Rabu, 01 Oktober 2014 Waktu UTC: 05:58

Berita / Dunia / Asia Pasifik

Belut Terancam Punah di Asia Timur

Jepang mempertimbangkan dimasukkannya belut ke dalam “daftar merah” spesies-spesies yang terancam keberadaannya.

Belut di peternakan di Gochang, Korea Selatan. (VOA/S. Herman)
Belut di peternakan di Gochang, Korea Selatan. (VOA/S. Herman)
Steve Herman
Jepang bersiap mendeklarasikan situasi darurat untuk belut, dengan gelisah menanti apakah makanan laut populer tersebut harus segera dimasukkan ke dalam “daftar merah” spesies-spesies yang terancam keberadaannya.

Namun langkah tersebut tidak  akan menghalangi penangkapan belut. Sementara itu, Amerika Serikat sendiri sedang mempertimbangkan untuk mendorong pembatasan internasional untuk beberapa jenis belut, dan hal itu dapat berdampak pada perdagangan belut global.

Di peternakan belut Gochang, Korea Selatan, binatang itu sedang diberi makan sebelum nantinya akan dikirim ke dapur-dapur di Asia timur laut, terutama Jepang dan Korea Selatan yang merupakan konsumen belut global terbesar.

Belut, baik dimakan mentah atau dimasak, kaya akan kandungan vitamin, kalsium dan protein. Makanan ini populer terutama pada musim-musim yang lebih panas, untuk menghilangkan kelelahan dan memperkuat stamina.

Spesies yang disukai oleh konsumen di Asia adalah Anguilla japonica, atau belut Jepang. Larva belut ini bermigrasi dari Laut Filipina ke sungai-sungai di Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan, di mana mereka dipancing dengan ganasnya.

Pemilik jaringan restoran belut kelas atas di Jepang, Hiroshi Suzuki, mengatakan tidak ada pengganti yang lebih lezat daripada belut.

“Varietas dari Eropa tau Perancis terlalu banyak kandugnan lemaknya, sehingga tidak cocok dengan saus Jepang yang khusus untuk belut air tawar. Dan belut dari Amerika utara tidak memiliki cukup kandungan lemak sehingga terlalu renyah,” ujar Suzuki.

Kultur air (aquaculture) tidak dapat meniru siklus hidup belut, yang hanya berkembang biak sekali seumur hidup.

Hal ini merupakan tantangan bagi petani perairan, seperti Lee Jae-jung, mantan insinyur di pembangkit listrik tenaga nuklir, yang telah bergelut dengan belut licin selama hampir 30 tahun dan sekarang memroses 190.000 ekor setiap tahun.

“Belut tidak dapat dikembangbiakkan secara artifisial. Hampir semua belut yang diternakkan berasal dari laut. Belut-belut ini dikembangbiakkan di Filipina. Kami menangkapnya jika mereka berenang ke perairan tawar dari laut,” ujar Jae-jung.

Dengan melonjaknya harga belut di restoran dan toko, sepertinya pemilik peternakan seperti yang ada di Korea akan senang. Namun ternyata tidak demikian keadaannya.

“Saat harga belut naik, konsumen cenderung makan lebih sedikit karena mahal. Jadi kami terkena dampak pengurangan konsumsi belut. Namun operasi kami dapat bertahan dalam krisis lebih baik dari kebanyakan yang lainnya,” ujar Jae-jung.

Dalam satu tahun terakhir, harga yang tinggi telah memaksa sekitar satu pertiga restoran belut di Korea Selatan dan Jepang untuk tutup.

Para pemilik restoran lain, seperti Suzuki, mendukung pembatasan perdagangan varietas japonica untuk mempertahankan harga yang tinggi.

“Jika harga turun, toko serba ada dan toko swalayan akan berkompetisi dengan kami untuk pasokan yang terbatas, dan restoran belut tidak akan mendapat jumlah yang cukup,” ujarnya.

Beberapa ahli konservasi mengatakan bahwa diperlukan langkah yang lebih tegas, seperti melarang penangkapan belut dewasa dan membatasi secara ketat penangkapan belut muda. Jika tidak, beberapa belut ini, yang telah hidup puluhan juta tahun, akan punah.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook