Tautan-tautan Akses

Parlemen Hong Kong Tolak Reformasi Pemilu Dukungan Beijing


Para demonstran di depan gedung Dewan Legislatif Hong Kong (18/6).

Para demonstran di depan gedung Dewan Legislatif Hong Kong (18/6).

Kamp-kamp pemrotes pro-demokrasi meledak kegirangan hari Kamis (18/6) setelah para anggota parlemen oposisi bersatu mengalahkan rancangan itu.

Para anggota parlemen Hong Kong dengan suara mayoritas besar telah menolak paket reformasi pemilihan umum kontroversial yang didukung Beijing, yang telah menimbulkan pertentangan antara kekuatan oposisi dan pro-pemerintah di daerah itu.

Kamp-kamp pemrotes pro-demokrasi meledak kegirangan hari Kamis (18/6) setelah para anggota parlemen oposisi bersatu mengalahkan rancangan itu. Hanya delapan anggota parlemen memberi suara dukungan, sementara 28 menentangnya.

“Kita menggunakan suara kita yang suci untuk menolak usul pemilu universal yang palsu,” kata pemimpin Partai Civic Alan Leong. “Kita membantu rakyat Hong Kong mengirim pesan yang jelas ke Beijing bahwa kita menghendaki pilihan yang sungguh-sungguh.”

Reformasi itu tadinya hendak mengizinkan penduduk Hong Kong untuk pertama kalinya memilih pemimpin tertinggi mereka, tetapi semua calon harus disetujui oleh komite yang pro-Beijing.

China beralasan bahwa usul baru itu lebih demokratis daripada apapun yang ada di bawah kekuasaan kolonial Inggris selama lebih seabad yang berakhir tahun 1997.

Para aktivis pro-demokrasi – banyak dari mereka melancarkan protes besar-besaran menentang rancangan itu tahun lalu – mengatakan proses penyaringan calon yang diusulkan Beijing tidak cukup demokratis dan tidak dengan memadai memenuhi janji untuk mengizinkan hak pilih universal sebelum tahun 2017.

XS
SM
MD
LG