematika di New York membuat pelajaran itu tidak terkesan menakutkan atau membosankan dengan menampilkan aneka permainan dan pameran.

Faith Guzman, 7, mencoba tampilan interaktif di Museum Nasional Matematika di New York. (AP/Seth Wenig)
Faith Guzman, 7, mencoba tampilan interaktif di Museum Nasional Matematika di New York. (AP/Seth Wenig)
Sebuah museum baru di kota New York City, Museum Matematika, yang juga satu-satunya di Amerika Serikat, menampilkan matematika sedemikian rupa sehingga tidak terkesan membosankan.

“Matematika tidak hanya sekedar mengingat tabel perkalian,” ujar Cindy Lawrence, wakil direktur museum tersebut.

“Kita ingin orang sadar bahwa matematika adalah sebuah upaya kreatif.”

Museum yang juga disebut MoMath itu dibuka 15 Desember pada dua lantai sebuah gedung perkantoran di utara Taman Alun-Alun Madison, Manhattan. Ini adalah ide direktur eksekutif Glen Whitney, 42, seorang matematikawan dan mantan analis dana investasi jumlah besar yang membantu mengumpulkan US$23,5 juta untuk museum berukuran sekitar 1.800 meter persegi tersebut.

Whitney mengatakan matematikawan terkenal dengan senang hati membagi keahlian mereka untuk pameran di museum tersebut.

“Saya kira banyak matematikawan yang mendapat kesan bahwa mereka bekerja di lapangan yang disalahpahami banyak orang,” ujarnya.

Target pengunjung museum tersebut adalah siswa kelas empat sampai kelas delapan, namun pameran-pameran yang diadakan dapat dinikmati anak-anak yang lebih muda sekaligus menantang orang dewasa.

Permainan “Coaster Roller”, misalnya, adalah benda berbentuk biji pohon ek dengan diameter konstan meskipun tidak berbentuk bola, sehingga kereta luncur plastik dapat bergerak dengan mudah di atasnya.

Sementara itu, ada kendaraan roda tiga dengan bentuk roda kotak, yang bisa bergerak karena rodanya sejajar dengan trek yang berundak-undak atau bergelombang. Masing-masing undakan sebetulnya adalah rantai terbalik yang memiliki bentuk seperti saat kita memegang masing-masing ujungnya.

Pameran lain memungkinkan pengunjung membuat barang yang bisa dipajang, baik dengan membangunnya dengan sistem seperti Tinker Toy atau permodelan komputer.

Museum memiliki 700 pengunjung pada hari pertama, dan Lawrence mengatakan 400 kelompok sekolah telah mendaftarkan kunjungannya padahal MoMath belum beriklan.
Sharon Collins, guru matematika dari sekolah menengah Bronx Preparatory Charter School, mengatakan bahwa murid-muridnya menikmati sepeda beroda kotak seperti anak-anak yang lebih kecil.

“Melihat roda sepeda, mereka akan berpikir bagaimana sepeda tersebut bisa jalan. Mereka melihat kaitan-kaitan dunia nyata dari matematika, yang terkadang tidak diajarkan di kelas,” ujar Collins.

Desire'e Thomas, siswa kelas dua dari Girls Prep di daerah Lower East Side menyebut pengalamannya menarik dan menyenangkan.

“Saya membangun dengan bentuk-bentuk yang berbeda, kemudian bermain dengannya.”

Jennifer Florez membawa anak lelakinya yang berusia 4 tahun ke MoMath dan mengatakan akan kembali.

“Ia masih muda untuk beberapa pameran, namun ada cukup hal-hal yang membuatnya bisa terlibat. Saya ingin kami kembali dan berkunjung setelah anak saya bertambah besar,” ujarnya. (AP/Karen Matthews)
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: lartri utomo dari: yogyakarta
31.12.2012 14:38
Yah... matematika merupakan momok di sekolah, masih jarang guru yang menyampaikan pelajaran tersebut dengan permainan yang menarik semua siswa.
Andai model2 tersebut dibukukan, akan sangat membantu para guru dan siswa di seluruh dunia.

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook