Tautan-tautan Akses

Siswa Imigran Tidak Khawatir tentang Perang Isu Imigran


Debat seru terjadi terkait isu imigrasi dalam kampanye pemilihan presiden AS, yang dimulai oleh kandidat dari Partai Republik, Donald Trump yang ingin 11 juta imigran ilegal dideportasi. Tapi sekelompok siswa tanpa dokumen resmi di kampus-kampus kota New York, yang sementara terlindung dari deportasi, memandang isu ini dari perspektif yang berbeda.

Retorika bakal calon presiden dari partai Republik, Donald Trump, termasuk himbauan untuk deportasi masal, menuai reaksi keras selama perjalanan kampanyenya.

“Ketika Meksiko mengirimkan orang-orangnya (ke Amerika), mereka membawa obat-obatan, mereka membawa kejahatan, mereka pemerkosa, dan hanya beberapa, saya berasumsi, yang baik," kata Trump dalam pernyataannya yang kontroversial.

Tapi di kampus-kampus City of New York University, atau yang dikenal dengan CUNY, beberapa siswa yang beresiko dideportasi tidak terlalu khawatir.

“Saya pikir (Trump) adalah seorang bully. Hidup ini penuh dengan orang-orang bully. Dan satu-satunya cara untuk mengatasi mereka adalah tidak menghiraukan mereka," kata Tatiana Borda, seorang siswa CUNY.

Tatiana adalah salah satu dari anggota kelompok CUNY DREAMers, siswa yang datang ke AS secara ilegal ketika masih kecil, tapi dilindungi dari deportasi oleh Presiden Obama. Mereka mengatakan kritik pedas tentang imigran bukan berita baru.

“Baru-baru ini ada beberapa hal provokatif yang dilontarkan seseorang, dan, terus terang, saya tidak terpengaruh dengan perkataan itu," kata Josepha Helstone, siswa CUNY lainnya.

Pembawa berita televisi Hispanik Jorge Ramos mengatakan betapa isu ini telah menjadi besar setelah perdebatan dengan Trump dalam sebuah konferensi pers dan menyebabkan Ramos pergi dari acara tersebut.

Sementara itu, seorang bakal calon presiden lainnya dari Partai Republik, mantan Gubernur Florida Jeb Bush, sangat kritis terhadap rencana deportasi Trump.

“Trump yakin bahwa orang bisa diperlakukan dengan seenaknya karena ia adalah seseorang yang sukses dan ia bisa menyuruh orang lain melakukan itu dan semuanya beres," kata Bush.

Siswa Dreamer Francisco Tecaxco hanya menginginkan bakal calon presiden berhati-hati dengan apa yang mereka lakukan.

“Banyak orang Republik melihat siswa atau imigran ilegal sebagai kriminal. Dan semua komentar negatif itu, kami menunjukkannya bahwa itu tidak benar, banyak di antara mereka adalah siswa yang baik. Kami kuliah, kami berhasil diterima kuliah," kata Tecaxco.

Para siswa ini tahun bahwa presiden berikutnya tidak akan menduduki posisi mereka hingga satu setengah tahun ke depan. Saat itulah mereka baru akan memikirkan kemungkinan deportasi.

XS
SM
MD
LG