Tautan-tautan Akses

Para Pakar 'Semakin Yakin' Puing Pesawat Berasal dari MH370


Polisi Perancis menggotong potongan pesawat di Saint-Andre, Pulau Reunion (29/7). (AP/Lucas Marie)

Polisi Perancis menggotong potongan pesawat di Saint-Andre, Pulau Reunion (29/7). (AP/Lucas Marie)

Potongan sepanjang 2 meter, bagian pesawat yang disebut flaperon itu, diperkirakan tiba di Toulouse, Perancis, hari Sabtu untuk diselidiki lebih jauh.

Para penyelidik Australia mengatakan mereka semakin yakin bahwa potongan sebuah pesawat yang ditemukan terbawa arus ke pantai di Pulau Reunion adalah bagian dari jet Malaysia Airline bernomor penerbangan MH370 yang hilang Maret 2014 dengan 239 orang di dalamnya.

Martin Dolan, kepala komisioner Biro Keselamatan Transportasi Australia, mengatakan kepada para wartawan Jumat (31/7) bahwa pihak berwenang berharap dapat mengukuhkan asal muasal potongan pesawat itu dalam beberapa jam mendatang.

Potongan sepanjang dua meter, komponen sayap yang disebut flaperon, itu diperkirakan akan tiba di Toulouse, Perancis, hari Sabtu untuk penyelidikan lebih jauh. Potongan itu ditemukan Rabu di sebuah pantai di Pulau Reunion, sebelah timur Madagaskar dan lebih dari 3.500 kilometer dari tempat Boeing 777 itu terakhir terlacak.

Para penyelidik Perancis akan mencoba menentukan apakah jumlah yang ditemukan dalam obyek tersebut sesuai dengan jet Malaysia Airlines yang secara misterius hilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing tahun lalu.

Para pakar mengatakan mereka yakin hasilnya akan positif, berdasarkan bentuk dan lubang-lubang yang menghubungkannya dengan bagian-bagian lain dari pesawat. Dolan mengatakan sejauh ini mereka tidak menemukan kasus kehilangan flaperon dari Boeing 777 selama penerbangan.

Ahli pemulihan maskapai penerbangan Steve Saint Amour mengatakan ia tidak terkejut dengan jarak tersebut. Amour mengatakan arus-arus kuat di tengah Samudera Hindia muncul di pesisir selatan Australia ke utara, dan di sekitar Pelabuhan Hedland di Australia Barat, mereka membelok ke barat melintasi Samudera Hindia dan menghantam Madagaskar.

Ahli penerbangan Perancis Xavier Tytelman telah mengamati foto-foto potongan pesawat tersebut dan mengatakan kepada VOA bahwa ia yakin benda itu berasal dari Boeing 777, jenis pesawat yang digunakan untuk penerbangan MH370.

"Kita hanya menemukan satu yang sesuai, yaitu flaperon dari Boeing 777," ujar Tytleman dalam wawancara lewat telepon. "Tidak hanya bentuknya yang pas, tapi juga lubang-lubang penghubungnya."

Pakar-pakar pencarian dan penyelamatan lain mengatakan makhluk-makhluk laut yang tumbuh di puing pesawat itu akan memberikan kerangka waktu berapa lama komponen pesawat itu telah berada di laut dan terdampar di pantai.

Seorang ahli penyelamatan bawah laut mengatakan ia memperkirakan lebih banyak potongan pesawat lagi akan ditemukan dan bahwa para ahli akan dapat melakukan penghitungan-penghitungan pencarian terbalik untuk mendapat indikasi di mana puing-puing itu mulai berasal.

Potongan pesawat itu mungkin dapat mengklarifikasi nasib MH370, menurut seorang ahli keselamatan penerbangan. Ada "sejumlah kegiatan forensik luar biasa yang dapat dilakukan" dalam mempelajari satu puing tersebut, menurut Wayne Plucker, ahli penerbangan antariksa dari Frost and Sullivan, sebuah perusahaan konsultasi di San Antonio, Texas.

Misalnya saja, menurutnya, para penyelidik pesawat jatuh dapat melihat sudut sobekan bahan logam dan paku-paku untuk menentukan kecepatan dan sudut pesawat sebelum kecelakaan. Bahkan jenis binatang laut yang menempel di potongan pesawat itu dapat mengindikasikan apakah potongan itu lebih banyak terendam di air dingin atau air hangat, yang akan membantu memandu para pencari.

Tidak mustahil potongan dari MH370 mencapai Pulau Reunion dari lokasi yang diyakini merupakan tempat pesawat jatuh, ujar Erik van Sebille, ahli oseanografi di Imperial College London.

Van Sebille, yang mempelajari bagaimana puing-puing dapat melintasi samudera, mengatakan bahwa para penyelidik mungkin dapat menggunakan pola arus samudera dan angin untuk menentukan lokasi kira-kira jatuhnya pesawat.

"Bukan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan karena selama lebih dari 17 bulan, samudera sangat semrawut dan begitu banyak pergolakan," ujar Sebille pada VOA. "Jika kita mulai dari suatu tempat dan melacak mundur ke tempat pesawat mungkin menghantam air, kita akan menemukan daerah yang mungkin berdiameter beberapa ratus kilometer."

Namun proyeksi semacam itu dapat menghabiskan waktu yang lama.

"Komputer mungkin dapat menghitung arus samudera, waktu dan jarak untuk melacak titik asal yang masuk akal, jika mungkin. Tapi ini akan memakan waktu dan pencarian di laut dalam harus dimulai lagi dari awal," menurut laman penerbangan Leeham News and Comment dalam tulisan yang diunggah Rabu.

Pesawat Malaysia Airlines tersebut, yang membawa 239 orang di dalamnya, lepas landas dari Kuala Lumpur pada 8 Maret 2014 menuju Beijing. Ia hilang dari radar lebih dari sejam kemudian di atas Laut China Selatan.

Para penyelidik Malaysia telah mengatakan bahwa mereka yakin seseorang dengan sengaja mematikan alat-alat pelacak pesawat dan membelokkan pesawat tersebut, namun penyelidikan tidak menghasilkan banyak petunjuk.

XS
SM
MD
LG