Rabu, 17 September 2014 Waktu UTC: 11:34

Berita / Ekonomi

Black Friday Tahun Ini Cerminan Masih Lesunya Ekonomi AS

Sejumlah toko membujuk konsumen agar berbelanja lebih awal dengan menjanjikan potongan harga lebih besar.

Jovel Cetoute, setelah mengantri selama berjam-jam di depan Best Buy di Pembroke Pines, Florida, mendapat televisi yang ia idam-idamkan (22/11).
Jovel Cetoute, setelah mengantri selama berjam-jam di depan Best Buy di Pembroke Pines, Florida, mendapat televisi yang ia idam-idamkan (22/11).
Mil Arcega
Konsumen di Amerika membanjiri toko-toko Jumat, (23/11) untuk memanfaatkan diskon besar-besaran sehari sesudah hari raya Thanksgiving, pada hari yang dikenal dengan istilah "Black Friday." Black Friday sekaligus menandai dimulainya musim belanja akhir tahun.

Federasi Peritel Nasional Amerika memperkirakan hingga 147 juta pembeli mendatangi  toko-toko atau berbelanja lewat internet pada minggu setelah hari libur Thanksgiving.

Juru bicara federasi tersebut, Kathy Grannis mengatakan pengecer berharap itu adalah awal terbesar masa berbelanja menjelang libur akhir tahun.

"Secara historis, Black Friday bukan hari tersibuk, tetapi resesi telah benar-benar mengubah cara orang melihat barang-barang yang dijual dengan potongan harga dan kapan mereka bisa mendapat harga termurah," ujar Grannis.

Jadi tahun ini, sebagian jaringan peritel terbesar habis-habisan membuka toko lebih awal dan lebih lama serta menawarkan diskon besar pada barang-barang yang populer seperti TV layar datar di WalMart dan kamera digital 100 dolar di target.

Pemburu barang diskon berkemah di luar toko-toko elektronik untuk menjadi orang pertama yang akan berbelanja. "Saya sangat senang datang awal. Mereka buka sekitar pukul 3 pagi dan kami sudah ada di sini," ujar salah seorang di antaranya.

Tetapi diskon besar, jam buka yang diperpanjang dan tekad pembeli untuk berbelanja, kadang berubah menjadi serbuan massa yang membahayakan, mencerminkan masa sulit ekonomi.

Para pembeli di sebuah toko perhiasan di kota New York pada Black Friday, Jumat (23/11).Para pembeli di sebuah toko perhiasan di kota New York pada Black Friday, Jumat (23/11).
x
Para pembeli di sebuah toko perhiasan di kota New York pada Black Friday, Jumat (23/11).
Para pembeli di sebuah toko perhiasan di kota New York pada Black Friday, Jumat (23/11).
Bisnis khawatir tingginya angka pengangguran dan ketidakpastian anggaran Amerika bisa membuat konsumen menahan diri untuk tidak berbelanja. Sedangkan konsumen berusaha mendapat barang sebanyak mungkin dari uang yang susah payah mereka dapat. Mereka tidak mau lagi membayar dengan harga penuh. Grannis mengatakan, iklim itu menjadi faktor dalam proyeksi terbarunya.

Menurut Grannis, "Tingkat pertumbuhan penjualan menjelang libur akhir tahun akan sedikit berkurang dibandingkan tingkat tahun lalu."

Federasi Peritel Nasional Amerika memperkirakan penjualan ritel menjelang libur akhir tahun akan naik sekitar 4 persen tahun ini. Turun dari 5,6 persen tahun lalu. Tetapi jumlah orang yang berbelanja lewat internet atau melalui telepon naik 17 persen.

Presiden e-commerce Best Buy Scott Durchslag mengatakan online shopping adalah dengan pertumbuhan tercepat bagi pengecer.

"Thanksgiving adalah hari terbesar penjualan secara online bagi kami, malah terbesar dalam setahun. Lalu Cyber Monday setelah itu. Sebenarnya kami memberi penawaran Cyber Monday pada hari Minggu. Kemudian, pekan berikutnya adalah cyber week. Jadi, dua minggu itu betul-betul bagai surga belanja bagi konsumen."

Menurut ekonom, keberhasilan penjualan yang diperluas menjelang libur Natal seharusnya merupakan ukuran akurat bagi kepercayaan konsumen pada ekonomi Amerika. Belanja konsumen sejauh ini adalah penggerak terbesar ekonomi Amerika, mewakili sekitar 70 persen total kegiatan ekonomi.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook