Tautan-tautan Akses

Presiden Jokowi Tutup Kongres Umat Islam Indonesia di Yogyakarta

  • Munarsih Sahana

Presiden Joko Widodo saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 di Yogyakarta, 11 Februari 2015 (Foto: VOA/Munarsih)

Presiden Joko Widodo saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 di Yogyakarta, 11 Februari 2015 (Foto: VOA/Munarsih)

Presiden Joko Widodo mengingatkan kepada umat Islam di Indonesia tentang masih banyaknya tantangan yang dihadapi khususnya kemiskinan.

Presiden Joko Widodo, saat menutup secara resmi kongres Umat Islam Indonesia ke-6 di Yogyakarta, Rabu siang (11/2) mengatakan, ia sering mendapat pujian dari sejumlah kepala negara bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk beragama Islam paling banyak di dunia yang bisa dijadikan role model untuk toleransi.

“Beberapa kali saya bertemu dengan kepala negara dari negara lain selalu disampaikan penghargaan kepada negara kita Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia yang penuh toleransi, saling menghormati dan memahami, bisa dijadikan sebagai role model karena tidak ada ektremisme yang sangat,” kata Presiden Jokowi.

Meski demikian, menurut presiden, Indonesia yang mayoritas penduduknya umat Islam masih dihadapkan dengan banyak tantangan terutama kemiskinan. Menurut presiden jumlah penduduk miskin di Indonesia senyatanya lebih besar dari data statistik yang menyebutkan sebesar 11 persen.

Menurut presiden Jokowi, masalah kemiskinan bisa diselesaikan jika terjadi pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan.

"Dan ini bisa kita selesaikan kalau kita punya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tetapi jangan terjebak pada pertumbuhan ekonominya saja, tetapi yang paling penting adalah pertumbuhan dan pemerataannya,” lanjut Presiden Jokowi.

Pada kesempatan itu presiden Jokowi juga mengajak umat Islam mendukung memerangi penyalahgunaan narkoba yang mengakibatkan korban meninggal rata-rata 18.000 orang per- tahun dan penerapan hukuman mati kepada para pengedar.

Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla hari Senin menghasilkan apa yang disebut "Risalah Yogyakarta" yang berisikan tujuh seruan baik kepada ummat Islam maupun pemerintah. Selain itu terdapat sejumlah keputusan terkait penguatan peran politik, ekonomi serta penguatan peran sosial budaya ummat Islam Indonesia.

Panitia Pengarah Slamet Effendy Yusuf mengatakan, rumusan penguatan ekonomi umat Islam yang diusulkan kongres sama dengan apa yang disampaikan presiden yaitu pengembangan ekonomi yang berkeadilan.

"Kongres Umat Islam ini meminta kepada penyelenggara negara keberpihakan dhuafa dan mustatafin (kelompok masyarakat) yang lemah dan yang dilemahkan. Kemudian kita juga minta agar supaya ekonomi syariah itu lebih dikembangkan baik sector keuangan maupun sektor riil,” kata Slamet Effendy Yusuf.

Penanggung jawab kongres yang juga Ketua MUI Profesor Din Syamsudin mengatakan, kongres umat Islam Indonesia ke-6 diikuti oleh 700 peserta yang merupakan perwakilan seluruh umat Islam di Indonesia.

"Umat Islam diselenggarakan oleh perwakilan melalui organisasi, lembaga yang ada kriterianya. Ormas Islam berskala nasional itusaja ada sekitar 70an yang cabang-cabangnya sudah ada minimal di dua-pertiga seluruh propinsi yang ada. Di dalam KUII yang berjumlah 700an peserta itu sudah mewakili stakeholders yang cukup luas walaupun harus diwakili,” lanjutnya.

Panitia kongres juga mengundang perwakilan partai politik berbasis Islam meskipun tidak semua mengirimkan wakilnya. Tidak hadir dalam kongres adalah kelompok Syiah dan Ahmadiyah.

XS
SM
MD
LG