Tautan-tautan Akses

Setahun Kemudian, 2.350 Keluarga Korban Merapi Masih Tinggal di Hunian Sementara

  • Nurhadi Sucahyo

Gunung Merapi mengeluarkan lahar panas seperti terlihat dari desa Cangkarang, Yogyakarta tahun 2006 silam. Saat ini ribuan keluarga masih menempati hunian sementara (foto: dok).

Gunung Merapi mengeluarkan lahar panas seperti terlihat dari desa Cangkarang, Yogyakarta tahun 2006 silam. Saat ini ribuan keluarga masih menempati hunian sementara (foto: dok).

Gunung Merapi di Yogyakarta meletus 26 Oktober hingga 5 November tahun lalu, dan hingga kini masih ribuan korban tinggal di hunian sementara.

Khutbah Jumat yang berisi nasehat agar menjalani cobaan dengan kesabaran berkumandang di Masjid Muhtadin, Desa Argomulyo, Sleman, Yogyakarta. Tentu ini bukan pertama kali, pemuka agama setempat memberi nasehat semacam itu kepada warga yang juga menjadi korban letusan Gunung Merapi setahun yang lalu. Untunglah, menurut pemuka agama di dusun ini, Ichsan Suparjio, mayoritas warga mampu menerima keadaan. Ia bahkan menilai, korban letusan Merapi di dusun itu justru jauh lebih dekat kepada agama setelah terjadi bencana.

Ia mengatakan, ”Untuk ibadah, lebih ada perbaikan. Mungkin karena penderitaan atau apa, cobaan dari Yang Maha Kuasa itu, mungkin ada perubahan sikap."

Kesabaran memang menjadi satu-satunya pilihan, karena hingga kini dari sisi ekonomipun, korban letusan Merapi belum ada banyak perubahan. Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto menceritakan, warganya yang kini tersebar di berbagai kompleks hunian sementara, memilih bekerja seadanya demi menyambung hidup. Mereka antara lain ada yang beternak lele, mengumpulkan batu dan pasir, atau menjadi kuli proyek-proyek padat karya yang diprogramkan pemerintah untuk memberi pekerjaan kepada korban letusan Merapi.

”(Untuk) memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada yang kerja di PNPM Mandiri, membuat talud, dan juga di Rekompak membuat jalan lingkungan, dan juga ada yang cari batu, juga ada yang bakul (pedagang kecil),” ujar Heri.

Kepada VOA, Heri mewakili warga juga berharap pemerintah pusat segera mencairkan dana rekonstruksi kawasan Merapi. Warga meminta, pengelolaan dana diberikan kepada pemerintah daerah, agar akses korban letusan Merapi terhadap dana itu lebih mudah.

”Sampai sekarang itu kan yang menangani masih pusat, maka dalam keadaan bencana ini harapan kami, dikasihkan ke pemerintah kabupaten atau provinsi. Biar kami sebagai warga kalau mengurus segala sesuatu lebih dekat dan mudah komunikasinya,” ujar Heri.

Sebanyak 277 orang meninggal dalam bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang lalu. Lebih dari 700 orang dirawat intensif di rumah sakit dan 6000 lebih yang lain mengalami luka-luka sedang dan ringan. Setengah juta orang terpaksa mengungsi karena amukan Merapi yang berlangsung lebih dari sepuluh hari. Kerugian material mencapai 5,4 triliun rupiah, meliputi sektor permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi, dan lintas sektor. Kini, 2.350 keluarga yang kehilangan rumahnya, tinggal di hunian sementara yang tersebar di berbagai titik di kaki Merapi.

XS
SM
MD
LG