Tautan-tautan Akses

Teater Gandrik Ubah Kisah Pahlawan Super Jadi Kritik Sosial

  • Munarsih Sahana

Gundala (tengah), ayahnya Petir dan istrinya Sedah dalam pertunjukan berjudul "Gundala Gawat" dari Teater Gandrik Yogyakarta. (VOA/Munarsih Sahana)

Gundala (tengah), ayahnya Petir dan istrinya Sedah dalam pertunjukan berjudul "Gundala Gawat" dari Teater Gandrik Yogyakarta. (VOA/Munarsih Sahana)

Teater Gandrik di Yogyakarta mementaskan “Gundala Gawat” karya budayawan Goenawan Mohamad, parodi kisah pahlawan super yang dijadikan kritik sosial.

Setelah sukses dipentaskan oleh Teater Gandrik di Yogyakarta, pekan lalu, pertunjukan drama komedi yang sarat dengan kritik sosial berjudul “Gundala Gawat” karya penyair dan penulis Goenawan Mohamad, akan dipentaskan di Jakarta dan Surabaya serta kota-kota lain di Indonesia.

Gundala Gawat mengangkat kisah pahlawan super lokal bernama Gundala Putra Petir yang populer dalam komik karya Hasmi Suraminata, yang juga bermain dalam pementasan ini. Gundala dituduh warga bersekongkol dengan ayahnya, Petir, karena setiap ada serangan petir selalu terjadi perampokan bank.

Di akhir cerita, Gundala bersama pahlawan super lokal lainnya diperintahkan oleh komikus Hasmi untuk menyusup kedalam kelompok lawan. Namun Gundala terperangkap tidak berdaya sementara pahlawan lainnya berbalik ikut melakukan perampokan.

Pementasan drama oleh Teater Gandrik Yogyakarta tersebut penuh humor dan kritik sosial seperti penyertaan peristiwa penyerangan lapas Cebongan, kegagalan Ujian Nasional dan kasus-kasus korupsi.

Menurut Goenawan, drama tersebut lebih sebagai gurauan yang tidak harus ditanggapi secara serius.

”Ini bergurau, kalau kita melihat lelucon lalu dicari maknanya maka leluconnya hilang. Karena melihat hidup secara arif kan, bahwa..ya, kita harus bisa ketawa untuk hal-hal yang serius juga,” ujarnya baru-baru ini di Yogyakarta.

Dalang dan penulis Sudjiwo Tedjo mengaku kaget karya Goenawan penuh lelucon, meskipun ia menilai karya tersebut masih mirip dengan kolom Catatan Pinggir karya penulis yang sama yang rutin dimuat majalah Tempo.

“Ini kelanjutan dari Catatan Pinggir. Catatan Pinggir versi ndeso, versi kethoprakan. Justru guyonan itu sangat serius menurut saya, dengan menulis ini respons nya lebih banyak daripada ia menulis Catatan Pinggir,” ujarnya.

Sutradara dan penata musik Djaduk Ferianto mengatakan, ia puas dengan pentas di Taman Budaya Yogyakarta 16 dan 17 April dengan penonton yang berjubel. Tiket untuk pentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta 26 dan 27 April sudah habis terjual sehingga ada pementasan tambahan malam berikutnya. Pada Juli, Teater Gandrik akan pentas di Surabaya dan ke kota-kota lainnya di Indonesia.

“Moga-moga nanti untuk Jakarta lebih cair, lebih nikmat dan lebih terjaga (permainannya). Kalau untuk Jakarta, perubahannya yang lokal Jawa mungkin sedikit dijadikan bahasa Indonesia atau mungkin dengan aktualitas yang terjadi di Jakarta,” ujarnya.

Salah satu penonton, Ria yang selama ini aktif dalam pementasan teater boneka Papermoon merasa bangga pada pementasan drama Gundala Gawat. Sebab, pementasan seperti ini terbilang langka, mengingat penyelenggaraannya tidak mudah dan sulit mencari dukungan sponsor.

“Sangat senang karena ini kesempatan mewah menurutku, karena makin ke sini makin jarang orang yang konsentrasi dan terus mau untuk berteater dan dengan pilihan-pilihan cerita naskah yang sehari-hari,” ujarnya.

Dayat, penggemar Teater Gandrik, menyukai kritik tajam terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar masyarakat namun disampaikan dengan gaya humor.

“Berbobot meskipun ini sebenarnya ringan, mengambil dari cerita komik tapi memberikan kritik yang cukup dalam,” ujarnya.
XS
SM
MD
LG