Tautan-tautan Akses

Tersangka Pemenggalan di Perancis Bantah Ada Motif Agama


Tersangka pelaku serangan terhadap perusahaan gas dikawal oleh polisi di Saint-Priest, dekat Lyon, Perancis (28/6).

Tersangka pelaku serangan terhadap perusahaan gas dikawal oleh polisi di Saint-Priest, dekat Lyon, Perancis (28/6).

Pria yang ditahan di Perancis atas dugaan memenggal atasannya dan mencoba meledakkan sebuah pabrik, mengatakan kepada penyelidik tidak ada motif atas dasar agama di balik serangan ini, menurut sebuah sumber, Senin (29/6).

Sumber tersebut mengatakan Yassin Salhi, 35 tahun, mengatakan kepada para penyelidik ia bukan seorang "jihadi" dan mengulangi kembali pernyataannya bahwa ia melakukan pemenggalan di kota sebelah tenggara Lyon hari Jumat setelah bertengkar dengan isterinya sehari sebelumnya dan dengan atasannya beberapa hari sebelumnya.

Salhi, yang ditahan di tempat kejadian perkara, Jumat, dapat ditahan hingga 96 jam di bawah hukum Perancis sebelum dikenakan dakwaan atau dibebaskan.

Kepala atasannya yang dipenggal ditemukan di pintu gerbang pabrik yang dimiliki oleh perusahaan gas dan bahan kimia AirProducts, yang berbasis di Amerika. Saat ditemukan, kepala tersebut digantung di samping bendera-bendera bertuliskan ayat-ayat dalam bahasa Arab.

Pemeriksaan terhadap salah satu ponsel Salhi menemukan ia berfoto 'selfie' dengan kepala yang dipenggal sebelum ia ditangkap dan mengirim gambar tersebut ke sebuah nomor yang dimiliki seorang warga negara Perancis yang diduga berada di Raqqa, Suriah, sebuah daerah yang sering disebut sebagai "ibukota" ISIS.

Serangan hari Jumat menimbulkan kekhawatiran baru di Perancis kurang dari enam bulan setelah serangan di bulan Januari terhadap tabloid Charlie Hebdo dan sebuah supermarket Yahudi di Paris.

Perdana Menteri Manuel Valls telah mengatakan bahwa ancaman terhadap Perancis, yang tergabung dalam koalisi internasional melawan ISIS di Irak, berada dalam tingkat siaga tertinggi. Sejumlah lokasi di berbagai wilayah Perancis berada di bawah pengamanan ketat.

Pihak berwenang Perancis mengatakan Salhi sering menjalin kontak dengan tokoh Islam radikal. Antara tahun 2006 hingga 2008, Salhi berada di bawah pengamatan aparat sebagai seseorang yang berisiko menjadi radikal, namun ia tidak memiliki catatan kriminal dan tidak menunjukkan tanda-tanda mempersiapkan serangan apapun.

Media lokal mengutip para saksi yang mengatakan Salhi, ayah tiga anak ini, memiliki temperamen yang tidak stabil. Termasuk di antara para saksi, instruktur bela dirinya yang mengatakan Salhi sering menunjukkan perilaku agresif, sehingga rekan-rekannya di kelas bela diri enggan untuk berlatih dengannya.

XS
SM
MD
LG