Tautan-tautan Akses

Menteri Kehutanan Bantah Perluasan Wasior Sebabkan Banjir

  • Wella Sherlita

Penduduk menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir bandang di Wasior, Papua Barat.

Penduduk menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir bandang di Wasior, Papua Barat.

Menhut Zulkifli Hasan mengatakan banjir bandang terjadi akibat hujan terus-menerus, ditambah dengan debit air yang luar biasa, dari sumbatan palung sungai.

Dalam penjelasannya di kantor Kementerian Kehutanan, (Selasa) Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, mengatakan penyebab banjir bandang di Wasior, Papua Barat, bukan karena penebangan liar, melainkan hujan deras selama empat hari. Selain itu ada kenaikan debit air yang luar biasa. Debit air itu berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Mianggrai, yang tersumbat kayu, tanah, dan pasir.

“Diduga debit air banjir adalah jumlah air banjir normal ditambah akumulasi limpasan yang tertahan sumbatan palung sungai seperti yang terjadi di Jember dulu. Waktu hujan biasa tidak masalah, tapi begitu hujan deras ini (palung sungai) jebol, sehinga terjadilah banjir bandang. DAS Mianggrai tidak termasuk kawasan HPH, ada illegal logging tapi tidak di wilayah ini,” kata Zulkifli Hasan.

Kegiatan penebangan liar di sekitar kota Wasior, Teluk Wondama, memang diakui oleh Zulkifli Hasan. Tetapi, ia menegaskan tindakan itu tidak berpengaruh pada tangkapan air. Penebangan itu dilakukan dalam rangka perluasan kota Wasior untuk daerah pemukiman, namun itu pun menurutnya bukan penyebab terjadinya banjir bandang.

“Di sini dulu memang nelayan mampir, mereka menebang (kayu), menaman pisang, dari sini kayu mereka. Hutan tanaman produksi terbatas, (sebenarnya) tidak boleh menjadi kota. Tetapi bukan ini juga penyebab banjir bandang,” jelas Zulkifli Hasan.

Rumah-rumah yang terendam lumpur akibat banjir di Wasior.

Rumah-rumah yang terendam lumpur akibat banjir di Wasior.

Zulkifli Hasan sebelumnya mengakui masih ada perusahaan HPH yang aktif di sekitar Wasior, yaitu PT. Darma Mukti Persada dan PT. Wapoga Mutiara Timber.

Koordinator Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, menduga bantahan Menteri Kehutanan in terkait dengan ucapan Presiden Yudhoyono Senin lalu, bahwa banjir bandang di Wasior akibat kondisi topografi dan cuaca ekstrim.

“Presiden terlalu buru-buru menyatakan tidak ada penebangan. Jelas terlihat dari potret udara, helikopter atau citra satelit, memang tutupan hutan Wasior lumayan baik. Tetapi kalau ditelusuri ke bawah, jejak-jejak penebangan bisa dilihat. Wasior juga punya kelabilan tanah, sehingga satu dua pohon ditebang bisa menyebabkan keruntuhan tanah dan mengakibatkan longsor,” ungkap Chalid Muhammad.

Kedatangan Presiden ke Wasior sepekan setelah banjir terjadi, menurut penilaian Chalid adalah bentuk lambannya birokrasi dan informasi dari lapangan ke pusat. Di samping itu, mantan Direktur eksekutif WALHI ini juga mengkhawatirkan kedatangan Presiden yang terlambat akan menghilangkan bukti penebangan liar.

“Itu agak sulit dibantah karena ada foto-foto yang kami miliki, dari media, ada gambar potongan-potongan kayu yang hanyut dan terpotong rapi, apakah itu bukan bukti ada kegiatan penebangan? “ kata Chalid.

Menurut rencana, Presiden Yudhoyono dan rombongan akan berangkat ke Papua Barat pada Rabu pagi, dan menuju Wasior dengan kapal perang milik TNI Angkatan Laut. Presiden akan berada di lokasi itu selama dua hari.

XS
SM
MD
LG