Rabu, 01 Oktober 2014 Waktu UTC: 20:18

Berita / Indonesia

Mengaku Atheis di Facebook, Seorang Pria Sumatera Divonis 2,5 Tahun

Alexander Aan, 30 tahun, warga Muaro Sijunjung, Sumatera Barat, yang memuji kebaikan atheisme dan memasang kartun kontroversial Nabi Muhammad secara online, telah dihukum dua setengah tahun penjara.

Gara-gara komentar di Facebook yang 'kontroversial', pria Sumatera, Alexander Aan, yang berusia 30 tahun, mendapat hukuman 30 bulan penjara (foto: ilustrasi).
Gara-gara komentar di Facebook yang 'kontroversial', pria Sumatera, Alexander Aan, yang berusia 30 tahun, mendapat hukuman 30 bulan penjara (foto: ilustrasi).
Kate Lamb
Menurut para  aktivis hak asasi manusia penghukuman ini merupakan  langkah mundur bagi negara yang  mayoritas penduduknya Muslim yang  dikenal karena toleransi terhadap agama.

Pemasangan kata-kata "Tuhan tidak ada" di halaman Facebook-nya merupakan sebab pertama  Alexander Aan, yang berusia 30 tahun, mendapat masalah. Pegawai Negeri dari Sumatera itu dipukuli oleh massa yang marah dan kemudian ditangkap, tapi tidak hanya karena pengakuannya terhadap atheisme.
 
Aan juga menaruh secara online beberapa kartun  yang dianggap menghina Nabi Muhammad.
 
Dihadapkan pada  tuduhan menghina, penghasut kebencian dan mendorong atheisme, pengadilan Sumatera hari Kamis menjatuhkan hukuman dua setengah tahun  penjara dan denda sebesar Rp. 100 juta  padanya. Pengacaranya Deddi Alparesi mengatakan keputusan itu  tidak adil.
 
Alparesi mengatakan hakim tidak mempertimbangkan fakta-fakta, seperti Aan tidak pernah bermaksud untuk menyebarkan kebencian agama. Dia menambahkan bahwa seorang profesor Islam bahkan maju  untuk memverifikasi bahwa Aan sesungguhnya ingin sekali mengetahui agama hanya tidak seorangpun yang bisa diajaknya untuk membahas pemikirannya tentang atheisme.
 
Alexander Aan, saat menghadiri sidang di pengadilan Muaro Sinjunjung, Sumatera Barat atas dakwaan penghinaan agama (14/6).Alexander Aan, saat menghadiri sidang di pengadilan Muaro Sinjunjung, Sumatera Barat atas dakwaan penghinaan agama (14/6).
x
Alexander Aan, saat menghadiri sidang di pengadilan Muaro Sinjunjung, Sumatera Barat atas dakwaan penghinaan agama (14/6).
Alexander Aan, saat menghadiri sidang di pengadilan Muaro Sinjunjung, Sumatera Barat atas dakwaan penghinaan agama (14/6).
Sementara tuduhan menghina dan mendorong atheisme dibatalkan,  Aan dinyatakan bersalah menyebarkan kebencian bernuansa agama berdasarkan undang-undang  transaksi elektronik tahun 2008 yang  kontroversial.
 
Tim pembela hukumnya  bermaksud untuk mengajukan banding atas putusan itu, tetapi para  analis mengatakan itu merupakan kemunduran bagi kebebasan beragama di Indonesia. Seperti kegemparan di banyak negara dengan mayoritas penduduk  Muslim setelah publikasi pada tahun 2005 mengenai kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad di koran Denmark, kasus ini telah menimbulkan perdebatan tentang perbedaan antara kebebasan berekspresi dan menghasut kebencian bernuansa agama.
 
Andreas Harsono dari Human Rights Watch membandingkan hukuman  yang dijatuhkan pada Aan dengan hukuman yang  hanya beberapa bulan yang dijatuhkan  kepada kelompok  Muslim garis keras yang memukuli tiga orang hingga tewas  tahun lalu di Jakarta. Ia mengatakan keputusan itu merupakan semakin tidak adanya toleransi beragama.
 
"Ini banyak mengungkapkan tentang kekebalan  relatif  terhadap  orang yang melakukan kekerasan atas nama agama, sementara orang yang melakukannya dengan cara  sopan tanpa  kekerasan, tidak peduli seberapa kontroversial, sekarang dihukum 30 bulan penjara,” papar Andreas.
 
Bentuk-bentuk lain dari intoleransi agama di Indonesia minggu ini, adalah sebuah penerbit buku nasional dipaksa untuk membakar ratusan buku yang berjudul Five Cities that Ruled the World yang isinya diduga memfitnah nabi.
 
Di Aceh, para pemimpin agama konservatif menuntut penutupan 20 gereja di sana – dan minggu lalu ada gerakan untuk melarang penjualan pakaian ketat di provinsi yang menjalankan hukum syariah tersebut.  
 
Dan awal bulan ini bintang pop flamboyan Amerika,  Lady Gaga, membatalkan konsernya di Jakarta sebagai bagian dari turnya di Asia setelah kelompok garis keras Islam mengancam akan menggagalkan konser itu.
 
Kebebasan beragama secara teknis dijamin di negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, tetapi penduduk  Indonesia harus memilih  salah satu dari enam agama resmi yang diakui sedang atheism tidak bisa dijadikan pilihan.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar halaman dari 3
    Berikutnya 
oleh: Digital Imaging Artist dari: Yogyakarta
24.06.2012 18:37
Dalam kehidupan bernegara, seseorang boleh saja menyembah batu, pohon, air, tanah, gus dur, michael jackson, maupun tidak menyembah siapapun.


oleh: boeb dari: tasik
24.06.2012 15:32
saya kira dia pantas dihukum, krn udah jelas2 bertentangan dgn dasar negara kita. kalo sekiranya tdk mau beragama silahkan pindah ke negara lain...jgn mau hidup d indonesia tp tdk mau nurut peraturan yg ada di negara ini.


oleh: akbar dari: bandung
20.06.2012 12:57
aduh itu yg "ni banyak mengungkapkan tentang kekebalan relatif terhadap orang yang melakukan kekerasan atas nama agama, sementara orang yang melakukannya dengan cara sopan tanpa kekerasan, tidak peduli seberapa kontroversial, sekarang dihukum 30 bulan penjara" ganjil bgt yah , SOPAN dalam artian menjerumuskan beda loh ....
konser lady gaga kalo di liat lagi kan dari segala"y ga cocok dengan budaya indonesia , bukan nya ga toleransih menurut saya , cuman terlalu keras bertindak , soal nya di kasih tau udah kayak batu semua orng jaman sekarang , stres akan keadaan intinya ...


oleh: Ika Putri dari: Yogyakarta
20.06.2012 06:38
Menurut pendapat saya,
pelaku tetaplah salah. Mau dibela bagaimanapun atau memakai memakai alasan apapun untuk membenarkan pelaku, tidak akan membuat pelaku menjadi benar.

Alasan saya mengatakan ini adalah karena Indonesia adalah negara yang menganut ideologi percaya kepad Tuhan.
Saya percaya baik pelaku, pembela, penulis, dan siapapun yang pernah mengikuti upacara bendera setiap senin mengetahui tentang apa itu Pancasila.
Sila pertama mengatakan tentang "Ketuhanan yang Maha Esa"
berarti semua warga negara Indonesia adalah manusia-manusia yang memiliki Tuhan.
Lah, tetapi pelaku mengatakan "atheis" berarti dia tidak punya Tuhan yang dipercaya dan mungkin tidak pernah ikut upacara bendera hari Senin pagi ?


oleh: Buyuang dari: Jakarta
19.06.2012 08:32
Saya melihat, reporter atau yang menulis berita ini tidak bisa menganalisa sebelum menulis berita. Bagaimanapun, kuasa hukum akan membela kliennya. Seharusnya reporter juga melihat dari pandangan hukum lain seperti dari jaksa penuntut. Kalau reporternya kayak gini, berarti sama aja reporternya ikut mendukung pelaku. Sudah jelas ateisme dilarang keras di Indonesia dan sudah jelas juga pelaku memasang gambar kartun penghinaan kepada nabi Muhammad S.A.W. Facebook itu dapat diakses dari mana pun di dunia ini. Apalagi pelaku hidup dan mencari penghidupan di Ranah Minang yang kental dengan agamanya. Reporter pembuat berita ini harus belajar lagi bagaimana menulis berita yang seimbang. Kalo gini cara nulisnya sama aja profokator....


oleh: hamba dari: indonesia
18.06.2012 12:17
saya orang indonesia , saya seorang muslim , dan saya bangga dengan yang saya punya


oleh: Rudy D Bangun dari: Medan
18.06.2012 07:07
Beritanya sangat-sangat-sangat dipaksakan. Begitu juga pembelaan terhadap pelaku, sangat-sangat-sangat dipaksakan. Jurnalisnya juga sangat-sangat-sangat memaksakan pendapat. Jelas pendapatnya sudah SALAH, masih dipaksakan. Pembenaran terhadap minoritas yang menghina mayoritas dengan dasar HAM sebagai landasannya sangat menarik dibahas, terutama untuk kalangan minoritas yang benar-benar berniat merusak. Sangat-sangat-sangat tidak ETIS.


oleh: ray dari: indonesia
18.06.2012 03:15
memang cuma Tuhan yg maha adil dan pengampun, seandainya jika manusia setiap melakukan kesalahan langsung di hukum oleh Tuhan maka lenyaplah manusia di dunia ini, saya masih percaya pintu tobat terbuka bagi setiap pemeluk agama, saya percaya bahwa Tuhan mengutus nabi nabi agar manusia bertobat, Tuhan mencintai kita semua manusia tanpa membeda bedakan agama apa yg kita yakini, mengenalkan Tuhan kepada orang yg tidak percaya kepadaNya merupakan tanggung jawab kita sebagai umat beragama, tentunya semua di lakukan dengan cinta kasih, kekerasan, kebencian dan dendam hanya akan mebuat kita menderita.


oleh: ARIYO dari: JAWA TIMUR
17.06.2012 14:37
...saya gk habis pikir,knapa kok msh ada aja orang yg berpaham atheis,tp KTPnya kan ada format agama,trus si atheis tsb bl didata ditanya agamanya apa...jadi mungkin msh banyak orang di indonesia ini yg atheis,tp di KTP format agama diisi agama apa gitu,...tp agama itu kan keyakinan,dan atheis bukan agama,tp lebih pd arti pemahaman seperti komunis misalnya,jadi sdr Aan itu orang komunis,apa gk ingat peristiwa G.30.S PKI tahun 1965???.


oleh: andawali dari: Bandung
17.06.2012 02:05
"tetapi penduduk Indonesia harus memilih salah satu dari enam agama resmi yang diakui sedang atheism tidak bisa dijadikan pilihan". Anda sebagai penulis artikel ini sepertinya tdk paham dengan dasar negara kami PANCASILA dimana sila pertama berbunyi Ketuhanan yang maha esa. Jelas bahwa atheisme tdk dibenarkan di negara kami apalagi sengaja menyebarkannya di facebook. Anda bekerja demi siapa atau hanya ingin terpakai oleh lembaga yang anda cari duit dari situ. Orang bodoh yg pura-pura tdk paham bahwa kartun Nabi bukan sebagai penghinaan, apalagi mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Seandainya saya menghina agama kristen dg ilustrasi keburukan-keburukannya, apakah hal itu dianggap ekspresi kebebasan ?

Komentar halaman dari 3
    Berikutnya 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook