Tautan-tautan Akses

Rencana Penggantian Gubernur BI Undang Kekhawatiran


Menteri Keuangan Agus Martowardojo dicalonkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai gubernur Bank Indonesia.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo dicalonkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai gubernur Bank Indonesia.

Rencana penggantian gubernur Bank Indonesia mengundang kekhawatiran bahwa kementerian keuangan akan dijadikan alat politik menjelang pemilu.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan memutuskan Selasa malam (5/3) apakah Menteri Keuangan Agus Martowardojo merupakan calon yang pantas untuk memimpin Bank Indonesia, atau lagi-lagi menolak kandidat yang diajukan presiden tersebut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 Februari secara mengejutkan mencalonkan Agus untuk mengambil alih Bank Indonesia mulai Mei daripada memberi gubernur saat ini Darmin Nasution masa jabatan kedua. Tidak juga ada penjelasan mengapa presiden ingin mengeluarkan Agus dari kabinet dan mengurus kebijakan moneter di Indonesia.

Langkah Presiden ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ia mencari seseorang yang lebih lunak dalam mengelola pundi-pundi negara menjelang pemilihan umum yang akan datang.

Presiden Yudhoyono pernah mencalonkan Agus untuk posisi yang sama pada 2008 namun DPR menolak dengan alasan ia tidak layak – sebuah keputusan yang dilihat sebagai politis dibandingkan keberatan tertentu terhadap Agus.

Beberapa anggota DPR merasa Agus kekurangan keahlian dalam kebijakan moneter dan mempertanyakan hubungannya dengan kasus-kasus korupsi yang telah menghantam Partai Demokrat. Menteri Keuarangan ini telah dimintai keterangan sebagai saksi dalam sebuah skandal besar, namun tidak ada anggapan bahwa ia terlibat.

Agus memimpin kementerian saat pemerintah memperkenalkan beberapa undang-undang, termasuk peraturan kontroversial mengenai ekspor mineral, yang telah mengundang peringatan bahwa pemerintah dapat mendorong investor asing pergi.

Sejauh ini, investasi langsung asing mencapai rekor tinggi dan sebuah faktor besar dalam pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Lahir di Amsterdam 57 tahun lalu, Agus menghabiskan hampir seluruh karirnya dalam industri bank, dengan puncaknya saat mengepalai Bank Mandiri, dan dianggap sebagai pihak yang paling berperan dalam kemajuan bank milik pemerintah tersebut.

Pertanyaannya sekarang adalah, jika ia pindah ke Bank Indonesia, apakah penggantinya di Kementerian Keuangan akan mengizinkan pertimbangan politik mendahului kebijaksanaan fiskal.

“Apakah penggantinya akan sama kredibilitasnya? Ataukah ia akan akomodatif terhadap tekanan politik menjelang pemilu 2014?” ujar Fauzi Ichsan, ekonom senior dari Standard Chartered.

Salah satu tantangan terbesar bagi menteri keuangan berikutnya adalah memotong subsidi bahan bakar minyak yang mencapai 15 persen dari anggaran tahunan dan 54 persen melebihi anggaran tahun lalu, sebuah isu yang hanya dapat diselesaikan secara parsial oleh Agus.

“Kekhawatirannya adalah penggantian yang kurang secara fiskal dapat mengganggu persepsi kestabilan fiskal Indonesia, lebih besar lagi menjelang pemilihan umum,” ujar salah seorang ekonom yang menolak menyebutkan namanya pada kantor berita Reuters.

Ada spekulasi yang mengatakan bahwa Menteri Koordinator bidang perekonomian akan menggantikan Agus jika ia jadi terpilih sebagai gubernur Bank Indonesia.

Agus mengambil alih Kementerian Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati pada 2010, yang tersingkir karena ketidaksukaan elit politik terhadapnya dan sikapnya yang keras terhadap korupsi.
Agus sendiri menyangkal ia dipinggirkan saat ini. Mengenai pencalonannya untuk Bank Indoensia, ia mengatakan akan mengawasi inflasi dan melakukan kerja sama perbankan dengan negara-negara lain.

Dalam perannya sebagai Menteri Keuangan, Agus berani mengambil sikap terhadap investor asing dan domestik. Para analis menunjuk keberaniannya menentang Bakrie Group dalam kasus pembelian saham salah satu tambang emas besar.

Ia juga menentang sebuah proyek untuk mendirikan jembatan yang akan menghubungkan Sumatra dan jawa. (Reuters)
XS
SM
MD
LG