Tautan-tautan Akses

Sistem Kesehatan yang Buruk di Asia Picu Kekhawatiran Soal Ebola


Seniman pasir Sudarshan Pattnaik membuat patung dengan pesan terkait Ebola di pantai di Puri, negara bagian Odisha di India timur (17/10).

Seniman pasir Sudarshan Pattnaik membuat patung dengan pesan terkait Ebola di pantai di Puri, negara bagian Odisha di India timur (17/10).

Wilayah Asia sangat beragam kapasitasnya, dan ada beberapa negara dengan warga yang sering bepergian yang mungkin tidak memiliki infrastruktur terbaik dan berisiko sangat tinggi.

Semakin lama wabah Ebola berkecamuk di Afrika Barat, semakin besar peluang orang yang terinfeksi virus ini untuk sampai di kota di Asia.

Seberapa cepat kasus ini terdeteksi, dan langkah-langkah yang diambil setelahnya, akan menentukan apakah virus itu menguasai wilayah tempat miliaran orang hidup dalam kemiskinan dan sistem-sistem kesehatan publik seringkali sangat lemah.

Pemerintah-pemerintah di wilayah ini meningkatkan rencana-rencana tanggapan, meningkatkan pemantauan di bandara-bandara dan mempertimbangkan langkah-langkah karantina. Tetap saja, para ahli kesehatan di negara-negara yang kurang maju di wilayah ini takut wabah yang terjadi akan mematikan dan sulit ditanggulangi.

"Ini adalah penyakit yang tidak dapat dirawat dengan angka kematian yang sangat tinggi. Dan bahkan sebuah negara seperti Amerika Serikat tidak dapat dengan tuntas mencegahnya," ujar Yatin Mehta, seorang spesialis perawatan kritis di rumah sakit Medanta Medicity dekat New Delhi.

"Pemerintah melakukan upaya, melakukan persiapan dan pelatihan, namun catatan penanggulangan bencana kami sangat buruk di masa lalu."

Lebih dari 10.000 orang telah terinfeksi Ebola dan hampir setengah dari mereka telah meninggal, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). Epidemi Ebola di Afrika Barat merupakan wabah terbesar penyakit itu yang pernah ada dengan angka kematian yang meningkat pesat di Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Ada juga kasus-kasus di tiga negara Afrika Barat lainnya, Spanyol dan Amerika Serikat.

Gejala awal Ebola termasuk demam, sakit kepala, sakit badan, batuk, sakit perut, muntah-muntah dan diare, dan pasien tidak tertular sampai gejala-gejala ini dimulai. Virus memerlukan kontak dekat dengan cairan tubuh untuk menyebar sehingga para pekerja kesehatan dan anggota keluarga yang merawat pasien adalah orang-orang yang paling berisiko.

Asia, tempat 60 persen populasi dunia, memiliki angka lebih tinggi dari Afrika Barat dalam sebagian besar indeks-indeks pembangunan dan termasuk dalam negara ekonomi baru atau maju seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan dan Jepang. Namun negara-negara seperti India, China, Filipina dan Indonesia memiliki jumlah orang miskin yang besar, banyak diantaranya tinggal di perumahan-perumahan kumuh yang padat, dan sistem kesehatan yang kekurangan dana.

Pemerintah Filipina memperkirakan ada sampai 1.700 pekerja Filipina di Liberia, Sierra Leone dan Guinea, dan lebih daripada 100 anggota pasukan penjaga perdamaian di LIberia.

Departemen Kesehatan Filipina menyarankan periode karantina 21 hari sebelum warga meninggalkan ketiga negara tersebut, namun tidak tahu bagaimana membayar hal tersebut, menurut juru bicara Lyndon Lee Suy.

Indonesia telah memerintahkan 100 rumah sakit yang berpengalaman merawat pasien-pasien penderita flu burung bersiap untuk Ebola, menurut Tjandra Yoga Aditama, kepala dewan riset dan pengembangan Kementerian Kesehatan.

Satu-satunya cara untuk menjamin virus tidak menyebar ke dalam satu negara adalah melaksanakan karantina untuk orang-orang yang datang dari negara-negara dengan wabah atau, bahkan lebih efektif adalah larangan bepergian secara total.

Namun langkah-langkah tersebut dapat berarti bahwa dokter-dokter dan para hali lain yang mencoba mengalahkan virus itu di sumbernya di Afrika Barat akan lebih enggan atau tidak dapat membantu, membuat wabah semakin parah.

Bandara-bandara di Asia telah meningkatkan pertahanannya dengan menyaring para penumpang yang datang dari negara-negara terimbas. Pihak berwenang di China mengatakan 8.672 orang telah memasuki provinsi Guangdong di selatan dari wilayah-wilayah yang terkena Ebola sejak 23 Agustus.

Di Hong Kong, sekitar 15 penumpang sehari tiba dari wilayah yang terdampak, menurut kepala petugas kesehatan pelabuhan Dr. Edwin Tsui Lok-kin. Sebelum wabah Ebola, ada sekitar 30 orang yang tiba setiap bulan di Singapura secara kolektif dari Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Dale Fisher, kepala divisi punyakit menular di rumah sakit Singapore National University, mengatakan pemerintah-pemerintah di wilayah ini harus mengedukasi para pekerja kesehatan mengenai penyakit ini dan menanyakan pada seseorang yang terkena demam mengenai sejarah bepergian mereka.

"Wilayah Asia sangat beragam kapasitasnya, dan ada beberapa negara dengan orang-orang yang banyak bepergian yang mungkin tidak memiliki infrastruktur terbaik dan berisiko sangat tinggi," ujar Fisher, yang sudah ke Liberia dua kali untuk membantu respon WHO.

"Jika ada kasus pertama yang teridentifikasi di sebuah kota Asia yang besar dan mereka duduk di ruang terbuka sambil muntah, maka pekerjaan kita sangat besar."

Ia mengatakan sebuah wabah dapat dikontrol dengan isolasi cepat dan pelacakan efektif atas seseorang yang mungkin melakukan kontak dengan pasien, mengutip contoh Nigeria, negara terpadat di Afrika. Negara tersebut dideklarasikan bebas Ebola setelah mengukuhkan 19 kasus, tujuh diantaranya fatal.

Sujatha Rao, mantan menteri kesehatan India, mengatakan sistem kesehatan India cepat tanggap jika dihadapkan pada krisis kesehatan, seperti terlihat dalam pandemi H1N1 2009.

"Di India, kita sangat handal dalam pengelolaan krisis, tapi buruk dalam perawatan rutin," ujar Rao.

Saat ditanya apakah negara tersebut siap untuk Ebola, ia menambahkan: "Kita tidak siap. Tapi persiapan dari negara manapun juga memang terbatas." (AP)

XS
SM
MD
LG