Tautan-tautan Akses

Obama, Putin Sepakat Dukung Perjanjian di Ukraina


Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama dalam sebuah pertemuan di Moskow, 2013. (Reuters/Grigory Dukor)
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama dalam sebuah pertemuan di Moskow, 2013. (Reuters/Grigory Dukor)

Pemerintah Amerika menyambut kesepakatan yang disahkan parlemen Ukraina, guna mengakhiri gejolak yang sudah berlangsung berbulan-bulan.

Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara melalui telepon Jumat (21/2) mengenai kesepakatan di Ukraina untuk mengakhiri kekerasan.

Pernyataan Gedung Putih mengatakan Presiden Obama mengambil inisiatif untuk menelepon Presiden Putin guna mendiskusikan Ukraina dan sejumlah isu global lainnya.

Sehubungan permasalahan di Ukraina, mereka bertukar pikiran mengenai perlunya menerapkan segera kesepakatan politik yang dicapai di Kyiv, pentingnya stabilisasi situasi ekonomi dan menjalankan reformasi yang diperlukan, dan perlunya semua pihak menjauhi kekerasan.

Sebelum pernyataan Gedung Putih dikeluarkan, seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan Putin memastikan bahwa Rusia tetap ingin menjadi bagian dari proses implementasi dan bahwa kedua pemimpin ini berbicara tentang perlunya menstabilkan ekonomi Ukraina. Mereka sepakat untuk tetap terlibat dengan negara-negara Eropa.

Obama dan pejabat Gedung Putih berusaha menjauh dari persepsi bahwa gejolak di Ukraina merupakan cerminan sebuah Perang Dingin baru antara Rusia dan Amerika.

Presiden Obama berbicara mengenai isu tersebut awal minggu ini di Meksiko menyusul KTT pemimpin-pemimpin Amerika Utara.
"Pendekatan Amerika bukan dengan melihat hal ini sebagai sebuah papan catur Perang Dingin dimana kita berkompetisi dengan Rusia. Tujuan kami adalah memastikan agar rakyat Ukraina dapat mengambil keputusan sendiri untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan Amerika akan memantau secara ketat implementasi butir-butir kesepakatan dan menambahkan bahwa Amerika tidak mengesampingkan kemungkinan dikenakannya sanksi ekonomi terhadap Ukraina jika kekerasan terus berlanjut.

Pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa perjanjian Ukraina “sangat sangat rapuh," dan menambahkan bahwa ke depannya akan menjadi “proses rumit yang sangat sulit, dan memerlukan dukungan dari dunia internasional.”

Pejabat tersebut mengatakan hal ini merupakan sebuah sinyal penting bahwa Presiden Obama dan Presiden Putin mampu berbicara positif tentang pelaksanaan persetujuan itu.

Ukraina, Rusia, Amerika dan Eropa memiliki kepentingannya masing-masing, kata pejabat itu, dan menambahkan tugas yang kini dihadapi adalah melangkah maju dan memastikan stabilnya kembali ekonomi Ukraina yang rapuh.
XS
SM
MD
LG