Tautan-tautan Akses

Pemerintah Didesak Segera Wujudkan Mekanisasi Pertanian

  • Nurhadi Sucahyo

Petani memanfaatkan traktor tangan untuk mengolah lahan di Sleman, Yogyakarta. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Petani memanfaatkan traktor tangan untuk mengolah lahan di Sleman, Yogyakarta. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Sektor pertanian di Indonesia memperoleh tekanan dari berbagai segi. Selain sulit bersaing dengan produk negara lain seperti Thailand, di dalam negeri kendala tenaga kerja juga menjadi beban tersendiri.

Para petani yang tergabung dalam organisasi “Omah Tani” di Yogyakarta meminta pemerintah secepatnya memberikan bantuan mesin pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir, para petani ini sudah kesulitan mencari tenaga kerja atau buruh tani, khususnya dalam masa-masa penanaman serta panen.

Agus Subagyo, ketua Omah Tani kepada VOA menjelaskan, buruh tani semakin sulit diperoleh karena honor yang diberikan kepada mereka kecil. Tetapi jika harus memberikan honor dalam jumlah cukup, petani tidak mampu karena hasil panen mereka tidak seberapa. Karena itulah, salah satu jalan keluarnya adalah dengan bantuan mesin pertanian, terutama untuk mengolah tanah, menanam bibit dan alat panen.

“Kebutuhan mekanisasi muncul karena tidak ada tenaga kerja. Sekarang, biaya menyewa traktor untuk mengolah lahan seluas satu hektar itu Rp 750 ribu, dan bisa selesai dalam sehari. Lahan satu hektar bisa dimiliki sepuluh orang, karena masing-masing petani hanya punya lahan rata-rata seribu meter, atau mungkin dibawahnya,” ujarnya.


Sekretaris organisasi petani kentang di Wonosobo, Ahmad Hidayat menyerukan hal senada. Mereka tidak mampu lagi mencari tenaga kerja di sektor ini. Akibatnya produk kentang mereka sulit bersaing dengan kentang impor yang lebih murah karena petani di negara lain bekerja menggunakan mesin. Beberapa tahun lalu, pemerintah membuka keran impor kentang untuk menekan harga, tetapi menghancurkan petani lokal. Untuk menghindari kasus yang sama, mekanisasi sektor pertanian tidak dapat ditunda lagi.

“Permintaan mekanisasi pertanian (adalah) untuk menghadapi AFTA, perhatian pemerintah sejauh mana (terhadal masalah ini). Karena tenaga kerja sudah sangat minim, tidak ada dan kalaupun ada, mahal. Kalau tidak ada mekanisasi pertanian, kita akan kalah, tidak usah dengan dunia luar, khususnya untuk tingkat ASEAN saja kita akan kalah jauh,” kata Ahmad.

Sementara itu, Tejo Pramono dari Serikat Petani Indonesia meminta, mekanisasi yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi lahan pertanian yang ada. Mayoritas lahan pertanian di Jawa berukuran kecil, karena itu mesin besar tidak dapat digunakan. Lebih dari itu, jika pemerintah serius membantu petani, perlu juga didorong upaya mekanisasi dengan produksi sendiri. Petani, kata Tejo, dilatih untuk menghasilkan mesin pertanian sederhana, yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lahan setempat.

“Mekanisasi itu berbeda dengan mekanisasi di negara-negara Amerika Utara, Eropa, atau Australia, di mana lahannya ada dalam skala luas. Mungkin yang lebih bisa diterima adalah mekanisasi ala Jepang, karena lahan-lahan di Jepang tidak terlalu luas. Misalnya hand tractor, kemudian alat-alat yang membantu di dunia pertanian dalam ukuran-ukuran yang kecil. Dan yang lebih penting adalah bagaimana memproduksi alat pertanian itu di desa,” tambah Tejo.

Presiden Joko Widodo sendiri telah memberikan bantuan mesin traktor untuk kelompok tani di seluruh Indonesia, beberapa waktu lalu. Namun, para petani di Omah Tani, Yogyakarta, berharap pemerintah juga memberikan pelatihan bagaimana merawat mesin pertanian itu dan ketrampilan teknis memperbaiki kerusakan-kerusakan mesin dalam skala kecil. [dw]

XS
SM
MD
LG