Tautan-tautan Akses

Warga Syiah Sampang Berharap Ramadan Terakhir di Pengungsian

  • Petrus Riski

Sejumlah anak menuliskan harapan mereka melalui Pohon Harapan sebagai ungkapan kerinduan pada kampung halaman setelah 4 tahun menjadi pengungsi, Jumat, 1 Juli 2016. (VOA/Petrus Riski)

Sejumlah anak menuliskan harapan mereka melalui Pohon Harapan sebagai ungkapan kerinduan pada kampung halaman setelah 4 tahun menjadi pengungsi, Jumat, 1 Juli 2016. (VOA/Petrus Riski)

Ratusan warga Syiah Sampang yang menjadi pengungsi di rumah susun Puspa Argo, Jemundo, Sidoarjo, berharap campur tangan pemerintah pusat untuk mengembalikan mereka ke kampung halaman, setelah 4 tahun menjadi pengungsi akibat konflik sosial berlatarbelakang keyakinan.

Puluhan anak usia Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, duduk di lantai beralas tikar, di salah satu selasar rumah susun Puspa Argo, di Kecamatan Jemundo, Kabupaten Sidoarjo. Sore itu mereka berkumpul untuk melakukan persiapan buka bersama, sambil mendaraskan doa serta ayat suci al-Quran. Dipandu beberapa aktivis perempuan dan anak yang ada di pengungsian itu, anak-anak itu sebelumnya bermain bersama dan menuliskan harapan mereka di “Pohon Harapan” yang terpampang di salah satu dinding.

Suwaiyah, salah seorang anak yang ikut mengisi kolom kosong pada “Pohon Harapan” menuturkan keinginannya untuk kembali pulang ke kampung halaman, meski pun hanya melalui sederet tulisan.

“Saya ingin pulang ke Madura, ingin bermain sama teman-teman lagi dan berkumpul bersama-sama, kangen sama teman-teman," katanya.

Mufid, seorang anak yang lain mengatakan, harapan yang dituliskannya ditujukan kepada Presiden, supaya membantu para pengungsi kembali ke kampung halamannya.

“Saya berharap ingin cepat pulang, saya mewakili pengungsi. Ditujukan pada Presiden biar Presiden tahu apa kemauannya pengungsi, ingin cepat pulang ke Madura,” katanya.

Warga Syiah Sampang telah menghuni rumah susun di Jemundo, Sidoarjo selama lebih dari 4 tahun, pasca kerusuhan yang mengakibatkan terbakarnya rumah serta tempat ibadah warga Syiah di Omben, Sampang pada Desember 2011 lalu.

Muhaimin, mengaku terus berharap tidak lagi menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Hari Raya Idul Fitri di pengungsian, meski dirinya tidak tahu kapan harapan itu akan terwujud.

“Ya pastinya harapan itu setiap tahun, setiap ramadhan, ketika kita diungkit kembali, diulang kembali peristiwa itu, ya kita pasti menginginkan Ramadan ini adalah bulan ramadhan terakhir (di pengungsian), pastinya itu, setiap tahunnya seperti itu, namun sekian sudah lama harapan itu namun belum tercapai,” tambahnya.

Umi Khulsum juga berharap Hari Raya Idul Fitri kali ini dapat pulang sejenak ke kampung halamannya, untuk mengunjungi makam keluarga yang ada di kampung halaman.

“Kami semua disini berharap (warga) disana bisa menerima, mau ziarah lebaran ini,” ujarnya.

Umi Khulsum menegaskan, sudah tidak lagi merasa sakit hati pada orang-orang yang mengakibatkan keluarganya terusir dari kampung halaman, karena telah menganggap mereka sebagai saudara.

“Kami tidak ada permusuhan disini, walau pun kami disakiti, rumah dibakar, kita tidaka da sakit hati, tidak dendam, bagaimana pun juga disana juga saudara,” katanya.

Sementara itu, aktivis perempuan dan anak Jawa Timur, Erma Susanti mengungkapkan, pemerintah harus bertindak capat untuk menyelesaikan permasalahan konflik yang menimpa warga Syiah Sampang, serta mengembalikan hak mereka sebagai warga negara yang dilindungi Undang-undang, khususnya bagi perempuan dan anak-anak.

“Banyak yang drop out, banyak yang lahir di sini (pengungsian), tidak di rumah sakit. Kesehatan juga tidak terlalu terpenuhi, kayak sekolah itu kan mereka sekolah diadakan sekolah khusus di sini dan kayaknya tidak seperti standard, ya meski pun katanya standard tapi kan hanya berapa jam, dan banyak yang tidak lulus, artinya kalau tidak lulus kan berarti ada persoalan kualitas,” jelasnya.

Sampai saat ini ada 86 keluarga dan lebih dari 300 jiwa, yang menanti kepastian penyelesaian kasus ini oleh pemerintah. [pr/em]

XS
SM
MD
LG