Tautan-tautan Akses

AS

Pembantaian Orlando Picu Kembali Debat Soal Senjata


Aktivis pengekangan senjata berdemonstrasi di depan Gedung Putih (4/1). (Reuters/Carlos Barria)

Aktivis pengekangan senjata berdemonstrasi di depan Gedung Putih (4/1). (Reuters/Carlos Barria)

Presiden Barack Obama ketika menyatakan belasungkawa atas para korban penembakan masal itu, sekali lagi menyerukan diperketatnya peraturan kepemilikan senjata api.

Ketika Omar Saddiqui Mateen memberondong pengunjung sebuah klub malam di Orlando, Florida, hari Minggu dinihari (12/6) dengan peluru dan menewaskan 49 orang, tindakannya itu memicu reaksi yang sudah sangat biasa di Amerika.

Presiden Barack Obama ketika menyatakan belasungkawa atas para korban penembakan masal itu, sekali lagi menyerukan diperketatnya peraturan kepemilikan senjata api.

Mudahnya orang mendapatkan senjata api di Amerika adalah masalah yang sarat dengan muatan politik. Amandemen Kedua Undang-undang Dasar Amerika mengizinkan warga mempunyai senjata dengan syarat-syarat tertentu, tapi kebanyakan warga Amerika berbeda pendapat tentang siapa saja yang boleh memiliki senjata api dan jenis senjata api yang bagaimana.

Banyak warga Amerika percaya bahwa penafsiran tentang hak pemilikan senjata itu berbeda dari ketika UUD Amerika disusun lebih dari 230 tahun lalu.

Kongres Amerika juga terpecah. Partai Republik pada umumnya menghendaki kebebasan memiliki senjata yang lebih luas, dan lebih sedikit pembatasan, seperti yang dikehendaki Partai Demokrat.

Asosiasi Pemilik Senjata Api Amerika, atau National Rifle Association yang punya lobi kuat di Kongres, berusaha mempengaruhi hasil pemilihan umum, dengan memberikan penilaian atas tokoh-tokoh politik. Tokoh yang menentang pembatasan akan mendapat angka lebih baik.

Asosiasi itu mengatakan akan memberikan angka rapor atas calon-calon presiden Amerika setelah mereka dikukuhkan oleh partai masing-masing dalam beberapa bulan mendatang. [isa/ps]

XS
SM
MD
LG