Tautan-tautan Akses

Pengamat: Ada Gerakan Ingin Hancurkan Modalitas Politik SBY di Aceh


Pengamat masalah Aceh, Otto Syamsuddin Ishak (kedua dari kanan) dalam konferensi pers Imparsial didampingi Al Araf (paling kiri), di Jakarta (7/1).
Pengamat masalah Aceh, Otto Syamsuddin Ishak (kedua dari kanan) dalam konferensi pers Imparsial didampingi Al Araf (paling kiri), di Jakarta (7/1).

Pemerhati masalah Aceh Otto Syamsudin Ishak mengatakan ada gerakan yang ingin menghancurkan modalitas politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di provinsi Aceh.

Pemerhati Masalah Aceh Otto Syamsudin Ishak di Jakarta mengatakan, penghancuran modalitas politik ini dikarenakan SBY menjadi tokoh penting dalam membawa Aceh menuju wilayah yang damai dan kondusif. Menurut Otto, SBY bisa menjadi presiden dengan memperoleh 93 persen lebih suara di provinsi Aceh, salah satunya dikarenakan keberhasilan SBY dalam menyelesaikan konflik di Aceh secara damai.

Otto menyatakan ada pihak tertentu yang ingin mengganggu dan merusak perdamaian di Aceh. Untuk itu dia meminta pemerintah dapat menyelesaikan persoalan ini secara serius dan segera.

Sasaran pelaku terhadap satu etnis tertentu yaitu Jawa juga dilihat Otto memiliki tujuan khusus untuk menciptakan konflik horizontal antar etnis.

Otto Syamsudin Ishak mengatakan, "Pelakunya ini memanfaatkan momentum kekacauan di dalam pelaksanaan pilkada. Jadi tidak ada kaitannya dengan pilkada. Karena korbannya itu bukan partisipan yang mengikuti kompetisi didalam pilkada, bukan dari satu faksi politik. Tetapi terkonsentrasi atau mengarah kepada satu etnis tertentu. Ini adalah penghancuran terhadap modalitas politik SBY yang berada di Aceh. Tetapi ada gerakan yang menghancurkan modalitas SBY."

Direktur Program The Indonesian Human Rights Monitor (imparsial) Al Araf menilai sejumlah kasus kekerasan di negeri Serambi Mekah itu diduga kuat bukan kriminal biasa, tetapi terkait dengan politik.

Menurutrnya memang tidak semua kekerasan yang terjadi di Aceh bermuatan politik. Namun, menurutnya, ketika korban ataupun peristiwa yang terjadi dekat momentum politik, jelas bahwa ada motif politik di belakangnya.

Imparsial meminta pihak kepolisian untuk mengungkap berbagai kasus kekerasan yang terjadi di Aceh dengan segera.

Al Araf mengatakan, "Argumentasi yang memperkuat kekerasan yang bermotif politik adalah kekerasan ini intensitasnya meningkat ditahun 2011. Hal ini menjelang proses pilkada di Aceh. Dari fakta 13 kasus kekerasan tahun 2011 dilakukan oleh orang tidak dikenal yang aparat kepolisian sebagian besar kasusnya tidak bisa mengungkap sampai tuntas."

Sementara itu Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Saud Usman Nasution membantah kalau polisi tidak serius mengungkap pelaku kekerasan di Aceh. Pihaknya kata Saud masih melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.

"Masih dalam penyelidikan. Kita belum menemukan tersangkanya kita belum bisa mengatakan ada motif politik atau yang lain," ujar Saud Usman Nasution.

Baru-baru ini terjadi sejumlah penembakan oleh orang tidak dikenal terhadap pekerja pendatang yang berasal dari Jawa. Akibat penembakan tersebut 5 orang tewas dan sejumlah orang luka parah.

Data kepolisian menyebutkan, sepanjang 2011 terjadi 40 kasus kekerasan di Aceh dan 26 di antaranya telah diungkap dan sebagian besar menggunakan senjata api. Sepanjang tahun 2011 polisi juga telah menyita 44 pucuk senjata, granat pelontar dan hampir 7.000 amunisi di Nanggroe Aceh Darussalam.

XS
SM
MD
LG