Tautan-tautan Akses

Ribuan Pengungsi Merapi akan Berhari Raya di Tempat Hunian Sementara

  • Munarsih Sahana

Anak-anak dan perempuan di tempat hunian sementara Dongkelsari berbuka puasa dengan menu sederhana teh manis dan nasi bungkus, Senin (29/8).

Anak-anak dan perempuan di tempat hunian sementara Dongkelsari berbuka puasa dengan menu sederhana teh manis dan nasi bungkus, Senin (29/8).

Sebanyak 2.682 KK korban letusan Gunung Merapi akhir 2010 lalu, tahun ini beribadah Ramadan dan merayakan Idul Fitri di tempat hunian sementara yang tersebar di 195 unit shelter di wilayah kecamatan Cangkringan dan Ngemplak, kabupaten Sleman Yogyakarta.

Petang itu, puluhan anak-anak di tempat hunian sementara (huntara) Dongkelsari Kecamatan Cangkringan dengan antusias mengikuti pengajian menjelang buka puasa di teras mushola berukuran 6x8 meter-persegi berdindingkan anyaman bambu dan atap seng. Begitu terdengar tanda buka puasa, mereka serta-merta menikmati segelas teh manis hangat dan nasi bungkus dengan lauk sebutir telur ayam dan sayuran.

Zamzuri, 49 tahun, Ketua Takmir mushola Dongkelsari menjelaskan kegiatan ibadah pada bulan Ramadhan di shelter yang dihuni 195 Kepala Keluarga itu relatif sama dibanding ketika mereka tinggal di dusun Gungan, tempat asal mereka yang terletak di bantaran sungai Gendol, 12 kilometer di bawah puncak Merapi.

Para pengungsi, Senin (29/8) melakukan sholat tarawih di musholla di huntara Dongkelsari, Cangkringan.

Para pengungsi, Senin (29/8) melakukan sholat tarawih di musholla di huntara Dongkelsari, Cangkringan.

Yang berbeda dari kondisi sebelum letusan Merapi, menurut Zamzuri, adalah kemampuan warga untuk menyediakan makanan untuk berbuka puasa. Di tempat hunian lama, sumbangan dari masyarakat mencukup untuk takjilan selama 30 hari. "Tapi saat ini di huntara ini, sumbangan dari masyarakat hanya bisa untuk mengadakan takjilan seminggu tiga kali. Dalam satu bulan hanya mampu 12 kali, dan selebihnya kita mengandalkan donator dari luar (wilayah ini)," tutur Zamzuri.

Tarsiyem, 35 tahun, ibu dua anak, mengaku gembira karena belum lama ini ia mendapatkan jatah los untuk berjualan di pasar yang baru saja dibangun tidak jauh dari shelter. Sebelum erupsi, ia seorang penjahit, tetapi mesin dan seluruh peralatan menjahit hancur akibat erupsi. Ia mengatakan, merayakan Lebaran adalah menjalin silaturahmi dengan saudara-saudaranya, tanpa harus mengenakan baju baru.

"Kemarin ada Pasar Murah tapi bajunya pantas pakai, sementara kita (punya baju) pantas pakai dari waktu kita mengungsi di Maguwo(harjo) sudah banyak, jadi masih bisa dimanfaatkan dengan itu," ujar Tarsiyem.

Djoko Kurniawan, Ketua RT 04 tempat hunian Dongkelsari mengatakan ia bersama warga telah merencanakan perayaan Lebaran yang sederhana. “Kita adakan Syawalan kecil-kecilan di musholla ini, terus kita akan silaturahim ke shelter-shelter (lainnya) itu. Mungkin yang muda ke orang yang tua seperti itu. Kalau mengingat dari kondisi kami, barangkali masih membutuhkan dua, tiga sampai empat tahun dan kita masiah akan menghuni seperti ini," ujar Djoko.

Menurut Camat Cangkringan, Samsul Bakri, memang tidak ada bantuan pemerintah yang secara khusus ditujukan untuk perayaan Lebaran warga di shelter. Tapi, pihak pemerintah setempat menjembatani para dermawan untuk memberikan bantuan. Jatah hidup (jadup) sebesar 5.000 rupiah perhari perorang (dari pemerintah pusat) yang seharusnya hanya satu bulan, diperpanjang menjadi dua bulan dan sudah dibagikan pada bulan puasa.

XS
SM
MD
LG