Tautan-tautan Akses

Reaksi Dunia atas Meninggalnya Castro


Seorang pedagang kaki lima menjual salinan surat kabar Metro, harian terkemuka Meksiko yang menampilkan gambar Fidel setelah pengumuman kematian pemimpin revolusioner Kuba Fidel Castro, di Mexico City, Meksiko (26/11).

Seorang pedagang kaki lima menjual salinan surat kabar Metro, harian terkemuka Meksiko yang menampilkan gambar Fidel setelah pengumuman kematian pemimpin revolusioner Kuba Fidel Castro, di Mexico City, Meksiko (26/11).

Dunia bereaksi atas meninggalnya pemimpin Kuba, Fidel Castro, Sabtu (26/11) dengan perayaan di kalangan imigran Kuba di Miami, dan pengutaraan duka-cita dari sebagian pemimpin dunia.

Tidak lama setelah pengumuman pemerintah Kuba mengenai wafatnya Castro, imigran Kuba di Miami, Florida, turun ke jalan-jalan untuk merayakannya. Sebagian berselimutkan bendera Kuba, lainnya menari-nari di jalan-jalan, sebagian kaget bahwa hari ini, yang sudah lama ditunggu-tunggu akhirnya datang.

“Cuba si! Castro no!” teriak orang di jalan-jalan, sementara lainnya berseru “Kuba bebas!”

Eksekutif keuangan yang berusia 40 tahun, Gabriel Morales, yang orang tuanya meninggalkan Kuba puluhan tahun lalu, mengatakan kabar kematian Castro “tampaknya sulit dibayangkan.”

Di Kuba, sebagian orang berduka-cita, sebagian merasa lega, dan mayoritas tidak memperdulikannya. "Warisan Castro adalah satu negara yang runtuh, negara di mana pemuda ingin melarikan diri,” kata Yoani Sanchez melalui Twitter.

Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto mengatakan melalui Twitter, “saya menyayangkan kematian Fidel Castro Ruz, pemimpin revolusi Kuba dan lambang abad ke-20.”

Presiden Perancis Francois Hollande menyebut Castro seorang tokoh besar abad ke-20.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga memuji Castro sebagai lambang dari satu zaman.

Reaksi para pemimpin dunia atas kematian Fidel Castro berupa, antara lain, duka-cita dan kadang-kadang kecaman bagi mantan pemimpin Kuba itu. Tetapi pujian Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau bagi dictator revolusioner dan apa yang dikatakannya “pengabdian dan cinta Castro bagi rakyat Kuba” dengan segera dikecam oleh sebagian politisi Kanada dan Amerika.

“Saya tahu ayah saya sangat bangga menyebut Castro temannya dan saya pernah mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Fidel ketika ayah saya meninggal dunia,” kata perdana menteri Kanada itu.

Trudeau, yang berkunjung ke Kuba sebelumnya bulan ini, mengatakan, “walaupun seorang tokoh yang kontroversial, baik pendukung maupun penentang Castro mengakui pengabdiannya yang besar dan cintanya bagi rakyat Kuba yang mempunyai rasa sayang mendalam dan abadi bagi “El Comandante” atau sang komandan itu,” kata Trudeau.

Kellie Leitch, seorang anggota parlemen Kanada dari Partai Konservatif, mengatakan ucapan Trudeau mengenai Castro kedengarannya “seolah-olah perdana menteri sedang membaca sebuah buku cerita dongeng.”

Leitch mengatakan dalam Facebook, “ketika diberi kesempatan untuk menanggapi rejim Castro sebagaimana adanya, brutal, menindas, dan banyak membunuh, perdana menteri kita sebaliknya memilih mengagung-agungkan Castro yang mengingkari kebebasan yang mendasar bagi rakyatnya selama puluhan tahun.”

Senator Amerika Marco Rubio, seorang keturunan Kuba, kaget oleh pujian Trudeau mengenai Castro, dengan mengatakan “apakah ini pernyataan sungguhan atau sindiran? Karena kalau ini pernyataan sungguhan dari Perdana Menteri Kanada, ini sangat memalukan.”

Pujian Trudeau untuk Castro juga banyak diperolok-olokan dalam media social.

Presiden terpilih Amerika Donald Trump menulis dalam Twitter bahwa Castro “seorang diktator yang brutal yang menindas rakyatnya sendiri selama hampir 60 tahun. Trump mengatakan warisan Castro berupa, antara lain, regu-regu eksekusi tembak, pencurian, penderitaan yang tak terbayangkan, kemiskinan dan pengingkaran hak asasi manusia.”

Mantan Presiden Amerika Jimmy Carter mengatakan ia dan istrinya Rosalynn “senang mengenang pertemuan mereka dengan Castro di Kuba dan cinta Castro kepada negaranya." Dalam pernyataan, Carter mengatakan semoga warga Kuba damai dan makmur dalam tahun-tahun mendatang.

Seorang aktivis politik Kuba Antonio G. Rodilas, mengatakan kepada VOA bahwa ia berpendapat bahwa Castro adalah satu “bayangan” yang akan menghilang “sedikit demi sedikit.” [gp]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG