Tautan-tautan Akses

Trump akan Beberkan Rencana untuk Tangani Terorisme 


Kandidat Presiden AS dari partai Republik, Donald Trump saat berkampanye di Abingdon, Virginia (10/8).

Kandidat Presiden AS dari partai Republik, Donald Trump saat berkampanye di Abingdon, Virginia (10/8).

Dalam berbagai kampanye dan wawancara pekan lalu, Donald Trump mengulang-ulang klaim bahwa, karena kebijakan-kebijakannya, Presiden Barack Obama dan menteri luar negerinya ketika itu Hillary Clinton, menciptakan kelompok ISIS.

Sepekan setelah ia menuduh Presiden Amerika Barack Obama dan calon presiden dari partai Demokrat Hillary Clinton sebagai “pendiri” kelompok ekstremis ISIS, calon presiden dari partai Republik Donald Trump pekan ini diperkirakan akan menguraikan rencananya untuk menangani terorisme internasional.

Dalam berbagai kampanye dan wawancara pekan lalu, Donald Trump mengulang-ulang klaim bahwa, karena kebijakan-kebijakannya, Presiden Barack Obama dan menteri luar negerinya ketika itu Hillary Clinton, menciptakan kelompok ISIS.

“Saya telah mengatakan bahwa Barack Obama adalah pendiri. Barack Obama, nomor satu, tidak kompeten, dan nomor dua, ingat ini, nomor dua, ia adalah pendiri dalam arti sesungguhnya,” kata Donald Trump, kandidat Presiden dari partai Republik.

Trump belakangan mengatakan ia bersikap “sarkastis” sewaktu mengeluarkan pernyataan-pernyataan tersebut, tetapi tetap berpendapat bahwa kebijakan-kebijakan Obama membantu kelompok ekstremis itu mengembangkan kekuataannya.

Tim kampanye Trump menyatakan calon presiden dari partai Republik itu hari Senin dijadwalkan akan menguraikan rencananya untuk memerangi militan ISIS di Timur Tengah. Berbicara hari Minggu dalam acara "This Week" di stasiun televisi ABC, pendukung Trump, Senator Jeff Sessions menyampaikan tinjauan awal mengenai pidato Trump nanti.

“Ia akan berbicara mengenai cara kita memulihkan kredibilitas dengan sekutu-sekutu dan teman-teman kita di kawasan yang sama-sama memusuhi dan menolak terorisme seperti ini. Ia akan berbicara mengenai cara menarget musuh-musuh dan bekerjasama dengan teman-teman kita. Kami tidak akan memperdaya dan menggoyahkan negara-negara seperti yang dilakukan Obama dan Clinton,” kata Senator Jeff Sessions.

Berbicara dalam acara yang sama, mantan Direktur CIA dan mantan Menteri Pertahanan di bawah pemerintahan Obama, Leon Panetta, mengatakan, Trump perlu menguraikan rincian rencananya.

“Menurut saya inilah yang patut dilakukan Donald Trump, daripada mengeluarkan sejumlah klaim keterlaluan, bahwa entah bagaimana Presiden Obama adalah pendiri ISIS, yang merupakan suatu kebohongan. Ia harus mengemukakan strategi apa yang akan ia terapkan untuk menaklukkan ISIS. Ia malah mengatakan punya rencana rahasia, dan tak seorang pun tahu apa rencana tersebut,” kata Leon Panetta.

Banyak mantan pejabat dari partai Republik, sebagian besar berdinas dengan posisi tinggi selama masa pemerintahan mantan Presiden George H.W. Bush dan Presiden George W. Bush, dua presiden terakhir dari partai Republik, yang dalam beberapa hari belakangan ini menyatakan tidak akan mendukung pencalonan Trump. Mereka kerap menyatakan bahwa ia tidak siap memimpin negara dan tidak memiliki karakter yang tepat sebagai pemimpin.

Yang terbaru menolak kampanye Trump adalah menteri perdagangan pada era George W Bush, Carlos Gutierrez.

Para petinggi partai Republik di Washington sedang mempertimbangkan apakah akan membatalkan dukungan finansial untuk Trump dan memusatkan upaya mereka pada calon-calon partai Republik yang bersaing untuk menjadi anggota Senat dan DPR di Kongres Amerika. Trump mengatakan ia akan berhenti menggalang dana bagi partai Republik jika partai itu membatalkan dukungan terhadapnya.

Sementara itu, Hillary Clinton dijadwalkan berkampanye antara lain di Pennsylvania, Ohio, dan North Carolina, negara-negara bagian yang disebut sebagai “medan pertempuran” yang bisa menentukan hasil pemilu. Berbagai jajak pendapat umum belakangan ini menunjukkan ia unggul tipis atau keunggulannya semakin besar di negara-negara bagian tersebut. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG