Tautan-tautan Akses

UNICEF: Krisis di Yaman Sengsarakan Jutaan Anak Yaman


Anak-anak bermain di sebuah mobil yang rusak pasca kerusuhan di negara itu antara pemerintah dan milisi Muslim Syiah Houti, di kota Taiz, Yaman (13/2).
Anak-anak bermain di sebuah mobil yang rusak pasca kerusuhan di negara itu antara pemerintah dan milisi Muslim Syiah Houti, di kota Taiz, Yaman (13/2).

UNICEF memperingatkan krisis politik di Yaman kemungkinan akan menjerumuskan jutaan anak ke dalam jurang kemiskinan

UNICEF mengatakan tingkat gizi yang buruk cenderung meningkat dan pendidikan bagi anak-anak akan terganggu.

Yaman adalah salah satu negara termiskin di dunia. Sebelum terjerumus krisis politik baru-baru ini, lebih dari 60 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.

Perwakilan UNICEF di Yaman, Julien Harneis, mengatakan situasi penuh gejolak saat ini cenderung bertambah meningkatkan angka kemiskinan.

Berbicara melalui telepon dari ibukota, Sana'a, pejabat UNICEF mengatakan negara itu sangat tergantung pada bantuan asing dan kekacauan politik menempatkan hal itu dalam bahaya. Bila bantuan hilang, katanya, pemerintah tidak akan mampu memberi pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Ini sangat mengkhawatirkan bagi kami, karena artinya kami memperkirakan makin banyak anak-anak yang kurang gizi dan tidak dapat bersekolah. Itu adalah tragedi karena meskipun semua masalah Yaman telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, kami melihat kemajuan. Gejolak dalam lima tahun terakhir telah turun dari hampir 70 persen menjadi kira-kira 48 persen. Kami berhasil menyediakan pendidikan tingkat sekolah dasar bagi anak perempuan dan laki-laki hingga 70 persen,” kata Harneis.

Harneis mengatakan kemajuan ini kemungkinan akan lenyap jika situasi ini terus berlanjut. Kini, ia mencatat kira-kira 900 ribu anak-anak kurang gizi gawat dan kira-kira 210 ribu menderita gizi buruk. Ia mengatakan kekhawatiran terbesar adalah Yaman akan kehabisan vaksin untuk penyakit seperti polio dan tuberkulosis.

Ia mengatakan ada cukup persediaan untuk saat ini, tetapi kemungkinan rantai pasokan vaksin akan terganggu dalam bulan depan sampai enam minggu mendatang.

Ini sangat mengkhawatirkan karena Yaman adalah titik transit bagi penduduk yang datang dari wilayah Tanduk Afrika dan pindah ke bagian lain dari wilayah tersebut. Dan itu berarti termasuk tempat-tempat seperti Somalia. Jadi, kami sangat prihatin karena jika ada gangguan dalam rantai pasokan dan penyediaan vaksin polio, mungkin berdampak kembalinya penyakit polio di Yaman,” lanjut Harneis.

UNICEF merawat 160 ribu anak dengan kondisi malnutrisi buruk dan menyediakan air minum yang aman bagi hampir 900 ribu orang di Yaman. UNICEF juga telah membangun dan memugar banyak sekolah di seluruh negeri, menyediakan lingkungan belajar yang aman bagi lebih dari setengah juta anak-anak.

UNICEF meminta dana $ 60 juta agar dapat melanjutkan operasi kemanusiaan di Yaman sepanjang tahun ini.

XS
SM
MD
LG