Tautan-tautan Akses

'Prison and Paradise' dan Pemahaman Jepang Soal Islam Pasca Bom Bali

  • Wella Sherlita

Para pelaku bom Bali, dari kiri: Ali Ghufron, Imam Samudra, dan Amrozi Nurhasyim yang dieksekusi mati pada 9 November 2008 (foto: dok). Film dokumenter “Prison and Paradise” karya Daniel Rudi Haryanto mendokumentasikan wawancara dengan para pelaku utama b

Para pelaku bom Bali, dari kiri: Ali Ghufron, Imam Samudra, dan Amrozi Nurhasyim yang dieksekusi mati pada 9 November 2008 (foto: dok). Film dokumenter “Prison and Paradise” karya Daniel Rudi Haryanto mendokumentasikan wawancara dengan para pelaku utama b

Film dokumenter 'Prison and Paradise' tentang para teroris 'Bom Bali' meraih penghargaan Director of Guild (penyutradaraan terbaik) pada Yamagata International Documentary Festival, November 2011. Pekan lalu film ini diputar di Pusat Kebudayaan Jepang – The Japan Foundation.

Bom Bali 2002 telah mengubah wajah Indonesia secara signifikan, menyisakan perdebatan panjang tentang jihad, isu terorisme, kemanusiaan serta gerakan politik Islam. Sama seperti di Amerika Serikat pasca serangan 11 September 2001, masyarakat Jepang pun dikejutkan dengan peristiwa tragis tersebut. Demikian halnya ketika ledakan bom terjadi di Bali pada 2002, dan sejumlah warga Jepang ikut menjadi korban.

Belakangan, warga Jepang mulai mempelajari Islam dan memandang kejadian terorisme itu dari sudut pandang yang berbeda, melalui sebuah film dokumenter “Prison and Paradise” karya Daniel Rudi Haryanto. Ia mendokumentasikan wawancara dengan para pelaku utama bom Bali; Imam Samudera, Amrozi, Ali Ghufron. Juga wawancara dengan Ali Imron dan Mubarok – yang belakangan insyaf dan dipenjara seumur hidup.

Yang menarik adalah dialog antara sutradara dengan isteri-isteri dan anak-anak yang ditinggalkan. Ada keharuan bercampur kepasrahan di dalamnya.

Direktur Jenderal The Japan Foundation, Tadashi Ogawa mengatakan film ini membuka mata warga Jepang atas tragedi sepuluh tahun lalu itu; terutama motivasi dan “mimpi” dari pelaku teroris, yang sulit dipahami orang-orang di luar Indonesia.

Sutradara 'Prison and Paradise' Daniel Rudi Haryanto (kiri) dan Direktur 'The Japan Foundation' Tadashi Ogawa.

Sutradara 'Prison and Paradise' Daniel Rudi Haryanto (kiri) dan Direktur 'The Japan Foundation' Tadashi Ogawa.

“Haryanto tidak hanya melukiskan teroris hanya sebagai orang yang fanatik, tetapi ia serius mendengarkan suara-suara dari para teroris dan cara berpikir mereka. Ia menunggu dan mendokumentasikan motivasi, moralitas, mimpi, dan emosi mereka. Ini pertamakali saya bisa mendengar suara hati yang sesungguhnya dari teroris. Sutradara film ini juga benar-benar mendampingi keluarga teroris dan keluarga korban, dengan penderitaan dan kesedihan mereka,” kata Tadashi Ogawa.

Kepada VOA, Ogawa memaparkan bahwa pandangan Jepang soal terorisme dan Islam berbeda dengan pandangan Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Citra Islam negatif di Jepang, namun kini orang Jepang berminat mempelajari Islam, kata Ogawa. Ia menilai peran media dalam hal ini sangat besar.

Daniel Rudi Haryanto mengatakan filmnya pertama kali diputar pada sebuah festival film internasional di Dubai, dan pada saat itulah ia bertemu dengan pihak Yamagata Film Festival. Ia punya alasan sendiri, mengapa film itu lebih dulu dibawanya ke Dubai .

“Jihad mata airnya dari Timur Tengah, dibawa melakui buku-buku dan syiar- syiar ke Indonesia . Terjadinya Bom Bali 1 itu adalah tonggak baru setelah WTC. Indonesia terseret dalam ruang global konflik terorisme. Saya ingin mengambil sampling jihad Imam Samudera yang original ini. Aku bawa (film ini) ke Timur Tengah. Ada satu tanggapan dari juri Palestina. Dia bilang, “Aku bawa ya ini film ini ke negaraku karena ini memberi gambaran betapa rekonsiliasi sangat penting untuk proses perdamaian di negaraku,” papar Daniel Rudi Haryanto.

Dalam filmnya, Daniel memang memperlihatkan kedua keluarga pelaku dan korban menjalin hubungan yang baik; antara Titin, isteri Mubarok beserta dua puteri mereka, dengan keluarga Eka Laksmi; yang suaminya ikut menjadi korban bom Bali.

XS
SM
MD
LG