Tautan-tautan Akses

Misi SAR untuk Rohingya Akan Dimulai Pekan Depan


Migran di atas perahu karet menunggu bantuan dari kapal MOAS (the Migrant Offshore Aid Station)MV Phoenix, 32 kilometer lepas pantai Libya, 3 Agustus 2015 (Foto: dok).

Migran di atas perahu karet menunggu bantuan dari kapal MOAS (the Migrant Offshore Aid Station)MV Phoenix, 32 kilometer lepas pantai Libya, 3 Agustus 2015 (Foto: dok).

Martin Xuereb, Direktur Pusat Bantuan Migran Lepas Pantai (MOAS) mengatakan kepada VOA, Jumat (27/2), para pengungsi dan migran itu tidak sepantasnya meninggal di laut.

Sebuah organisasi yang dinilai berjasa menyelamatkan 13 ribu migran di Laut Tengah mengatakan akan melangsungkan sebuah misi baru di perairan Asia tenggara untuk membantu pengungsi Rohingya yang melarikan diri melalui laut.

Operasi di dan sekitar Laut Andaman itu akan menggunakan sebuah kapal dan dua pesawat nirawak berjarak jelajah jauh untuk mencari perahu-perahu yang mungkin mengangkut pengungsi atau migran.

Martin Xuereb, Direktur Pusat Bantuan Migran Lepas Pantai (MOAS) mengatakan kepada VOA, Jumat (27/2), para pengungsi dan migran itu tidak sepantasnya meninggal di laut. Misi pendahuluan MOAS di kawasan itu, yang berlangsung setidaknya selama empat pekan, akan mulai berlangsung tanggal 3 Maret dengan menggunakan kapal SAR M.Y. Phoenix yang memiliki panjang 40 meter.

MOAS akan berkoordinasi dengan satuan-satuan pengawal pantai dan angkatan-angkatan laut setempat serta organisasi-organisasi non-pemerintah lainnya.

Matthew Smith, Direktur Eksekutif LSM Fortify Rights, yang bekerjasama dengan MOAS, mengatakan, operasi-operasi MOAS mengesankan dan teknologi yang digunakannya terbilang canggih, namun MOAS tidak bisa bekerja sendirian. Sejumlah staf Fortify Rights akan berada di kapal Phoenix mulai pekan depan untuk membantu memonitor migrasi yang tidak biasanya di laut dan memberikan bantuan.

Smith mengatakan kepada VOA, organisasinya tidak yakin berapa banyak orang yang akan mempertaruhkan nyawa dengan menempuh perjalanan laut dalam beberapa pekan atau bulan mendatang. Menurutnya, sindikat-sindikat penyelundup manusia telah menghentikan untuk sementara waktu operasi-operasi mereka, namun situasi HAM Rohingya di Myanmar tidak membaik sehingga organisasinya memperkirakan akan ada lebih banyak warga Rohingya yang melarikan diri.

Organisasi Rohingya Sedunia menyatakan, hingga sebanyak 200 ribu warga Rohingya kemungkinan akan berusaha meninggalkan negara bagian Rakhine, Myanmar, tahun ini. Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan, 170 ribu warga Rohingya dan lainnya melarikan diri dari Myanmar dan Bangladesh melalui laut sejak 2012, umumnyabertujuan ke Thailand atau Malaysia. [ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG