Jumat, 31 Oktober 2014 Waktu UTC: 18:34

Berita / Indonesia

Indonesia Tempa Sekolah Hadapi Risiko Bencana

Pemerintah mengatakan pembangunan gedung sekolah yang aman merupakan prioritas dalam pengurangan risiko bencana alam.

Pekerja program bantuan dan siswa-siswa SDN Jejeran Yogyakarta melakukan simulasi latihan bencana. (S. Schonhardt/VOA)
Pekerja program bantuan dan siswa-siswa SDN Jejeran Yogyakarta melakukan simulasi latihan bencana. (S. Schonhardt/VOA)
Sara Schondhart
Beberapa dari bencana alam terburuk di dunia pada dekade terakhir terjadi di Asia, seperti gempa bumi di Indonesia dan Tiongkok, serta banjir di Thailand dan Kamboja. Sebuah konferensi regional mengenai pengurangan risiko bencana yang diselenggarakan minggu ini fokus pada sekolah dan bagaimana membuatnya lebih aman dan lebih tangguh.

Murid-murid Sekolah Dasar Negeri Jejeran di Yogyakarta sedang mengadakan simulasi latihan gempa bumi. Mereka berhamburan dari ruang kelas dengan memegang tas di atas kepala mereka. Beberapa murid mengambil tandu dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan dan menolong teman sekelas yang ‘terluka’. Sesudah semua berkumpul di halaman depan, seorang pemimpin murid membaca laporan bencana: Empat meninggal, lima terluka, dan semua korban sudah dievakuasi.

Margiyanti, guru kelas empat di Jejeran, mengatakan bahwa gempa bumi 2006, yang mengakibatkan 2.900 gedung sekolah termasuk Jejeran rusak berat, mengajarkan masyarakat setempat mengenai pembangunan kembali dan pentingnya usaha pencegahan.

Indonesia sangat rentan bencana alam sehingga anak-anak harus bersiap, ujar Margiyanti. Jika mereka ada di sekolah atau di rumah, mereka harus tahu apa yang mesti dilakukan, ujarnya.

Pada 2010, Jejeran terlibat dalam kampanye global untuk membuat sekolah-sekolah lebih aman dari bencana alam. Dengan uang dari donor asing, program tersebut mencoba memperbaiki teknik konstruksi bangunan sekolah dan menciptakan kurikulum yang menyiapkan murid untuk bencana.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga telah meluncurkan program untuk merehabilitasi ribuan sekolah di seluruh negeri.


Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan hampir 200.000 sekolah memerlukan renovasi untuk dapat memenuhi standar keamanan global.

“Sekolah-sekolah yang ada sekara
Siswa-siswa SDN Jejeran Yogyakarta berlatih pertolongan pertama pada kecelakaan. (S. Schonhardt/VOA)Siswa-siswa SDN Jejeran Yogyakarta berlatih pertolongan pertama pada kecelakaan. (S. Schonhardt/VOA)
x
Siswa-siswa SDN Jejeran Yogyakarta berlatih pertolongan pertama pada kecelakaan. (S. Schonhardt/VOA)
Siswa-siswa SDN Jejeran Yogyakarta berlatih pertolongan pertama pada kecelakaan. (S. Schonhardt/VOA)
ng sudah tua. Bangunannya tua karena didirikan lebih dari 30 tahun lalu,” ujar Kasim. “Jadi mereka memerlukan renovasi. Saat merehabilitasi gedung, kita harus menggunakan konsep sekolah aman.”

Para pejabat dan pekerja program bantuan mengatakan pemerintah-pemerintah di seluruh wilayah Asia telah membuat kemajuan dalam mengurangi risiko terkait bencana lingkungan. Kamboja, Laos, Filipina dan Burma telah meluncurkan proyek-proyek pilot yang fokus pada pembangunan sekolah yang lebih aman.

Namun masih banyak yang harus dilakukan.

Pada 2008, lebih dari 7.000 bangunan sekolah yang dibangun secara asal ambruk saat gempa berkekuatan 7,9 skala Richter di Provinsi Sichuan di Tiongkok, menewaskan ribuan murid.

Di Filipina, angin topan Durian menyebabkan kerusakan senilai US$20 juta di sekolah-sekolah di tiga provinsi pada 2006.

Meski konstruksi yang lebih baik adalah jantung dari inisiatif sekolah aman, banyak organisasi yang mendorong pendekatan yang lebih luas yang termasuk latihan dan pengetahuan situasi darurat yang mengintegrasikan pendidikan kebencanaan.
 
Di negara berkembang dengan populasi anak-anak yang tinggi, murid-murid seringkali terimbas ketika bencana alam menghancurkan sekolah, dan aktivitas belajar mengajar dihentikan selama beberapa bulan atau lebih lama lagi.

Antony Spalton, spesialis pengurangan risiko dari Dana PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), mengatakan ada hubungan erat antara bahaya dan pembangunan, apakah itu pembangunan ekonomi atau pembangunan sosial.

“Anak-anak dipaksa keluar sekolah karena banjir dan gempa bumi,” ujarnya.

UNICEF sekarang bekerja sama dengan sejumlah organisasi internasional untuk menciptakan tempat dimana pemerintah bisa mendapatkan bantuan teknis mengenai keamanan sekolah dan berbagi pengetahuan.

Lebih dari selusin murid dari seluruh wilayah Asia menghadiri konferensi minggu ini untuk membagi pengalaman mereka. Di Jepang, sekelompok murid telah membentuk klub yang bertemu seminggu sekali untuk membahas cara-cara meningkatkan kesadaran mengenai bencana alam dan pembangunan kembali.

Di Kamboja, Sopaoeurn yang berusia 17 tahun juga membentuk komite manajemen bencana, memimpin inisiatif penanaman pohon dan mendorong sekolah untuk membuat lantai lebih tinggi untuk mencegah banjir bandang yang sering melanda provinsi tempat tinggalnya.

Bencana tidak hanya berdampak pada satu orang, namun banyak orang di seluruh dunia, ujar remaja putri tersebut. Lebih penting lagi, bencana berdampak pada murid-murid sekolah.

Para guru di SDN Jejeran mengatakan mereka siap jika bencana datang lagi. Sekolah tersebut mengadakan latihan secara rutin setiap beberapa bulan sekali untuk menyegarkan kemampuan siswa. Di ruang kelas sudah terpampang tanda-tanda jalur evakuasi.

Sekolah seperti ini masih jarang di negara berkembang, akibat kurangnya pendanaan dan koordinasi yang membuat replikasi program serupa sulit dilakukan. Namun kelompok donor mengatakan mereka membuat kemajuan dengan menyoroti kisah sukses.

Para pejabat lembaga manajemen bencana nasional Indonesia mengatakan membuat sekolah aman adalah prioritas mereka, karena bangunan yang kukuh dan tangguh sangat penting dalam mengajarkan murid, dan seluruh masyarakat, mengenai bagaimana bersiap dan berurusan dengan bencana di masa depan.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook