Tautan-tautan Akses

Wawancara VOA dengan Ketua PMI Jusuf Kalla mengenai Pengungsi Rohingya


Jusuf Kalla bersama mantan juru runding pemerintah RI dalam perjanjian Helsinki Hamid Awaludin (belakang kiri), Asisten Sekjen OKI, Dr. Atta Abdul Manan (depan kanan), Presiden Qatar Red Crescent Society Mohammed Ghanim A.Al-Maaheed dalam perjalanan ke Na

Jusuf Kalla bersama mantan juru runding pemerintah RI dalam perjanjian Helsinki Hamid Awaludin (belakang kiri), Asisten Sekjen OKI, Dr. Atta Abdul Manan (depan kanan), Presiden Qatar Red Crescent Society Mohammed Ghanim A.Al-Maaheed dalam perjalanan ke Na

Ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla bersama perwakilan OKI mengunjungi kamp pengungsian warga etnis Rohingya dan Rakhine di Burma.

Ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla bersama Asisten Sekjen OKI Atta El-Manan Bakhit dan Presiden Bulan Sabit Merah Qatar Mohammed Ghanim Al-Mahdeed pekan ini mengunjungi warga etnis Rohingya dan Rakhine yang sempat terlibat konflik.

Sebelumnya, Kalla juga menemui Presiden Burma Thein Sein yang memberinya akses untuk mengunjungi lokasi-lokasi para pengungsi dan melihat langsung kondisi mereka. PMI dan OKI berjanji akan membantu membangun 4.000 rumah dari 8.000 rumah yang dibutuhkan warga Rohingya dan Rakhine. Selengkapnya berikut wawancara reporter VOA Eva Mazrieva dan Ketua PMI Jusuf Kalla, setelah tiba kembali di Jakarta hari Sabtu.

VOA: Apa hasil perjalanan Bapak menemui para pengungsi Rohingya di Myanmar? Benarkah PMI dan OKI siap membangun 8.000 rumah untuk mereka?

JK: Tidak bukan begitu. Delapan ribu rumah itu adalah jumlah yang harus dibangun secara keseluruhan. Kami dari PMI dan juga teman-teman dari OKI siap membangun empat ribu rumah.

VOA: Ini akan dibangun dalam waktu berapa lama?

JK: Dalam waktu enam bulan/ asal pemerintah Myanmar menyiapkan lahannya. Sekarang sedang dilakukan relokasi. Dan saya sudah bilang relokasi juga harus sepenuhnya tergantung pada kerelaan pemilik lahan sendiri. Jangan dipaksakan.

VOA: Jadi saya konfirmasi, total rumah yang siap dibangun adalah empat ribu bukan delapan ribu dan kemudian akan bertambah?

JK: Betul, ini semua tergantung cepat lambatnya ketersediaan lahan.

VOA: Apakah pemerintah Burma memberi jaminan bahwa selama persiapan pembebasan lahan dan pembangunan rumah tidak akan terjadi kekerasan lagi terhadap warga Rohingya?

JK: Mereka jamin. Sekarang sih aman-aman saja. Memang ada rasa takut. Tapi, kalau di daerah Rakhine, polisi dan tentara berjaga cukup baik dan mulai minggu kemarin daerah itu sudah terbuka bagi orang luar untuk masuk.

Jusuf Kalla dan Presiden Burma U Thein Shein

Jusuf Kalla dan Presiden Burma U Thein Shein

VOA: Jadi pers, LSM atau lembaga bantuan internasional boleh masuk?

JK: Boleh masuk. Pas saya datang ke sana sudah boleh masuk. Sebelum saya datang, sudah ada tim PBB, lalu saya dan OKI. NGO dari negara-negara Islam juga diizinkan masuk.

VOA: Bapak sudah datang langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi warga Rohingya. Benarkah kondisinya seperti yang kita lihat melalui foto atau video bahwa mereka dikejar-kejar, dibantai dan dibunuh?

JK: Tidak semua benar. Yang saya lihat, meskipun memang ada daerah-daerah lain, tapi yang yang saya lihat, mereka dialokasikan di satu kawasan pengungsian. Di kamp yang saya datangi 14.000 orang. Total jumlah pengungsi ada 60.000 orang.

VOA: Bapak sempat berkomunikasi dengan mereka? Apa yang mereka sampaikan?

JK: Sempat. Mereka merasa mereka tidak aman, tidak ada makanan dan air bersih dan ketakutan.

VOA: Benarkah ini konflik antar agama?

JK: Ini bertingkat-tingkat. Awalnya konflik komunitas antar warga, masalah kriminal yang melibatkan beberapa orang yang kemudian menjadi konflik komunal yang mengarah ke agama. Ini sama seperti yang terjadi di Ambon. Konflik kriminal meluas ke konflik komunal dan kemudian masuk sentimen agama.

VOA: Apakah warga Rohingya memang tinggal di komunitas atau daerah tersendiri? Lalu mengapa harus semua warga mengungsi dari situ jika hanya merupakan konflik komunal biasa? Tidak bisakah diselesaikan dengan pendekatan keamanan?

JK: Itu semua kena! Sebenarnya saling balas-membalas. Jadi, warga Rohingya kena, warga Rakhine juga kena. Hanya yang paling banyak terkena adalah orang Rohingya. Tapi, orang Rakhine juga ada.

VOA: Masih adakah yang melarikan diri ke luar Burma? Ke Bangladesh dan sebagainya?

JK: Yang ke Bangladesh masih ada, tapi pemerintah Bangladesh sudah menutup perbatasannya.

VOA: Bapak juga sempat bertemu langsung dengan Presiden Thein Sein. Adakah yang Bapak sampaikan untuk membantu warga Rohingya ini?

JK: Iya, saya bilang kita perlu selesaikan secara harmonis, jadi kami datang untuk membantu kedua belah pihak supaya ada harmoni baru. Tapi, segera kita akan bantu rehab rumah-rumah yang terbakar dan rusak.

VOA: Presiden Thein Sein tidak menganggap kedatangan Bapak sebagai intervensi atas urusan dalam negeri Burma?

JK: Tidak ini murni kemanusiaan. Saya hanya bicara kemanusiaan. Saya menjalankan diplomasi kemanusiaan, bukan diplomasi politik.

VOA: Bapak datang ke sana bersama OKI saja atau ada lembaga lain yang ikut?

JK: Saya datang bersama Wasekjen OKI Atta El Manan Bakhit dan Presiden Bulan Sabit Merah Qatar Mohammed Ghanim Al-Mahdeed. Sebenarnya masih banyak yang mau ikut. Cuma saya batasi tiga orang dulu. Teman-teman dari Qatar, Arab Saudi dan Kuwait mau ikut. Tapi, saya bilang ini baru pendahuluan jadi cukup tiga orang dulu. Nanti baru kita datang lagi, karena kita masih harus membuat MOU-nya. Sekarang masih ada Sekjen PMI disana mempersiapkan MOU dengan pemerintah setempat supaya ada payung hukum untuk kita masuk lagi.

VOA: Apa isi MOU nantinya?

JK: Macam-macam. Ada soal kehadiran kami, bantuan pembangunan perumahan, makanan dll.

VOA: Baik, Pak JK, terima kasih atas kesempatan wawancaranya. Semoga nanti kalau Bapak pergi lagi kita bisa ikut serta. Wassalammualaikum wr. wb.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG