Tautan-tautan Akses

Restoran di Gaza Dikelola Pekerja Tuna Rungu


Seorang pekerja tuna rungu di Restoran Atfaluna, Gaza, menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. (Reuters/Suhaib Salem)

Seorang pekerja tuna rungu di Restoran Atfaluna, Gaza, menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. (Reuters/Suhaib Salem)

Dikelola sepenuhnya oleh pekerja tuna rungu, sebuah restoran di Gaza ingin mendobrak bias dan mengembangkan potensi kelompok difabel.

Sebuah restoran yang dikelola dan memiliki staff orang tuna rungu dibuka di kota Gaza awal minggu ini, dibantu oleh warga Palestina dan bertujuan untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dimana kelompok difabel dapat mewujudkan potensi mereka secara penuh.

Restoran Atfaluna yang bergaya masa kini dekat pelabuhan Gaza tampak menonjol di sebuah kota dengan fasilitas minim untuk kaum difabel. Para pramuwisma dan koki menggunakan bahasa isyarat, sementara para tamu menunjuk pada seleksi menu dan yang muncul adalah bentuk komunikasi spontan yang manajemen harapkan akan mendobrak bias dan batasan.

"Orang tuna rungu memiliki determinasi dan tidak ada kekhawatiran menyangkut komunikasi, masalah bahasa. Pada mulanya kita mungkin perlu penerjemah untuk membantu kita berbicara dengan klien,” ujar pengawas restoran Ayat Imtair pada kantor berita Reuters dalam bahasa isyarat.

Setelah enam bulan pelatihan dengan para staffnya, ia sekarang yakin servis restoran akan berjalan lancar.

“Ini adalah panggilan untuk komunitas, dan kesempatan kerja bagi kelompok tuna rungu untuk membantu mereka berhubungan dengan masyarakat,” ujar Ayat.
Dua puluh tahun lalu, sikap warga Palestina terhadap kelompok tuna rungu adalah negatif, ujar Naeem Kabaja, direktur Masyarakat Atfaluna untuk Anak-anak Tuna Rungu di Gaza, yang mengelola restoran tersebut.

"Banyak yang menganggapnya kecacatan mental. Namun kami telah mampu mengubah persepsi tersebut dan situasi telah berubah, melalui upaya kami, penyebaran bahasa isyarat, aktivitas kelompok tuna rungu sendiri dan peningkatan kesadaran mengenai disabilitas ini,” ujarnya.

Tetap saja, ujar Kabaja, banyak orang yang tuna rungu sendiri cenderung menjauh dari pergaulan masyarakat yang lebih luas, takut menghadapi kendala komunikasi dan tidak berharap orang lain paham mereka.

Staff restoran yang berjumlah 12 orang bersemangat pada hari pembukaan restoran Selasa (16/10) lalu.

"Kami senang. Mungkin akan ada kesulitan pada awalnya namun kami akan bisa mengatasinya. Kami telah dilatih membaca gerak bibir dan hal itu akan membantu kami mencatat pesanan,” ujar koki bernama Niveen, sambil menyiapkan sepiring bola ayam pedas.

Restoran tersebut didirikan dengan bantuan Yayasan Drosos dari Swiss yang mendorong peningkatan penghasilan kelompok tuna rungu di Gaza, di mana tingkat pengangguran mencapai lebih dari 25 persen.

Sekitar 1 persen dari populasi Gaza yang berjumlah 1,6 juta orang mengalami tuna rungu total atau hampir total. Mereka dapat bersekolah sampai kelas sembilan, namun tidak memiliki kesempatan untuk kuliah di universitas di wilayah tersebut, ujar Sharhabeel Al-Zaeem dari Atfaluna.

"Sayangnya, mereka harus keluar dari Gaza untuk kuliah,” ujar Al-Zaeem. "Kami melakukan yang kami bisa untuk membuka kelas bagi kelompok tuna rungu di universitas-universitas. Kami bekerja sama dengan universitas yang berbeda untuk melihat apakah ada kesempatan untuk kuliah bagi orang tuna rungu.” (Reuters/Nidal al-Mughrabi)
XS
SM
MD
LG