Tautan-tautan Akses

McDonald’s Dituntut karena Masukkan Mainan dalam Menu Anak-Anak

  • Steve Baragona
  • Wita Sholhead

Menu "Happy Meal" yang disajikan McDonalds yang memikat anak-anak dengan berbagai jenis mainan.

Menu "Happy Meal" yang disajikan McDonalds yang memikat anak-anak dengan berbagai jenis mainan.

Sebuah kelompok pengamat gizi di Washington, DC berpendapat, menggunakan mainan untuk memikat anak-anak melanggar hukum.

Pusat Sains bagi Kepentingan Umum (CSPI), kelompok pengamat gizi yang berkantor pusat di Washington, DC, menuntut jaringan restauran siap saji McDonald’s karena memasukkan mainan dalam menu anak-anak. CSPI berpendapat, menggunakan mainan untuk memikat anak-anak melanggar hukum.

Tuntutan itu diajukan di tengah maraknya laporan mengenai bertambahnya tingkat kegemukan di seluruh dunia, dan memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab perusahaan makanan dan peran orang tua.

Pihak McDonald’s menyebutnya “Happy Meal”, yaitu menu yang terdiri dari hamburger atau nugget daging ayam, kentang goreng, dan soda. Menurut CSPI makanan itu mengandung jumlah kalori, lemak, gula, dan garam yang tidak sehat bagi anak-anak.

Gelas bergambar Shrek yang dijadikan daya tarik bagi anak-anak oleh McDonalds.

Gelas bergambar Shrek yang dijadikan daya tarik bagi anak-anak oleh McDonalds.

Tetapi itu bukan alasan CSPI menuntut. Kasusnya adalah sehubungan mainan plastik yang ada dalam setiap paket Happy Meal. Iklan paket makanan yang menonjolkan tokoh-tokoh dari film “Shrek” menjadi perhatian Monet Parham, pendidik kesehatan di negara bagian California.

Seorang anak perempuan Parham yang berusia enam tahun, menurut Parham sering mengiba-iba kepadanya agar dapat mengumpulkan semua mainan itu.
“Saya jelaskan kepadanya bahwa mainan dalam paket makanan itu berganti setiap minggu, dan ia tentu saja menanyakan “jadi bolehkah saya mendapat Happy Meals setiap minggu?,” kata Parham.

Parham menjawab tidak, karena menurutnya makanan siap saji itu tidak sehat dan ia hanya sekali-sekali pergi ke McDonald’s. Tetapi seperti yang biasa dialami orang tua lainnya, putrinya terus merengek.

Direktur Eksekutif CSPI Michael Jacobson mengatakan McDonald’s sengaja menjadikan anak-anak sasaran penjualan makanannya karena perusahaan itu sangat paham mengenai pengaruh anak terhadap orang tuanya. Ia mengatakan anak-anak tidak tahu ketika seseorang berusaha menjual sesuatu kepada mereka. “Itu melanggar hukum”, ujarnya.

Dengan dukungan kelompok itu Parham menuntut McDonald’s berdasarkan undang-undang perlindungan konsumen.
Parham menambahkan, “Sebagai orang tua, saya ingin bisa membuat pilihan makanan untuk anak-anak saya tanpa bujukan yang datang dalam bentuk mainan. Saya ingin McDonald’s bertanggung jawab dan berhenti melibatkan mainan dalam makanan anak-anak yang mereka jual.”

Tetapi memaksa McDonald’s berhenti memberi mainan bukan jawaban untuk menghentikan rengekan anak-anak, ujar Patrick Basham, direktur Lembaga Demokrasi, pusat riset kebijakan di Washington, DC.
Basham mengatakan, “Pemecahannya terletak pada cara orang tua mendisiplin dan mendidik anak-anak mereka, bukan pemerintah atau sistem hukum yang memutuskan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan anak-anak atau apa yang dapat diperlihatkan atau tidak kepada mereka.”

Dalam tanggapannya McDonald’s mengatakan “orang tua paham dan menghargai bahwa Happy Meals adalah suguhan yang menyenangkan, dengan pilihan makanan yang porsinya tepat bagi anak-anak yang cocok bagi diet berimbang.”

Perusahaan makanan itu mengatakan bangga dengan Happy Meal-nya dan bertekad untuk terus mempertahankan nama, reputasi dan makanannya.


XS
SM
MD
LG