Sabtu, 22 Nopember 2014 Waktu UTC: 00:09

Berita / Dunia / Timur Tengah

Konflik Suriah Peruncing Ketegangan Iran-Arab Saudi

Pergolakan di Suriah menyoroti perseturuan pengaruh regional antara Iran dan Arab Saudi, seperti dilaporkan Elizabeth Arrott dari Kairo.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Teheran (foto: dok). Iran mendukung pemerintahan Assad, sementara Saudi mendukung oposisi Suriah.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Teheran (foto: dok). Iran mendukung pemerintahan Assad, sementara Saudi mendukung oposisi Suriah.
Arab Saudi, yang didominasi muslim Sunni dan Iran dengan mayoritas muslim Syiah yang umumnya orang Persia, tampaknya ditakdirkan untuk saling bertentangan, lantaran teluk Parsi yang kaya minyak dan gas bumi.  Hubungan memburuk setelah perang Amerika di Irak, tetapi semakin meruncing  ketika mereka bereaksi terhadap peristiwa setahun ini  di seluruh kawasan itu.
 
Teheran mendukung pergolakan di Tunisia dan Mesir, sementara Arab Saudi mendukung pemerintah di kedua negara itu. Di Suriah, dukungan terbalik, di mana Iran berupaya untuk membuat pemerintah Assad yang  terkepung itu tetap berkuasa dan Arab Saudi mengimbau pemberontak dipersenjatai lebih baik.
 
Peneliti Nadim Shehadi di Chatham House, London mengatakan bukan  kedua negara itu saja yang tampaknya membuat pendekatan yang  bertentangan.  Kata Nadim, "Pergolakan  Arab itu mengejutkan semua orang dan tidak ada satu pemain pun yang kebijakannya konsisten, bahkan Amerika,  Eropa atau Rusia. Oleh karena itu, semuanya selalu tampak berstandar ganda."
 
Di antara standar-standar yang  tidak digunakan oleh Arab Saudi dan Iran, kata beberapa analis politik, adalah hak-hak demokratis kalangan yang  tertindas. Kedua negara tidak memungkinkan protes di dalam negeri mereka,  dengan menggabungkan  razia keamanan dengan janji peningkatan anggaran pemerintah.
 
Berbagai siasat juga dapat dilihat  dalam dukungan atau tentangan  mereka terhadap berbagai kelompok di seluruh pelosok kawasan itu. Abdulaziz Sager, kepala Gulf Research Council, mengatakan Suriah merupakan satu-satunya yang paling terlihat dalam  konfrontasi yang diwakili di kawasan itu.  Selanjutnya, ia mengatakan, "Iran ingin memastikan bahwa Irak, Suriah, Lebanon / Hizbullah, atau apa yang kita sebut Bulan Sabit Syiah, bagi mereka cukup penting untuk mengimbangi kekuatan sisi lain dunia Arab, yaitu  Timur Tengah,  Teluk. Realitanya sekarang ini, merupakan  dua blok."
 
Kedua blok tersebut tercermin di panggung global, dengan Amerika sebagian besar mendukung blok Saudi, dan Rusia berpihak dengan Iran. Tapi Sager mengatakan tidak jelas bahwa dukungan   Syiah akan menjamin pemerintah Suriah memilih Teheran atas Riyadh.
 
Abdulaziz Segar mengatakan, " Secara historis Saudi berhubungan baik dengan Suriah, tapi sayangnya orang Suriah  tidak mendengarkan nasihat Saudi cara seharusnya mereka menangani bentrokan sejak awal."
 
Satu lagi yang diperselisihkan dalam adu kuat antara  Saudi dan Iran adalah  Bahrain, di mana Riyadh membantu  pemerintah Sunni memadamkan  pergolakanyang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai pergolakan  oleh kelompok Syiah yang termaginalkan.
 
Manuver seperti itu, secara teori bisa berlarut-larut, tapi Shehadi mengatakan perubahan permainan sudah diambang pintu.  Jika kini Iran hampir bisa membuat senjata nuklir, seperti yang dikatakan pihak  Barat dan dibantah Teheran, analis seperti Shehadi mengatakan pengaruhnya pada tindakan regional dan global akan sangat mendalam.
 
Shehadi  mengatakan potensi nuklir Iran dapat memungkinkan Teheran memperlakukan setiap negara di kawasan tersebut sama seperti  Uni Soviet memperlakukan  Eropa Timur.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook